BAB V TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN


 

5.1.          Fungsi Permintaan

Pengertian permintaan dalam kaca mata ilmu ekonomi bukanlah pengertian yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu secara absolut diartikan sebagai jumlah barang yang dibutuhkan, melainkan bahwa permintaan, baru mempunyai arti apabila didukung oleh tenaga beli, permintaan yang didukung oleh tenaga beli ini disebut dengan permintaan yang efektif, sedangkan permintaan yang hanya atas kebutuhan / keinginan saja tanpa didukung oleh tenaga beli, ini disebut sebagai permintaan absolut atau potensial.

Tenaga beli seseorang tergantung atas dua unsur pokok yaitu pendapatan yang dapat dibelanjakan dan harga barang yang dikehendaki.

Apabila jumlah pendapatan yang dapat dibelanjakan seseorang berubah, maka jumlah barang yang diminta/dibeli juga akan berubah, demikian pula halnya dengan harga barang yang diminta, jika juga berubah.

Secara matematis pengaruh perubahan pendapatan dan harga bersama sama terhadap jumlah barang yang diminta dapat diketahui secara serentak, tetapi tidak demikian halnya dengan metode grafis yang pada dasarnya hanya mampu menjelaskan antara dua besaran.

Afred Marshal dalam membahas permintaan dia menggunakan anggapan bahwa pendapatan tetap, dengan demikian berusaha mencari pengaruh harga terhadap jumlah barang yang diminta, dalam pola pikiran ini yang dimaksud dengan permintaan adalah berbagai jumlah barang yang diminta pada berbagai tingkat harga.

Secara matematis ditulis :

Qd = f (Px).

disamping itu faktor lain yang juga dapat mempengaruhi permintaan barang yaitu, harga barang lain; selera; dan jumlah pembeli dan lain-lain, yang menurut Leon Walras, dapat dirumuskan secara matematis dalam bentuk suatu fungsi yang disebut dengan fungsi permintaan seperti :

 

Xd = F ( Px1, Px2, ………, Pxn, Y, E).

dimana :

Xd  adalah jumlah barang x yang diminta;

Px1 adalah harga barang x tersebut;

Px2 adalah Pxn adalah harga barang lain;

   Y adalah pendapatan;

   E adalah selera dan faktor lainnya.

 

5.2.      Metoda Pendekatan

Salah satu fokus utama yang dibahas dalam ekonomi mikro adalah membahas tingkah laku konsumen, untuk ini ada beberapa pendekatan yang digunakan :

 

5.2.1.     Pendekatan Tradisional

Pendekatan ini bertitik tolak kepada konsep utilitas, dimana setiap barang mempunyai daya guna atau utilitas, oleh itu karena barang tersebut pasti mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. Jadi bila orang menentukan suatu jenis barang, pada dasarnya yang diminta adalah daya guna barang tersebut.

Pendekatan ini berasumsi bahwa utilitas / daya guna dapat diukur secara absolut, sehingga dapat dirumuskan hubungan antara jumlah daya guna dengan barang yang dikonsumsi dalam bentuk fungsi :

U = F ( X1, X2, …….. Xn) … atau

U = U ( X1) + U (X2) + U (X3) + ……… + U (Xn).

dimana :

U adalah banyaknya daya guna bagi konsumen.

X adalah banyaknya barang tertentu yang dikonsumsi oleh konsumen.

Problem yang timbul dalam pendekatan ini adalah dalam bentuk perumusan yang tertentu banyak menimbulkan masalah, akhirnya pendekatan tradisional ini dipecah menjadi dua pendekatan, yaitu :

 

1)     Pendekatan Teori Utilitas Kardinal

Teori ini menganggap bahwa besarnya daya guna (utilitas) yang diterima seorang konsumen sebagai akibat dari tindakan mengkonsumsi barang tersebut, dapat diukur yang tinggi rendahnya tergantung kepada subjek yang memberikan nilai/penilaian, pendekatan ini sering disebut dengan pendekatan Marginal Utility.

2)     Pendekatan Teori Utilitas Ordinal

Teori ini beranggapan bahwa besarnya daya guna / utilitas tidak diketahui secara absolut oleh konsumen, bagi seorang konsumen cukup dengan kemampuan untuk membuat urutan-urutan kombinasi barang yang dikonsumsinya berdasarkan besarnya daya guna yang diterimanya, pendekatan ini sering juga disebut dengan pendekatan Indifferent cerve.

 

5.2.2.     Pendekatan Teori Utilitas Kardinal

Aliran ini beranggapan bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang tergantung dari subjek yang memberikan penilaian dan sikonsumen memiliki sejumlah pendapatan yang siap untuk dibelanjakan, persoalan pokok dalam hal ini adalah bagaimana cara membelanjakan pendapatan sebaik-baiknya atau memaksimumkan daya guna yang dapat diperoleh.

Asumsi yang dipakai dalam pendekatan ini adalah :

  1. Daya guna/utilitas tersebut dapat diukur;
  2. Konsumen bersifat rasional;
  3. Tujuan konsumen adalah memaksimumkan utilitas;
  4. Laju pertambahan daya guna / utilitas semakin lama semakin rendah dengan semakin banyaknya barang tersebut dikonsumsi oleh konsumen, ini dikenal sebagai Hukum Pertambahan Utilitas yang semakin menurun
    (The Law of Diminishing marginal Utility);
  5. Konsumen memiliki sejumlah pendapatan tertentu.

Maka perilaku konsumen dalam membelanjakan uangnya baru dapat dimengerti, apabila setelah diarahkan kepada pencapaian daya guan / utilitas / kepuasan yang maksimum.

Secara grafik hubungan antara laju pertambahan daya guna yang semakin lama semakin rendah dengan semakin banyaknya mengkonsumsi barang, dapat dibuat sebagai berikut :

 

            Gambar . 5 . 1.                                                               Gambar . 5 . 2 .

        Kurva Total Utilitas                                                    Kurva Marginal Utilitas.

 

 

TU
D
B
C
ΔU

       = (+) Bagus

ΔS       (-) Diminising

A
MU
TU

 

 

Q
O
2d
2c
2b
2a
MU
Q
O

 

 

 

Keterangan :

Gambar . 5 . 1. tersebut menggambarkan hubungan antara besarnya daya guna dengan banyaknya barang yang telah dikonsumsikan, kurva tersebut dimulai dari titik asal, sampai pada titik Qm, lereng kurva TU adalah positif, artinya akan selalu ada penambahan daya guna dari suatu barang setiap kali konsumsi akan menambah TU, tetapi jumlah Qm sudah dilewati dan penambahan jumlah Q diteruskan, jumlah daya guna justru lebih rendah dari jumlah sebelumnya, ini dapat dilihat dari lereng kurva TU yang negatif, artinya penambahan konsumsi barang Q akan memberikan penambahan daya guna yang semakin kecil.

Titik Qm atau C mencerminkan jumlah barang Q yang memberikan titik kepuasan yang maksimal, pada titik C tersebut Marginal utilitas (penambahan daya guna / daya guna marginal) adalah nol dan pada titik D, maka menjadi negatif.

 

Gambar . 5 . 2. memperlihatkan kurva marginal utility, yang menurun dari kiri atas kekanan bawah, disebabkan hukum marginal yang semakin mengecil, yang pada akhirnya, mencapai nol bahkan negatif, atau memotong sumbu datar.

 

Dengan asumsi ini, akan digunakan untuk menggambarkan perilaku konsumen secara lebih riil, kesulitan bagi pendekatan ini adalah daya guna/ utilitas mengandung pengertian subjektif, sehingga sukar mengukur besarnya daya guna tersebut.

Untuk itu diperlukan asumsi lain bahwa daya guna dapat diukur dalam satuan uang, yaitu sejumlah uang yang bersedia dibayar konsumen untuk mendapatkan satu satuan barang, asumsi selanjutnya adalah jumlah tersebut adalah tetap.

Seorang konsumen akan datang ke pasar dan mengajukan permintaan apabila ia sudah berada dalam keseimbangan , artinya bila uang yang dibelanjakannya telah dialokasikan kepada pembelian barang yang dapat memberikan daya guna total yang maksimum.

Jadi permintaan konsumen terhadap suatu jenis barang pada hakekatnya mencerminkan posisi keseimbangan konsumen dan jumlah anggaran belanja yang tersedia.

Oleh karena salah satu kelemahan pokok dari teori ini adalah sukarnya mengukur daya guna barang bagi seorang konsumen, maka lahirlah teori pendekatan ordinal.

 

5. 2.1.2. Pendekatan Teori Utilitas Ordinal

Menurut pendekatan ini bahwa konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna / utilitas yang dia peroleh dari mengkonsumsi sekelompok barang, misalnya 2 jenis barang X dan Y, oleh karena pendapatan terbatas, konsumen harus menentukan kombinasi antara barang X dan Y dengan kemungkinan kombinasi yang banyak sekali , kemudian dia harus memilih kombinasi mana yang dapat memberikan daya guna /kepuasan tertinggi baginya berdasarkan anggaran belanja yang tersedia.

Asumsi yang dipakai dalam pendekatan ini adalah bahwa :

a)     Setiap konsumen bertindak rasional;

b)     Dengan dana dan harga pasar tertentu konsumen dianggap selalu akan memilih kombinasi yang memberikan  kepuasan utilitas / daya guna yang maksimal;

c)     Konsumen dianggap mempunyai informasi yang sempurna atas uang yang tersedia baginya maupun harga barang di pasar.

d)     Konsumen dianggap juga mempunyai skala preferensi yang disusun atas dasar urutan besar kecilnya daya guna bukan secara absolut, tetapi mampu menentukan hubungan dua kombinasi yang lebih baik.

Seperti, kombinasi barang X dan Y, ada 3 kemungkinan kombinasi, yaitu A = (Ya,Xa) dan  B = (Yb,Xb),maka kombinasi tersebut dapat berupa apakah A lebih disukai dari B atau sebaliknya ataukah acuh atas indifferent terhadap A dan B; ringkasnya A>B; A<B atau A=B, terhadap pilihan tersebut konsumen bersifat eksklusif artinya sekali konsumen menentukan pilihan bahwa A>B (A lebih baik B), maka suatu saat tertentu diharapkan dia tidak menganggap B>A atau B=A pada saat yang lain, disamping itu yang dipilih sesungguhnya apakah A atau B tergantung pada jumlah Uang yang tersedia untuk dibelanjakan.

 

Kurva Indiferensi

Kurva Indiferensi, yaitu kurva yang menggambarkan berbagai kemungkinan kombinasi barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama. Kurva ini dipergunakan sebagai salah satu alat analisa/ pendekatan dalam memahami tingkah laku konsumen.

Terbentuknya kurva ini dimana semua kombinasi barang-barang tersebut yang terletak dalam suatu ruang yang disebut dengan Commodity space (ruang komodity/barang), artinya setiap titik yang terdapat dalam bidang /ruang tersebut mewakili dari setiap kombinasi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, bila titik yang memberikan tingkat kepuasan yang sama tersebut dihubungkan, maka akan diperoleh kurva Indiferensi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ruang komodity ini penuh dengan kurva –kurva indiferensi yang disebut dengan Indiference Map, seperti tergambar pada gambar.5.3.

Gambar .5.3.

Kurva Indiferensi dan Indiference Map

Qy

 

 

 

U3
U2
U1
Qx
O
U3
U2
U1
Qx
O
Qy

 

Keterangan  :

Kurva U adalah kurva indiferen, yaitu kurva yang terbentuk dari pada hubungan antara kombinasi daripada titik kombinasi barang Y dan X yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, sedangkan gabungan / kumpulan daripada kurva indiferensi tersebut (U1,U2,U3 dst) merupakan Indiference Map.

 

Sifat –sifat Kurva Indiferen

  1. Menurun dari kiri atas ke kanan bawah, ini memperlihatkan yang preferensi antara dua barang dari pilihan konsumen;
  2. Semakin jauh dari titik asal/origin, semakin tinggi tingkat kepuasan /dayaguna/utilitas daripada kombinasi barang tersebut;
  3. Cembung dari titik asal, sebagai akibat dari hokum MRSxy;
  4. Kurva Indeferensi tidak bergeser / berpindah sebagai suatu akibat dari perobahan harga atau pendapatan;
  5. Tidak pernah berpotongan satu sama lain, seperti diperlihatkan gambar .5.4.

 

Gambar .5.4.

Hubungan antara kurva Indiferen.

Qx

 

 

C
A

 

B
Qy
O

 

 

 

Keterangan :

Pada gb.5.4 tersebut terdapat 2 buah kurva indiferen, yaitu IC 1 dan IC 2 yang berpotongan pada titik A, sesuai dengan sifat dan pengertian dari pada kurva indiferen, maka pada IC 1, titik A memiliki tingkat kepuasan yang sama dengan titik B, sedangkan pada IC 2, titik A memiliki tingkat kepuasan yang dengan titik C, tetapi tingkat kepuasan pada titik B tidak sama dengan titik C, maka berarti kurva indiferen tidak mungkin berpotongan satu sama lainnya.

 

 

Garis anggaran (The Budget Line)

Kurva indiferen menunjukkan keinginan konsumen jika ia diminta untuk memilih kombinasi antara dua barang, namun kemampuan konsumen untuk mendapatkan kombinasi-kombinasi itu akan tergantung dari harga barang tersebut dan penghasilannya.

Dalam jangka pendek kedua faktor tersebut merupakan sebuah garis yang disebut garis budget atau garis kemungkinan konsumsi  (the budget line). Artinya seluruh kombinasi barang yang dapat dibeli oleh tingkat pendapatan dan tingkat harga tertentu dengan kata lain bahwa Garis Anggaran / garis harga memperlihatkan pilihan-pilihan barang konsumer yang tersedia bagi konsumen.

Slope /kemiringan dari garis anggaran ini adalah merupakan perbandingan harga / harga relatif dari kedua barang X dan barang Y atau Px/Py, dan bentuk kurva tersebut adalah seperti gambar .5.5.

Gambar 5.5.

Kurva Budget Line.

 

P
A

 

 

 

 

B
Q
O

 

 

 

Keseimbangan Konsumen

Pembahasan tentang keseimbangan konsumen berkisar pada penggabungan tentang kemauan dan kemampuan konsumen dengan tujuan usaha memaksimumkan daya guna /utilitas.

Setiap konsumen dianggap menghadapi berbagai kemungkinan kombinasi barang yang akan dikombinasinya, masing-masing kombinasi tersebut memberikan kepadanya sejumlah daya guna yang berbeda-beda, kombinasi barang yang mampu memberikan tingkat daya guna /kepuasan yang tertinggi akan dipilih dan tidak akan dirobahnya lagi, maka saat itu konsumen berada dalam keseimbangan.

Berarti keseimbangan konsumen akan muncul apabila seorang konsumer telah membelanjakan seluruh pendapatan sama dengan pertambahan daya guna /utilitas per rupiah dari masing-masing barang, atau MUx/Px = MUy/Py

 

5.2.2. Pendekatan Modern

Perkembangan selanjutnya dari teori perilaku konsumen, terutama untuk menjelaskan terjadinya kedudukan keseimbangan konsumen adalah pendekatan secara modern, pendekatan ini ada dua cara, yaitu :

 

5.2.2.1. Pendekatan Matematis

Penyusunan kurva permintaan dengan menggunakan pendekatan matematis biasanya menggunakan metode penggandaan larange  (Multiple Larange) dengan 4 (empat) tahap perumusan :

a). Perumusan tujuan, yang ditulis dalam bentuk fungsi;

b). Perumusan kendala, yang ditulis dalam bentuk fungsi;

c). Perumusan fungsi majemuk, yaitu gabungan dari a dan b.

d). Operasi matematis untuk mencari titik optimum.

Contoh.

 

A. Kasus Satu Jenis Barang.

Secara matematis turunan pertama terhadap fungsi permintaan   dari barang X dengan harga Px , maka pengeluarannya adalah Px kali X, untuk mendapatkan total daya guna yang maksimum dari barang X dapat ditulis dalam bentuk D (x) seperti :

U=F (X) menjadi      D(X) = U(X) – Px . x

Untuk memaksimumkan fungsi D tersebut, maka syarat yang perlu adalah turunan pertama dari D(X) sama dengan nol atau D(X) akan ada pada titik maksimum bila lereng D(x) =0 dengan cara sebagai berikut :

Bentuk turunan pertama dari fungsi sama dengan nol, maka :

 

 

dD(X)              d(Px.X)

dD(x) =       ———–     -   ————— = 0

                        dX                    dX

 

 

dD(X)                 d(Px.X)

———–     -   ————— = 0

                       dX                       dX

 

dD(X)                 d(Px.X)

———–     -   ————— = 0

                        dX                      dX

 

maka :                                       MU x

            MUx    = Px.    Atau     ——– = 1     

                                                                Px

 

Artinya, keseimbangan konsumen dapat dicapai apabila daya guna marginalnya (penambahan daya guna) sama dengan harga barang tersebut atau ratio perbandingan antara Marginal Utilitas dengan harga barang tersebut sama dengan satu.

 

B. Untuk Kasus Dua Jenis Barang

Dalam kasus dua macam barang, maka permintaan konsumen untuk masing-masing barang adalah :

Maksimum : U = U(Y) + U(Y) atau U = F(X,Y)

Dimana :

U                  adalah jumlah daya guna total;

U(X)             adalah jumlah daya guna dari barang X;

U(Y)             adalah dayaguna dari barang Y.

Budget line (Anggaran belanja) untuk barang X yang harganya Px, dan untuk barang Y dengan harga Py adalah Px.X + Py.Y =M Tujuan konsumen adalah memaksimalkan total daya guna dan pengeluaran untuk kedua barang X danY, untuk maksud  tersebut dengan bantuan metode Larange Multiplier, persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

           L = U [U(X + U(Y)] – (Px.X + Py.Y – M)

Bentuk turunan pertama dari persamaan / fungsi tersebut adalah ;

 

 

dL        dU                                              dU

—- =   —– -  Px = 0                      X = ——-/ Px

dX       dX                                              dX

 

 

 

 dL       dU                                               dU

—- =   —– -  Py = 0                      Y = ——- / Py

 dy       dy                                                dy

 

dimana dU / dX adalah MUx, sedangkan dU / dY adalah MUy, maka

MUx      MUy              MUx        Px                           

—-   =   —– -   atau     —-   =   —– -                                 

  Px          Py                MUy        Py

 

 

MUx

MUy

=

adalah slope dari kurva indifiren atau disebut juga Marginal rate of Subtitution x for y (MRSx.y), artinya berapa jumlah barang X harus dikorbankan untuk mendapatkan sejumlah barang Y atau sebaliknya agar tingkat kepuasan tetap dapat dipertahankan.

Px

Py

 

=

Dengan kata lain MRS x.y adalah tingkat marginal dari subtitusi antara kedua barang tersebut, dimana apabila seorang konsumen menambah salah satu barang (X), maka dia akan mengurangi barang lain (Y) agar tetap berada pada tingkat kepuasan yang sama.

                    adalah slope dari kurva budget line  (garis anggaran belanja)

 

Sehingga dalam kasus ini dapat diketahui bahwa seorang konsumen akan berada dalam keseimbangan apabila Mux / MUy = Px / Py yang merupakan marginal utilitas /  daya guna marginal sama dengan ratio harga dari kedua barang tersebut.

Atau slope kurva indiferen sama dengan slope kurva budget line, artinya keseimbangan konsumen akan diperoleh pada saat terjadinya titik singgung antara kedua kurva tersebut.

Ringkasnya, tingkat keseimbangan konsumen akan tercapai pada saat MUx /MUy =Px / Py  atau MUx / Px= MUy / Py, artinya konsumen berusaha mencari kombinasi barang, dimana setiap rupiah yang akan  dibelanjakan untuk barang X akan menghasilkan tambahan daya guna yang sama dengan tambahan daya guna yang dapat diperoleh bila satu rupiah tersebut digunakan untuk Y.

Bila MUx / Px, artinya konsumen akan membeli lebih banyak barang X dengan mengurangi pembelian barang Y, karena sifatnya, maka penambahan barang X akan menurunkan Mux, sedangkan pengurangan konsumsi Y akan menaikkan MUy, proses ini akan terus berlanjut sampai akhirnya MUx / Px =MUy / Py, dan sebalik.

Atas dasar anggaran dan harga tertentu, persamaan tersebut mencerminkan kombinasi barang X dan Y yang terbaik bagi konsumen dalam arti memberikan daya guna / kepuasan yang terbanyak.

 

C. Untuk Kasus Banyak Barang

Bila barang yang dihadapi oleh seseorang konsumen lebih dari dua jenis / macam, maka rumusan tersebut diatas dapat ditulis :

 

  MUx                  MUy            MUz                      MUn

  —–   =          = ——   =       ——    = ……..= ——-

    Px                     Py                 Pz                         Pn

 

5.2.2.2. Pendekatan Matematis Dan Geometris

Pendekatan ini menggunakan kenaikan dari ruang komoditi yang mana pada sumbu absis dan ordinat merupakan ukuran jumlah barang yang mungkin dikombinasikan seperti pada indeferensi dalam ruang komodity.

U1 (I1) <U2 (I2) <U3 (I3) dst.

Bila fungsi diatas digambarkan, maka akan diperoleh kurva Indeferen dan indeferen map, seperti pada gambar.5.6.

 

Gambar. 5.6.

Kurva Indeferensi Map

 

Y

 

 

 

U4

 

U3
U2
U1
X
O

 

 

 

 

Keterangan :

 

Pada gambar .5.6. terlihat beberapa kurva indiferen yang masing-masing mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda, dimana semakin  jauh dari titik asal / origin, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dapat di berikan oleh kombinasi kedua barang X dan Y.

Kesemua kurva itu merupakan himpunan kurva-kurva indeferen yang disebut dengan indeferen map.

Bila konsumen bersifat rasional , maka tentu dia akan memilih berbagai kombinasi yang terletak pada I3, karena kombinasi tersebut akan menghasilkan tingkat utilitas / daya guna yang tinggi.

 

Hal ini merupakan tujuan setiap konsumen, tetapi untuk mencapai tujuan konsumen tersebut dibatasi oleh kemampuan yang terbatas, yaitu budget yang dimiliki untuk membeli kombinasi barang tersebut.

Besarnya budget tergantung dari jumlah dan harga barang yang akan dibeli oleh budget tersebut, seperti dapat dirumuskan  :

M = Px . X + Py . Y

 

Dimana :

            M  adalah budget (anggaran belanja) konsumen;

            Px  adalah harga barang X;

            Py  adalah harga barang Y;

            X dan Y adalah jumlah barang X dan Y yang dikonsumsi.

 

Pada saat tertentu besarnya budget adalah tertentu pula, kurva penghasilan konsumen dalam waktu pendek tidak dapat dirobah, maka jumlah permintaan terhadap masing-masing barang jika dirumuskan jumlah permintaan terhadap barang ditiadakan menjadi :

 

  M                Px                                      M            Py 

Y =   ——- -         ———  X     atau       X= ——-  -  ——– Y

 Py                Py                                      Px          Px

 

 

Bentuk rumusan ini dapat digambarkan secara grafis dengan intercep sumbu Y pada skala  M / Py dengan lereng /slope Px / Py atau pada sumbu X pada skala M / Px dengan lereng / slope Py / Px. Hal ini dapat digambarkan seperti pada Gambar.5.7.

Gambar .5.7.

Kurva Budget Line.

Y
M
Py

 

 

 

M/Px
X
O

 

 

 

Misalkan budget Rp. 1000 harga barang X dan Y adalah Rp. 10,- dan Rp.5,- per unit maka rumus penyelesaian untuk masing-masing barang :

            Y = 200 – 2 X atau X = 100-1/2 Y

Setiap konsumen selalu berkeinginan mendapatkan kurva indeferensi jauh dari titik asal, sementara kemampuan budget terbatas, oleh karena itu konsumen akan mencapai keadaan keseimbangan pada saat terjadinya titik singgung antara budget line dengan kurva indiferen.

Secara grafis dapat diperlihatkan sebagai berikut :

 

Gambar .5.8.

Kurva Keseimbangan Konsumen.

Y
B
F
U3
M/r

 

 

E
U2
U1
X
O
M/P

 

 

 

Keterangan :

Tingkat keseimbangan konsumen akan tercapai pada MRS x.y /- slope kurva indiferen sama dengan slope garis anggaran (budget line) Px/py, yaitu pada titik E, karena pada titik F, yang memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari kombinasi kedua barang, tetapi tidak bisa dicapai oleh anggaran  yang dimiliki, sebaliknya pada titik D, yang dapat dicapai anggarannya, tetapi mempunyai tingkat kepuasan yang lebih rendah dari titik E, sehingga konsumen belum berada pada tingkat kepuasan yang maksimum.

 

5.3.          Perubahan Harga dan Pendapatan.

5.3.1.     Perubahan Dalam  Harga.

Perubahan salah satu  harga barang, sementara pendapatan tetap, maka perubahan tersebut akan mempengaruhi   jumlah barang yang diminta, dalam hal ini akan terlihat dengan pergeseran garis belanja (budget line), ke kiri atau kekanan.

Jika pendapatan tetap, sedangkan harga salah satu barang X berubah naik, maka jumlah barang X yang diminta akan berkurang dan kurva budget akan bergeser ke kiri, sebaliknya kalau harga barang X tersebut turun, maka akan berakibat jumlah barang X yang diminta akan naik, maka kurva budget akan bergeser ke kanan.

Selanjutnya bila semulanya keseimbangan konsumen sebelum harga berubah pada titik E, akibat harga naik , maka keseimbangan tersebut menjadi E1 , atau E2  bila harga turun.

Bila titik–titik keseimbangan tersebut dihubungkan , maka akan terbentuk sebuah kurva baru yang disebut dengan kurva  harga konsumsi (Price Consumption Curve),yaitu garis /kurva yang menghubungkan titik-titik keseimbangan konsumen sebagai akibat perubahan harga salah satu barang pada tingkat pendapatan yang tetap.

Lebih jelasnya secara grafis dapat diperlihatkan sebagai berikut :

Gambar .5.9.

Kurva Harga konsumsi

(Price Consumption Curve)

ICC
Y
A
A
U2
U1

 

 

X
O
B
B

 

 

 

Keterangan :

 

Garis anggaran  M=X. Px +Y. Py, akan bergeser, akibat naiknya harga barang X , maka quqntitqs barangX yang diminta menurun dari ox1 menjadi ox2 dan ox3. sebagai akibat bergesernya garis anggaran .

Keseimbangan konsumen semula pada titik E menjadi E2 dan E3. garis yang menghubungkan E dengan E2 dan E3, dihasilkan kurva Price Consumption  Curve (PCC).

 

 

5.3.2.   Perubahan Dalam Pendapatan

Apabila pendapatan konsumen berubah naik atau turun, sedangkan harga kedua barang tetap, maka akan berakibat berubahnya jumlah barang yang diminta dan kurva budget/anggaran  akan bergeser kekanan (bila naik ) dan ke kiri (bila turun) dan keseimbangan konsumenpun akan bergeser dan titik E akan berubah menjadi E1 dan E2.

 

Bila titik keseimbangan konsumen tersebut dihubungkan akan di peroleh sebuah kurva yang disebut dengan kurva pendapatan konsumsi(Income Consumption Curve).

 

Secara grafis dapat dilihat :

Gambar. 5.10.

Kurva Pendapatan Konsumsi.

(Income Consumption Curve).

Y
C
PCC
D
U2
E
U1
X
O
B
A

 

 

 

Keterangan :

 

Perubahan pendapatan mengakibatkan bergesernya garis harga / budget kekanan (bila naik) atau ke kiri (bila turun), sedangkan harga barang tidak berobah, maka pergeseran kurva tersebut berubah sejajar, yang mengakibatkan keseimbangan konsumen juga bergeser, dari E menjadi E2 dan E3, garis yang menghubungkan titik E, E2 dan E3 dihasilkan kurva ICC.

 

 

5.3.3    Efek Subtitusi. Efek Pendapatan dan Efek Total

Pengaruh perubahan harga dan pendapatan terhadap jumlah barang yang diminta dapat di bedakan menjadi dua, Yaitu :

1). Pengaruh Subtitusi (subtitution Effect).

2). Pengaruh Pendapatan (Income Effect).

 

Pengertian Efek Subtitusi

Efek subtitusi adalah perubahan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga relatif, setelah dikompensasi oleh konsumen dalam perubahan pendapatan.

Pengertian secara ekonomis adalah, bilamana harga suatu barang X turun, sedangkan harga-harga lain tidak berubah, maka berarti bahwa harga barang X relatif lebih murah, dengan demikian oleh karena barang X menjadi relatif lebih rendah/murah harganya daripada barang Y, sehingga konsumen cenderung membeli lebih banyak barang X daripada barang Y, agar setiap rupiah yang dikeluarkan untuk barang X dan barang Y akan memberikan tambahan daya guna yang sama bagi konsumen, agar dapat mempertahankan tingkat kepuasan yang tinggi.

 

Pengertian Efek Pendapatan

Efek pendapatan adalah perubahan jumlah barang yang diminta, khususnya timbul dalam perubahan pendapatan nyata, artinya turunnya harga suatu barang akan merubah pendapatan riil konsumen, karena turunnya suatu barang, sehingga memungkinkan untuk membeli barang lain lebih banyak.

Secara ekonomi dapat diartikan kenaikan jumlah barang X sebesar Xt X2 dan barang Y sebesar Yt Y2, apabila barang yang normal, maka efek pendapatannya positif, maka hukum permintaan tetap berlaku, tetapi bila efek pendapatannya negatif, maka hukum permintaan tidak berlaku bagi barang inferior atau giffen, sehingga gejala ini disebut Giffen Paradox, karena pendapatan atau anggaran belanja yang lebih tinggi justru malahan menurunkan kuantitas atau kualitas barang yang diminta.

 

Pengertian Efek Total

Efek total adalah perubahan jumlah barang yang diminta/dikonsumsi akibat perubahan keseimbangan konsumen.

Besaran efek total ini sama dengan efek subtitusi ditambah dengan efek pendapatan.

Contoh soal.

Diketahui fungsi utilitas seorang konsumen U = Q1 Q2, harga barang pertama Rp.2,-, harga barang kedua Rp.5,- besar pendapatan pendapatan konsumen tersebut adalah Rp..100,- hitunglah besarnya barang Q1 dan Q2 yang dapat dibeli oleh konsumen yang sekaligus memberikan konsumen dalam keseimbangan dan buat grafiknya.

 

Jawab :

Bentuk fungsi U = Q1 . Q2

Budget line konsumen : 100 = 2 Q1 + 5 Q2

                                                             100    2 Q1

Besar barang Q2 yang dapat di beli = —– – ——

5               5

       2Q1

maka bentuk fungsi tersebut menjadi U = Q1. 20 – ——-

                                                                                     5

 

Bentuk derivatif pertial dari fungsi tersebut adalah :

            dU              4Q1

           —- = 20 -  ——- = 0

            dQ1              5                 

 

                     4Q1

           20 = ——–

                       5

 

         100 = 4 Q1 ——> Q1 = 25

 

         100 = 50 + 5Q2

 

           50 = 5Q2 —> Q2 = 10

                                                                   P1

besar slope budget line (garis harga) = – ——- = – 2/5

                                                                   P2

About these ads

3 Tanggapan

  1. materinya oke,,, tp kurva nya mana?? :(

  2. ngmong” mn gambar kurvax ni

  3. kq gk ada yang bsa ksih cintih barang giffen

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: