Pasar Persaingan Monopolistik

Pasar Persaingan Monopolistik
Pasar Monopolisik adalah salah satu bentuk
pasar dimana tedapat banyak
produsen yang menghasilkan barang serupa
tetapi memiliki perbedaa dalam
beberapa aspek.
Penjual pada pasar
monopolistik tidak terbatas, namun
setiap produk yang dihasilkan asti memilki
karakter tersendiri yang
membedakan dengan produk lainnya.
Contoh : shampoo, pasta gigi, snak, nasi goreng, dll.
Meskipun fungsi semua shampoo sama yakni
untuk membersihkan rambut akan
tetapi stiap produk yang dihasilkan produsen
yankg berbeda memiliki ciri
khusus misalnya perbedaan aroma, perbedaan
warna, aroma, kemasan dll.
Pada pasar monopolisik produsen mmemiliki
kemampuan untuk mempengaruhi harga
walupun pengaruhnya tidak sebesar produsen dari pasar monopoli dan oligopoli. kemampuan ini berasal dari sifat barang yang dihasilkan. Karena
perbedaan dan ciri khas dari suatu barang,
konsumen tidak akan mudah
berpindah ke merek yamg lain, dan tetap
memilih merek tersebut walau
produsen menaikkan harga. Contohnya sepeda motor yang ada di indonesia,
produk sepeda motor memang bersifat
homogen, tetapi masing-masing memiliki
ciri khas sendiri. Sebutkan saja sepeda motor
Honda dimana ciri khususnya
adalah irit bahan bakar. Sedangkan Yamaha
memiliki keunggulan pada mesin
yang staabil dan jarang rusak. Akbatnya tiap-
tiap merek memiliki pelanggan
setia masing-masing
Pad pasar persaingan Monopolistik harga
bukanlah faktor yang bisa
mendongkrak penjualan. Bagaimana emampuan
perusahaan menciptakan citra yang
baik di dalam benak masyarakat sehingga
membuat mereka mau membeli produk
tersebut meskipun dengan harga mahal akan
sangat berpengaruh terhadap
penjualan perusahaan yang berada dalam pasar
monopolistik harus aktif
mempromosikan produk sekaligus menjaga itra
prisahaannya.

Kelebihan:
1. Penjual tidak sebanyak pasar persaingan
sempurna
2. Produsen terpacu untuk berkreativitas
3. Pembeli tidak mudah berpindah dari produk
yang dipakai
*Kelemahan:
1. Biaya mahal untuk ke dalam pasar
monopolistik karena untuk masuk pangsa pasar tertentu dibutuhkan riset dan
pengembangan produk
2. Persaingan sangat berat karena biasanya di dominasi oleh produk-produk yang telah ternama.

Pengaruh efisiensi pasar pada persaingan
monopolistik

Menurut konsep pasar efisiensi pasar efisien
dikatakan efsien bilamana
harga-harga yang terbentuk di pasar merupakn
cerminan dari informasi yang
ada.
Ada tiga bentuk efisiensi pasar berdasarkan
pada tingkat penyerapan
informasinya, yaitu
pasar efisien bentuk
lemah, pasar efisien bentuk semi
kuat, pasar efisien bentuk kuat.
1. Efisiensi pasar bentuk lemah adalah
dimana harga saat ini telah memasukkan semua informasi perdagangan dan harga di masa lalu. Artinya harga saat ini merupakan alat prediksi terbaik harga masa mendatang.
2. Efisiensi pasar bentuk semi kuat adalah dimana informasi yang tercermin dalam harga lebih dari sekedar
sejarah harga, namun juga mencerminkan semua informasi yang tersedia
secara umum.
3. Efisiensi pasar bentuk kuat adalah dimana harga mencerminkan semua informasi yang kemungkinan semua dapat
diketahui.
Teori efisiensi pasar telah menjadi acuan kajian yang mendapat perhatian luas selama tiga dasawarasa terakhir dan
menjadi topik paling menarik dalam perkembangan teori keuangan perusahaan.
Sedangkan strukrtur pasar monopolistik terjadi manakala mlah produsen atau
penjual banyak dengan produk yang serupa.
Namun dimana konsumen produk tersebut berbeda-beda antara produsen yang satu dengan yang lain.

Sifat-sifat Pasar Monopolistik
1. Untuk unggul diperlukan keunggulan bersaing
yang berbeda
2. Mirip dengan pasar persaingan sempurna
3. Brand yang menjadi ciri khas produk
berbeda-beda
4. Produsen hanya memiliki sedikit kekuatan
merubah harga
5. Relatif mudah keluar masuk pasar

Implikasi Efisiensi Pasar Persaingan
Monopolistik bagi keputusan menejerial

Keputusan yang diambil haruslah tepat dan hati-hati. Karena dalam persaingan
monopolistik jika melakukan kesalahan bisa-
bisa konsumen pindah ke produsen
lain. Selain itu kebebasan keuar masuk pasar akan mendorong kompetisi yang
sehat untuk terus melakukan inovasi

Bentuk Struktur Pasar Persaingan
Monopolistik

Struktur pasar monopolistik tejadi manakala
jumlah produsen banyak dengan
produk yang serupa, namun dimana konsumen
produk tersebut berbeda-beda
antara produsen yang satu dengan yang lainnya.
Contoh produknya adalah seperti makanan
ringan, nasi goreng, pensil, pulpen,
buku dll.

BAB IX PERSAINGAN MONOPOLISTIS

Dalam bab ini anda akan mempelajari:

•   Ciri pasar persaingan monopolistis.

•   Keseimbangan dalam pasar persaingan monopolistis.

•   Penilaian ke atas persaingan monopolistis.

•   Persaingan bukan‑harga.

•   Kebaikan dan keburukan pengiklanan.

Seperti juga halnya dengan yang dibuat dalam dua bab yang terdahulu, uraian mengenai persaingan monopolistis yang akan dilakukan dalam bab ini pertama‑tama akan melihat (i) ciri‑ciri persaingan monopolistis dan (ii) cara pemaksimuman keuntungan oleh sesuatu perusahaan dalam persaingan monopolistis. Di dalam menerangkan hal yang dinyatakan dalam (ii), akan dibedakan di antara keseimbangan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sesudah itu akan dibuat penilaian tentang kebaikan dan keburukan persaingan monopolistis. Di dalam hal ini tiga persoalan penting yang telah diperhatikan dalam membicarakan persaingan sempurna dan monopoli juga akan dianalisis, yaitu (i) efisiensi penggunaan sumber‑sumber daya, (ii) perangsang untuk mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi, dan (iii) pengaruh persaingan monopolistis ke atas distribusi pendapatan .

Di dua bagian yang terakhir akan dianalisis (i) bentuk‑bentuk persaingan bukan harga, dan (ii) kebaikan dan keburukan dari salah satu bentuk persaingan bukan harga, yaitu iklan. Melakukan promosi penjualan dengan menggunakan iklan adalah suatu kegiatan yang sangat penting artinya untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan‑perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Kegiatan membuat iklan untuk mempromosikan penjualan tidak diperlukan dalam persaingan sempurna dan monopoli. Dalam persaingan sempurna setiap perusahaan memproduksikan barang yang serupa dan tidak boleh dibedakan satu sama lain. Oleh karena iklan tidak diperlukan. Dalam monopoli iklan juga tidak diperlukan oleh karena barang yang dihasilkannya adalah satu‑satunya barang di pasar. Perusahaan dalam persaingan monopolistis perlu melakukan pengiklanan oleh karena mereka menghasilkan barang berbeda corak. Maka uraian mengenai pengiklanan dan kebaikan dan keburukan pengiklanan perlu diterangkan dalam bab ini.

9.1.   CIRI‑CIRI PERSAINGAN MONOPOLISTIS

Pasar persaingan monopolistis pada dasarnya adalah pasar yang berada di antara dua jenis pasar yang ekstrem, yaitu persaingan sempurna dan monopoli. Oleh sebab itu sifat‑sifatnya mengandungi unsur‑unsur sifat pasar monopoli, dan, unsur‑unsur sifat pasar persaingan sempurna. Pasar persaingan monopolistis dapat didefinisikan sebagai suatu pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (differentiated products). Ciri‑ciri selengkapnya dari pasar persaingan monopolistis adalah seperti yang diuraikan di bawah ini.

Terdapat Banyak Penjual

Terdapat cukup banyak penjual dalam pasar persaingan monopolistis, namun demikian ia tidaklah sebanyak seperti dalam pasar persaingan sempurna. Apabila di dalam pasar sudah terdapat beberapa puluh perusahaan, maka pasar persaingan monopolistis sudah mungkin wujud. Yang penting, tidak satu pun dari perusahaan‑perusahaan tersebut ukuran/besarnya jauh melebihi dari perusahaan‑perusahaan lainnya. Perusahaan dalam pasaran monopolistis mempunyai ukuran yang relatif sama besarnya. Keadaan ini menyebabkan produksi suatu perusahaan relatif sedikit kalau dibandingkan dengan keseluruhan produksi dalam keseluruhan pasar.

Barangnya Bersifat Berbeda Corak

Ciri ini merupakan sifat yang penting dalam membedakan antara pasar persaingan monopolistis dan persaingan sempurna. Seperti telah diterangkan, dalam persaingan sempurna produksi berbagai perusahaan adalah serupa. Oleh karenanya sukar untuk membedakan yang mana yang      merupakan produksi suatu perusahaan, dan yang mana pula produksi     perusahaan lainnya. Produksi dalam pasar persaingan monopolistis berbeda coraknya (differentiated product) dan secara fisik mudah dibedakan di antara produksi sesuatu perusahaan dengan produksi perusahaan lainnya. Di samping perbedaan dalam bentuk fisik barang tersebut terdapat pula perbedaan‑perbedaan dalam pembukusannya, perbedaan dalam bentuk “jasa perusahaan setelah penjualan” (after‑sale service) dan perbedaan dalam cara membayar barang yang dibeli. Sebagai akibat dari perbedaan‑perbedaan ini     barang yang diproduksikan oleh perusahaan‑perusahaan dalam pasar      persaingan monopolistis bukanlah barang yang bersifat pengganti sempurna (perfect substitute) kepada barang yang diproduksikan perusahaan lain. Mereka hanya merupakan pengganti yang dekat atau close substitute. Perbedaan dalam sifat barang yang dihasilkan inilah yang menjadi       dari adanya kekuasaan monopoli, walaupun kecil, yang dimiliki oleh perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis.

Perusahaan Mempunyai Sedikit Kekuasaan Mempengaruhi Harga

Berbeda dengan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna, yang tidak mempunyai kekuasaan dalam mempengaruhi harga, perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis dapat mempengaruhi harga. Namun demikian pengaruhnya ini relatif kecil kalau dibandingkan dengan perusahaan oligopoli dan monopoli. Kekuasaan mempengaruhi harga oleh perusahaan monopolistis bersumber dari sifat barang yang dihasilkannya, yaitu yang bersifat berbeda corak atau differentiated product. Perbedaan ini menyebabkan para pembeli bersifat memilih, yaitu lebih menyukai barang dari sesuatu perusahaan tertentu dan kurang menyukai barang yang dihasilkan perusahaan lainnya. Maka apabila sesuatu perusahaan menaikkan harga barangnya, ia masih dapat menarik pembeli walaupun jumlah pembelinya tidak sebanyak seperti sebelum kenaikan harga. Sebaliknya, apabila perusahaan menurunkan harga, tidaklah mudah untuk menjual semua barang yang diproduksikannya. Banyak di antara konsumen di pasar masih tetap membeli barang yang dihasilkan oleh perusahaan‑perusahaan lain, walaupun harganya sudah menjadi relatif lebih mahal.

Kemasukan ke dalam Industri Relatif Mudah

Perusahaan yang akan masuk dan menjalankan usaha di dalam pasar persaingan monopolistis tidak akan banyak mengalami kesukaran. Hambatan yang dihadapi tidaklah seberat seperti di dalam oligopoli dan monopoli. Tetapi kemasukan tidaklah semudah seperti dalam pasar persaingan sempurna. Beberapa faktor menyebabkan hal ini. Yang pertama ialah karena modal yang diperlukan adalah relatif besar kalau dibandingkan dengan mendirikan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna. Yang kedua ialah karena perusahaan itu harus menghasilkan barang yang berbeda coraknya dengan yang sudah tersedia di pasar, dan mempromosikan barang tersebut untuk memperoleh langganan. Maka perusahaan baru pada dasarnya harus berusaha memproduksikan barang yang lebih menarik dari yang sudah ada di pasar, dan harus dapat meyakinkan konsumen akan kebaikan mutu barang tersebut.

Persaingan Mempromosi Penjualan Sangat Aktif

Harga bukanlah penentu utama dari besarnya pasar dari perusahaan-­perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Sesuatu perusahaan mungkin menjual barangnya dengan harga relatif tinggi, tetapi masih dapat menarik banyak langganan. Sebaliknya suatu perusahaan lain mungkin harga barangnya rendah, tetapi tidak banyak menarik langganan. Keadaan seperti ini disebabkan oleh sifat barang yang mereka hasilkan, yaitu barang yang bersifat berbeda corak. Ini menimbulkan daya tarik yang berbeda kepada para pembeli. Maka untuk mempengaruhi cita rasa pembeli, para pengusaha melakukan persaingan bukan harga (non price competition). Persaingan yang demikian itu antara lain adalah dalam memperbaiki mutu dan desain barang, melakukan kegiatan iklan yang terus menerus memberikan syarat penjualan yang menarik, dan sebagainya,

Keseimbangan Dalam Pasar Persaingan Monopolistis

Ciri‑ciri persaingan monopolistis seperti yang diterangkan dalam bagian yang lalu menimbulkan pengaruh yang cukup penting ke atas corak permintaan yang dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis. Kurva permintaan yang dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah lebih elastis dari yang dihadapi monopoli tetapi elastisitasnya tidak sampai mencapai elastis sempurna yaitu kurva permintaan yang sejajar sumbu datar yang merupakan kurva permintaan yang dihadapi suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Maka pada hakikatnva ku permintaan ke atas barang produksi perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah bersifat menurun secara sedikit demi sedikit (lebih mendatar dan bukan turun dengan curam). Kurva permintaan yang bersifat seperti ini berarti : (i) apabila perusahaan menaikkan harga maka jumlah barang yang dijualnya menjadi sangat berkurang, dan sebaliknya (ii) apabila perusahaan menurunkan harga maka jumlah barang yang dijualnya menjadi sangat bertambah.

Oleh karena kurva permintaan dalam persaingan monopolistis tidak bersifat elastis sempurna, kurva hasil penjualan marginal (MR) tidak beri dengan kurva permintaan. Dalam persaingan monopolistis kurva MR ad sama seperti yang terdapat dalam monopolistis, yaitu kurva tersebut terletak bawah kurva permintaan.

9.1.1. Keseimbangan Jangka Pendek

Oleh karena kurva permintaan adalah menurun sedikit demi sedikit, sebagai akibatnya kurva MR tidak berimpit dengan kurva permintaan keseimbangan yang dicapai suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis adalah sama dengan di dalam monopoli. Bedanya, di dalam monopoli yang dihadapi adalah  permintaan dari seluruh pasar, sedangkan dalam persaingan monopolistis, permintaan yang dihadapi perusahaan adalah sebagian dan keseluruhan permintaan pasar.

Dua keadaan perusahaan monopolistis ditunjukkan Gambar 13.1. Yang ditunjukkan  dalam gambar (i) adalah keadaan dimana perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan yang maksimum akan diperoleh apabila perusahaan memproduksi pada tingkat di mana keadaan MC = MR tercapai. Maka keuntungan maksimum tercapai apabila jumlah produksi adalah Q dan pada tingkat produksi ini tingkat harga adalah P. Segi empat PABC menunjukkan jumlah keuntungan maksimum yang dinikmati perusahaan monopolistis itu. Dalam gambar (ii) yang ditunjukkan adalah keadaan di mana perusahaan mengalami kerugian. Kerugian akan dapat diminimumkan apabila keadaan MC = MR tercapai. Ini berarti perusahaan harus mencapai tingkat produksi sebanyak Q, Pada tingkat produksi ini harga mencapai P. Besarnya kerugian yang diderita digambarkan oleh kotak PABC.

9.1.2. Keseimbangan Jangka Panjang

Keuntungan lebih dari normal yang ditunjukkan dalam Gambar 9.1 (i) akan menarik perusahaan‑perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri tersebut. Dalam persaingan monopolistis tidak terdapat hambatan kepada perusahaan‑perusahaan baru. Maka keuntungan yang melebihi normal akan menyebabkan pertambahan dalam jumlah perusahaan di pasar. Sebagai akibatnya setiap perusahaan akan menghadapi permintaan yang semakin sedikit pada berbagai tingkat harga. Ini berarti kemasukan perusahaan baru akan menggeser kurva permintaan DD (dan tentunya juga kurva hasil penjualan marginal MR) ke sebelah kiri, yaitu seperti ditunjukkan oleh anak panah dalam Gambar 9.1 (i). Kemasukan perusahaan baru, dan perpindahan kurva DD dan MR ke kiri, akan terus berlangsung sehingga perusahaan hanya mendapat keuntungan normal saja. Dengan demikian, seperti halnya dengan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna, dalam persaingan monopolistis setiap perusahaan hanya mendapat keuntungan normal di dalam jangka panjang.

Gambar 9.2 menunjukkan keseimbangan perusahaan monopolistis di dalam jangka panjang. Produksi berjumlah QL dan pada tingkat produksi ini tingkat harga adalah PL. Dapat dilihat bahwa PL sama dengan biaya total rata‑rata, yang berarti bahwa perusahaan hanya memperoleh untung normal.

Corak kegiatan perusahaan dalam persaingan monopolistis ketika mendapat keuntungan normal adalah berbeda dengan corak kegiatan perusahaan dalam persaingan sempurna yang juga memperoleh untung yang normal. Perbedaan itu adalah:

· Harga dan biaya produksi di pasar persaingan monopolistis lebih tinggi.

· Kegiatan memproduksi di pasar persaingan monopolistis belum mencapai tingkat yang optimal mencapai tingkat di mana biaya produksi per unit adalah paling rendah.

Seperti dengan keadaan yang ditunjukkan dalam Gambar 9.1 (i), keseimbangan seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 9.1 (i) tidak akan wujud dalam jangka panjang. Perusahaan yang mengalami kerugian tidak akan meneruskan kegiatannya, mereka akan meninggalkan industri tersebut. Dengan demikian jumlah perusahaan di dalam pasar semakin lama menjadi semakin sedikit. Sebagai akibatnya dalam jangka panjang permintaan yang dihadapi setiap perusahaan menjadi lebih besar ciri semula. Di dalam grafik pertambahan permintaan ini digambarkan dalam bentuk pergeseran kurva permintaan dan kurva hasil penjualan ke sebelah kanan. Dengan demikian dalam Jangka panjang kurva DD dan MR pada Gambar 9.1 (ii) akan pindah ke kanan, yaitu ke arah yang ditunjukkan oleh anak panah. Pergeseran itu akan terus berlangsung sehingga perusahaan mendapat keuntungan normal, yaitu seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 9.2. karena tidak menderita kerugian lagi perusahaan‑perusahaan tidak akan meninggalkan industri tersebut, tetapi juga ketiadaan keuntungan yang melebihi normal tidak akan menarik kemasukan perusahaan baru.

9.2.    PENILAIAN KE ATAS PERSAINGAN MONOPOLISTIS

Di dalam bagian ini analisis yang dibuat hanya meliputi penilaian ke atas efek dari pasar bersifat persaingan monopolistis kepada penggunaan sumber-sumber daya, dorongan untuk mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi, dan corak distribusi pendapatan. Salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh perusahaan monopolistis adalah melakukan promosi penjualan secara iklan. Kebaikan dan keburukan dari kegiatan ini akan dinilai dalam bagian berikut.

9.2.1. Efisiensi Dalam Menggunakan Sumber Daya

Untuk menilai sampai di mana efisiensi pasar persaingan monopolistis di dalam mengalokasikan sumber‑sumber daya, akan dibuat suatu perbandingan dengan efisiensi perusahaan dalam pasar persaingan sempurna. Perbandingan tersebut ditunjukkan di dalam Gambar 9.3. yang menunjukkan keseimbangan suatu perusahaan dalam pasar persaingan sempurna (grafik i) dan keseimbangan suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis (grafik ii). Kedua keadaan keseimbangan tersebut adalah di dalam jangka panjang. Dalam membuat perbandingan tersebut biaya produksi dalam perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis  bersamaan. Dengan demikian  ACS = ACm dan MCS = MCm

Keadaan dalam Gambar 9.3 (i) menunjukkan bahwa:

· Biaya produksi per unit adalah pada tingkat yang paling minimum, Biaya per unit adalah Ps.

· Harga yang berlaku di pasar adalah PS.

· Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qs.

Sedangkan keadaan dalam Gambar 9.3 (ii) menunjukkan bahwa:

· Biaya produksi per unit perusahaan monopolistis adalah lebih tinggi dari biaya produksi per unit yang paling minimum. Biaya per unit adalah Pm.

· Harga yang berlaku di pasar adalah Pm.

· Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qm.

Kesimpulan pokok yang dapat dibuat dari membuat perbandingan tersebut adalah: walaupun perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis sama‑sama mendapat keuntungan normal, tetapi dalam perusahaan monopolistis biaya produksi per unit lebih tinggi, harga barang lebih tinggi, dan jumlah produksi lebih rendah (sehingga menyebabkan kapasitas memproduksi yang digunakan adalah di bawah tingkat yang optimal).

Kesimpulan di atas menunjukkan bahwa perusahaan persaingan sempurna adalah lebih efisien dari perusahaan monopolistis di dalam ­menggunakan sumber‑sumber daya. Baik ditinjau dari sudut efisiensi produktif (seperti telah diterangkan ia dicapai apabila biaya produksi per unit adalah yang paling minimum), maupun dari sudut efisiensi alokatif (ia dicapai apabila harga sama dengan biaya marginal) perusahaan dalam persaingan sempurna adalah lebih efisien dari perusahaan dalam persaingan monopolistis.

9.2.2. Efisiensi Dan Diferensiasi Produksi

Telah diterangkan dalam analisis sebelum ini bahwa barang‑barang yang dihasilkan oleh perusahaan‑perusahaan persaingan monopolistis bersifat berbeda corak, yaitu ia berbeda dari segi mutu barangnya, pembukusannya, dan pelayanan setelah penjualan. Perbedaan‑perbedaan ini menyebabkan para konsumen mempunyai pilihan yang lebih baik dari pilihan yang dapat dibuat mereka di dalam pasar persaingan sempurna. Pilihan lebih baik, ini dapatlah dipandang sebagai kompensasi kepada penggunaan sumber‑sumber daya yang kurang efisien seperti yang baru saja diterangkan.

Persoalannya sekarang adalah: manakah yang lebih baik kepada masyarakat? Barang yang diproduksikan secara efisien sehingga dapat dijual dengan harga murah? Ataukah harga yang lebih mahal sedikit tetapi masyarakat dapat menentukan barang yang akan dikonsuminya dan pilihan jenis barang yang lebih banyak? Ini merupakan persoalan normatif, yang jawaban sangat tergantung kepada value judgment masyarakat tersebut. Sekiranya mereka lebih menyukai harga yang murah, maka kekurangan pilihan tidak dipandang sebagai suatu yang merugikan. Sebaiknya, apabila masyarakat menginginkan pilihan barang yang lebih banyak, sehingga dapat dibuat pilihan yang lebih tepat, harga yang lebih tinggi sedikit tidaklah perlu terlalu dirisaukan.

9.2.3. Perkembangan Teknologi Dan Inovasi

Sampai di manakah persaingan monopolistis akan mendorong perkembangan teknologi dan inovasi? Pada umumnya ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistis memberikan dorongan yang sangat terbatas untuk melakukan perkembangan teknologi. Terbatasnya dorongan tersebut disebabkan karena dalam jangka panjang perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal. Keuntungan yang melebihi normal di dalam jangka pendek dapat mendorong kepada kegiatan mengembangkan teknologi. Tetapi dorongan tersebut adalah sangat lemah karena perusahaan-perusahaan menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh dari mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Keuntungan melebihi normal yang diperoleh akan mendorong perusahaan‑perusahaan lain untuk masuk ke industri tersebut, dan ini akan terus berlangsung sehingga keuntungan melebihi normal tidak ada lagi. Maka dalam jangka panjang keuntungan yang diperoleh dari perkembangan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapat lagi dinikmati.

9.2.4. Distribusi  Pendapatan

Persaingan monopolistis mengakibatkan corak distribusi pendapatan yang sama sifatnya seperti yang biasanya terdapat dalam persaingan sempurna, yaitu distribusi pendapatan adalah seimbang. Karana tidak terdapat keuntungan yang berlebih‑lebihan dalam jangka panjang, maka pengusaha dan pemilik modal tidak memperoleh pendapatan yang berlebih‑lebihan. Di samping itu dalam pasar terdapat banyak perusahaan, dan ini berarti keuntungan normal yang diperoleh akan dibagikan kepada jumlah pemilik modal dan pengusaha yang banyak jumlahnya. Berdasarkan kepada kecenderungan ini ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistis menimbulkan distribusi pendapatan yang lebih merata.

9.3.   PERSAINGAN BUKAN HARGA

Persaingan bukan‑harga pada hakikatnya mengandung arti usaha‑usaha di luar perubahan  harga yang dilakukan oleh perusahaan untuk menarik lebih banyak pembeli ke atas barang yang diproduksinya. Maka pada hakikatnya usaha‑usaha untuk melakukan persaingan bukan‑harga bertujuan untuk memindahkan kurva permintaan ke kanan. Perpindahan itu berarti pada sedap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja, jumlah barang yang diminta menjadi bertambah banyak. Persaingan bukan‑harga dapat dibedakan kepada dua jenis:

· Diferensiasi produksi, yaitu menciptakan barang sejenis tetapi berbeda coraknya dengan produksi perusahaan-perusahaan lain.

· Iklan dan berbagai bentuk promosi penjualan.

Di dalam persaingan monopolistis dan oligopoly, persaingan bukan harga sangat aktif dilakukan. Di dalam dua pasar yang telah diuraikan terlebih dahulu, yaitu persaingan sempurna dan monopoli persaingan bukan­ harga tidak begitu dipentingkan. Untuk monopoli alasannya tidak sukar untuk dicari, yaitu karena perusahaan monopoli tidak mempunyai saingan. Dalam persaingan sempurna, persaingan bukan harga tidak dilakukan karena barang yang diproduksikan perusahaan-perusahaan adalah serupa atau identical. Para pembeli tidak dapat membedakan di antara produksi yang ciptakan suatu perusahaan dengan perusahaan lain. Oleh sebab itu tidak ada gunanya kepada sesuatu perusahaan untuk menarik lebih banyak pembeli dengan cara persaingan bukan harga. Para pembeli tidak akan dapat mengetahui manakah barang yang dihasilkan oleh perusahaan yang menjalankan persaingan bukan‑harga.

9.3.1. Diferensiasi Produksi

Setiap dalam pasar persaingan monopolistis akan berusaha untuk memproduksikan barang yang mempunyai sifat yang khusus, dan yang dapat dengan jelas dibedakan dari produksi perusahaan‑perusahaan lainnya. Maka di dalam pasar akan terdapat berbagai barang yang dihasilkan suatu industri yang mempunyai corak, mutu, desain, mode, dan merek yang berbeda‑beda. Terdapatnya berbagai variasi dari sesuatu jenis barang adalah sifat istimewa dari pasar persaingan monopolis, yang tidak terdapat dalam pasar persaingan sempurna. Seperti telah diterangkan sebelum ini, dalam pasar persaingan sempurna, barang yang dihasilkan dan diperjualbelikan adalah sepenuhnya serupa (identical). Terdapatnya barang yang beraneka ragam coraknya di pasar persaingan monopolistis menimbulkan keuntungan kepada perusahaan mau pun kepada para konsumen.

Kepada setiap perusahaan, barang yang berbeda‑beda sifatnya tersebut akan menjadi daya penarik khusus ke atas barang yang diproduksikannya. Segolongan konsumen tertentu akan lebih suka membeli barangnya (walaupun harganya lebih mahal) kalau dibandingkan dengan barang‑barang yang sejenis yang dihasilkan produsen‑produsen lain. Dengan demikian diferensiasi produksi dapat menciptakan suatu bentuk kekuasaan monopoli. Dengan menghasilkan suatu barang tertentu yang berbeda dari barang lainnya, perusahaan menciptakan suatu penghambat kepada perusahaan‑perusahaan lain untuk menarik para langganannya. Diferensiasi produksi memungkinkan seorang produsen dalam pasar monopolistis untuk tetap menjual produksinya (tetapi jumlahnya semakin sedikit) apabila menaikkan harga. Tetapi sebaliknya, produsen itu dapat menarik sebagian dari langganan perusahaan‑perusahaan lain, sekiranya penjualan barangnya,

Kepada para konsumen, barang yang sejenis tetapi berbeda tersebut menimbulkan suatu keuntungan pula, yaitu pilihan mereka untuk membeli sesuatu barang menjadi lebih beraneka ragam. Ini memungkinkan ­mereka memilih barang yang benar‑benar sesuai dengan keinginan. Seperti telah disinggung sebelum ini, ahli‑ahli ekonomi banyak‑ yang memandang pilihan yang beraneka ragam itu sebagai suatu kompensasi terhadap ketidak efisienan persaingan monopolistis di dalam menggunakan, sumber‑sumber daya.

9.3.2 Promosi Penjualan Melalui Iklan

Di dalam perusahaan-perusahaan modem kegiatan mempersiapkan dan mernbuat iklan adalah suatu bagian penting dari usaha untuk memasarkan hasil produksinya. Pengeluaran yang dilakukan perusahaan‑perusahaan untuk pengiklanan meliputi jumlah yang cukup besar yang adakalanya menimbulkan pertambahan yang nyata kepada biaya produksi. Perusahaan‑perusahaan melakukan kegiatan pengiklanan untuk mencapai salah satu atau gabungan dari tiga tujuan yang dinyatakan di bawah ini :

1. Untuk memberikan informasi mengenai produk. Iklan seperti ini dilakukan untuk memberikan penerangan kepada konsumen akan suatu produk. Iklan itu mungkin untuk barang yang telah lama ada, atau untuk barang yang haru saja dikembangkan. Iklan seperti ini dinamakan iklan memberi penerangan atau information advertising.

2. Untuk menekankan kualitas suatu produk secara persuasif. Iklan seperti ini dilakukan untuk menerangkan kepada konsumen akan kualitas yang sangat baik dari sebuah produk. Beberapa bentuk Iklan, bertujuan untuk terus menerus mengingatkan para konsumen bahwa barang tersebut ada di pasar. Iklan seperti ini dinamakan iklan untuk bersaing atau competitive advertising. Tanpa iklan seperti ini, konsumen dapat berubah sikapnya dan menjadi langganan. perusahaan lain yang menghasilkan barang yang sama yang selalu diiklankan.

3. Untuk memelihara hubungan baik dengan para konsumen Iklan tersebut lebih berbentuk memperkenalkan perusahaan tersebut mengenai, kegiatan‑kegiatan yang dilakukannya. Iklan mengenai hasil‑hasil produksinya adalah begitu ditekankan. Iklan ini juga dilakukan untuk menghindari larangan pengiklanan yang dilakukan pemerintah (misalnya iklan rokok)

Dari ketiga jenis iklan ini, yang dilakukan perusahaan dalam­ pasar persaingan monopolistis adalah jenis iklan yang pertama dan iklan jenis pertama terutama digunakan pada waktu perusahaan memperkenalkan hasil-hasil produksinya yang baru. Sedangkan iklan jenis kedua digunakan untuk mempertahankan kedudukannya di pasar

9.4.   KEBAIKAN DAN KEBURUKAN PENGIKLANAN

Di dalam menilai apakah iklan memberikan manfaat kepada masyarakat, terdapat berbagai pendapat. Segolongan, orang berkeyakinan bahwa iklan merupakan suatu penghamburan karena biaya produksi bertambah sedangkan konsumen tidak menerima kenikmatan tambahan dari barang yang dipromosikan melalui kegiatan pengiklanan. Pengiklanan tidak menambah atau memperbaiki mutu suatu barang. Segolongan lain berpendapat bahwa iklan memberikan sumbangan yang positif kepada masyarakat karena ia dapat menurunkan biaya produksi per unit. Di samping oleh perbedaan pendapat mengenai pengaruh iklan ke atas biaya produksi dan harga, perbedaan pendapat mengenai kegunaan iklan dikemukakan berdasarkan beberapa argumen lain. Beberapa argumen penting dalam perdebatan tersebut diterangkan di bawah ini.

9.4.1. Iklan Dan Biaya Produksi

Adakah iklan akan menaikkan atau menurunkan biaya produksi per unit? Keduanya mungkin berlaku, dan ia tergantung kepada perubahan permintaan yang terjadi sebagai akibat kegiatan pengiklanan yang dilancarkan. Apabila permintaan menjadi sangat bertambah elastis, besar kemungkinan biaya produksi per unit akan menjadi lebih rendah. Tetapi kemungkinan ini tidak banyak berlaku, dan ini berarti bahwa pada umumnya iklan akan menimbulkan kenaikan biaya produksi. Perbedaan pendapat mengenal pengaruh iklan kepada biaya produksi dan harga dapat diterangkan dengan menggunakan Garnbar 9.4.

Biaya rata‑rata jangka panjang dari suatu perusahaan monopolistis sebelum melakukan kegiatan pengiklanan adalah AC. Permintaan ke atas barang yang diproduksi oleh perusahaan itu adalah D1. Maka keseimbangan jangka panjang perusahaan monopolistis tersebut dicapai pada titik A, dan keseimbangan ini menunjukkan bahwa harga pasar mencapai P1 dan jumlah barang yang ikan diproduksikan perusahaan monopolistis tersebut adalah Q1.

Apabila  perusahaan melakukan pengiklanan, biaya produksi menjadi lebih tinggi, dan ini dicerminkan oleh kenaikan kurva biaya rata‑rata dan AC menjadi AC1. Pada waktu yang sama usaha mempromosikan penjualan melalui iklan tersebut menyebabkan permintaan ke atas produksi perusahaan bertambah. Apabila permintaan tersebut bertambah dari D1 ke D2 keseimbangan jangka panjang yang sekarang adalah ditunjukkan oleh titik B1. Dengan demikian iklan telah menyebabkan jumlah barang yang dijual bertambah dari Q1 ke Q2 akan tetapi iklan tersebut menaikkan harga dari P1 menjadi P2. berdasarkan kepada keadaan yang baru diuraikan segolongan hate ekonomi berpendapat bahwa iklan merupakan  penghamburan karena ia menaikkan biaya produksi tanpa membuat suatu perubahan apa pun ke atas bentuk, berat dan mutu suatu barang.

Segolongan ahli ekonomi tidak sependapat dengan kesimpulan di atas dan sebaliknya berpendapat bahwa iklan adalah sangat berguna karena ia akan dapat menurunkan biaya produksi per unit. Promosi penjualan melalui iklan, menurut mereka, akan menyebabkan permintaan berubah dari D1 menjadi D3. Maka keseimbangan jangka panjang dari suatu perusahaan monopolistis yang melakukan kegiatan iklan akan dicapai di titik C. Ini berarti, iklan menaikkan jumlah penjualan yang cukup banyak, yaitu dari Q1 menjadi Q3. Pertambahan penjualan yang banyak ini menyebabkan biaya produksi, per unit semakin rendah, dan memungkinkan perusahaan menjual barangnya pada harga yang lebih rendah dari harga pada waktu belum ada iklan (P1) yaitu harga penjualan yang sekarang adalah P3.

9.4.2. Pandangan Lain Yang Menyokong Pengiklanan

Di samping karana biaya produksi yang mungkin akan menjadi lebih rendah, golongan yang menekankan tentang kebaikan iklan mengemukakan kebaikan berikut:

1. Pengiklanan membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik di dalam menentukan jenis‑jenis barang yang akan dibelinya. Dengan iklan perusahaan‑perusahaan dapat menjelaskan kepada konsumen tentang barang baru yang diproduksikan, atau barang lama yang telah ditingkatkan mutunya. Di samping itu iklan dapat menerangkan kepada konsumen tempat‑tempat di mana suatu barang dapat dibeli. Ini mengurangi biaya dan menghemat waktu konsumen untuk mencari barang tersebut.

2. Iklan akan menggalakkan kegiatan memperbaiki mutu suatu barang. Dalam mempromosikan barangnya melalui iklan perusahaan berusaha menonjolkan sifat‑sifat istimewa dari barang yang diproduksikannya. Maka iklan memberi dorongan kepada perusahaan untuk mengembangkan hasil produksinya sehingga mempunyai keistimewaan- keistimewaan tertentu kalau dibandingkan dengan barang yang sama yang diproduksikan perusahaan lain.

3   Iklan membantu membiayai perusahaan komunikasi masa seperti radio, televisi, surat kabar dan majalah. Dengan membuat iklan dalam perusahaan‑perusahaan ini sebagian biaya mereka akan dibayar oleh kegiatan pengiklanan. Ini dapat (i) mengurangi subsidi pemerintah untuk membiayai kegiatan penyiaran radio dan televisi, dan (ii) menurunkan harga surat kabar dan majalah, yaitu harganya adalah lebih rendah dari yang akan diterapkan apabila tidak terdapat iklan.

4. Iklan menaikkan kesempatan kerja. Telah ditunjukkan sebelum ini bahwa iklan akan menaikkan jumlah produksi. Untuk menambah produksi, lebih banyak pekerja diperlukan. Dengan demikian pengiklanan juga menyebabkan penggunaan tenaga kerja bertambah banyak.

9.4.3. Pandangan Yang Mengkritik Pengiklanan

Selain mendapat sokongan karena menimbulkan beberapa keuntungan bagi perusahaan dan masyarakat, iklan juga menjadi bahan kritik karena memiliki beberapa sifat‑sifat yang negatif. Uraian berikut memberi gambaran tentang  beberapa kritik terhadap pengiklanan:

1. Promosi secara iklan adalah suatu penghamburan ia menaikkan biaya produksi per unit tanpa menimbulkan perubahan apa pun ke atas suatu barang. Sebelum ini pandangan tersebut telah diterangkan dengan menggunakan grafik. Pengkritik pengiklanan menambah pula, walaupun pengiklanan akan menambah penjualan suatu perusahaan pada waktu yang sama penjualan perusahaan lain berkurang. Dengan demikian kalau ditinjau dari sudut keadaan yang wujud di seluruh pasar, iklan tidaklah menaikkan jumlah barang yang diproduksikan dan dijual kepada konsumen.

2. Iklan tidak selalu memberi informasi yang betul. Tidak selalu iklan dibuat dengan jujur, dan menerangkan sifat‑sifat sebenarnya dari barang yang diiklankan. Iklan yang menyatakan bahwa sesuatu barang adalah lebih istimewa dari barang yang sejenis yang tersedia di pasar, akan menarik­ segolongan konsumen untuk tidak menggunakan barang lain yang selalu, dibelinya pada masa lalu. Apabila sifat barang yang dipromosikan melalui Man adalah lebih buruk dari barang yang tidak dikonsumsi lagi oleh konsumen yang bersangkutan, iklan merugikan konsumen tersebut.

3.  Iklan bukanlah suatu cara yang efektif untuk menambah jumlah pekejaan dalam perekonomian Terdapat cara lain yang akan dapat menambah jumlah pekerjaan dengan lebih efektif. Misalnya, usaha menambah pekerjaan akan lebih efektif hasilnya dengan menggunakan kebijakan fiskal dan moneter.

4. Iklan dapat menjadi penghambat kepada perusahaan‑perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri Apabila kampanye iklan sangat berhasil dan produksi mengalami pertambahan yang sangat besar, perusahaan lain akan mengalami kekurangan permintaan dan efisiensi kegiatannya menurun. Menghadapi kenyataan seperti itu perusahaan‑perusahaan baru menjadi lebih enggan untuk masuk ke dalam industri tersebut.

9.4.4. Pengiklanan Suatu Kesimpulan

Dengan mengemukakan pandangan‑pandangan yang menjelaskan buruk baiknya kegiatan pengiklanan, sekarang dapatlah dibuat penilaian tentang sampai di manakah iklan memberikan sumbangan kepada masyarakat. Sudah jelas bahwa iklan mempunyai beberapa kebaikan yang nyata, tetapi di samping itu kelemahannya dapat dengan mudah ditunjukkan. Maka, untuk memaksimumkan efek positif dari pengiklanan, haruslah efek‑efek buruk yang mungkin timbul dihindarkan. Beberapa langkah penting untuk mencapai tujuan tersebut adalah:

· Iklan haruslah terutama bertujuan untuk memberi keterangan yang benar dan jujur mengenai barang yang dipromosikan penjualannya.

· Peraturan‑peraturan yang tujuannya mengawasi agar perusahaan-perusahaan membuat lebih banyak iklan yang bersifat memberikan penerangan perlu dibuat.

Kegiatan pengiklanan harus diatur secara demikian rupa sehingga ia tidak menjadi penghambat kepada perusahaan baru untuk masuk ke dalam industri tersebut.

BAB VIII MONOPOLI

 

Dalam bab ini anda akan mempelajari:

· Ciri‑ciri monopoli dan faktor‑faktor yang menimbulkannya.

· Pemaksimuman keuntungan dalam monopoli.

· Apakah monopoli mendapat untung yang berlebihan.

· Keadaan kurva penawaran dalam monopoli.

· Diskriminasi harga dalam monopoli.

· Kebijakan pemerintah dalam monopoli.

· Kebaikan dan kelemahan monopoli.

Struktur pasar yang sangat bertentangan ciri‑cirinya dengan persaingan sempurna adalah pasar monopoli. Monopoli adalah suatu bentuk pasar di mana terdapat satu perusahaan saja. Dan perusahaan ini menghasilkan barang yang tidak mempunyai barang pengganti yang sangat dekat. Biasanya keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan monopoli adalah keuntungan melebihi normal dan ini diperoleh karena terdapat hambatan yang sangat tangguh kepada perusahaan‑perusahaan lain untuk memasuki industri tersebut. Menerangkan bentuk halangan‑halangan ini merupakan salah satu aspek yang dianalisis dalam bab ini. Sebelum itu ciri‑ciri pasar monopoli akan diterangkan.

Perhatian utama dari uraian dalam bab ini akan ditumpukan kepada menerangkan mengenai bagaimana caranya suatu perusahaan monopoli menentukan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan. Seperti juga dengan analisis mengenai pemaksimumkan keuntungan di pasar persaingan sempurna, analisis mengenai hal itu di perusahaan monopoli akan menggunakan dua cara, yaitu:

· Dengan pendekatan biaya total dan hasil penjualan.

· Dengan pendekatan biaya marginal dan hasil penjualan marginal.

8.1.   BEBERAPA ASPEK KHUSUS PASAR MONOPOLI

Sebelum menganalisis kegiatan dan cara menentukan produksi dalam pasar monopoli, dua aspek berikut akan diuraikan dalam bagian ini: (i) ciri‑ciri monopoli, dan (ii) faktor‑faktor yang menggambarkan kemasukan ke pasar monopoli.

8.1.1. Ciri‑Ciri Pasar Monopoli

Ciri‑ciri pasar monopoli sangat berbeda dengan pasar persaingan sempurna. Uraian berikut menerangkan ciri‑ciri monopoli.

Pasar Monopoli Adalah Industri Satu Perusahaan

Hal ini rasanya tidak perlu diterangkan lagi. Sifat ini sudah secara jelas dilihat dari definisi monopoli di atas, yaitu hanya ada satu saja perusahaan dalam industri tersebut. Dengan demikian barang atau jasa yang dihasilkannya tidak dapat dibeli dari tempat lain. Para pembeli tidak mempunyai pilihan lain kalau mereka menginginkan barang tersebut maka mereka harus membeli dari perusahaan monopoli tersebut. Syarat‑syarat penjualan sepenuhnya ditentukan oleh monopoli itu, dan para pembeli tidak dapat berbuat suatu apa pun di dalam menentukan syarat jual beli.

Tidak Mempunyai Barang Pengganti Yang Mirip

Barang yang dihasilkan perusahaan monopoli dapat digantikan oleh barang lain yang ada dalam pasar. Barang tersebut merupakan satu‑satunya jenis barang yang seperti itu dan tidak terdapat barang mirip (close substitute) yang dapat menggantikan barang tersebut. Aliran listrik adalah contoh dari barang yang tidak mempunyai barang pengganti yang mirip. Yang ada hanyalah barang pengganti yang sangat berbeda sifatnya, yaitu lampu minyak. Lampu minyak tidak dapat menggantikan listrik karena, ia tidak dapat digunakan untuk menghidupkan televisi atau memanaskan setrika/ gosokan.

Tidak Terdapat Kemungkinan Untuk Masuk Ke Dalam Industri

Sifat ini merupakan sebab utama yang menimbulkan perusahaan yang mempunyai kekuasaan monopoli. Tanpa sifat ini pasar monopoli tidak akan wujud, karena tanpa adanya halangan tersebut pada akhirnya akan terdapat beberapa perusahaan di dalam industri. Keuntungan perusahaan monopoli tidak akan menyebabkan perusahaan‑perusahaan lain memasuki industri tersebut. Adanya hambatan kemasukan yang sangat tangguh meng­hindarkan berlakunya keadaan yang seperti itu. Ada beberapa bentuk hambatan kemasukan ke dalam pasar monopoli. Ada yang bersifat legal, yaitu dibatasi oleh undang‑undang. Ada yang bersifat teknologi, yaitu teknologi yang digunakan sangat canggih dan tidak mudah di contoh. Dan ada pula yang bersifat keuangan, yaitu modal yang diperlukan sangat besar.

Dapat Mempengaruhi Penentuan Harga

Oleh karena perusahaan monopoli merupakan satu‑satunya penjual di dalam pasar, maka penentuan harga dapat dikuasainya. Oleh sebab itu perusahaan monopoli dipandang sebagai penentu harga atau price setter. Dengan mengadakan pengendalian ke atas produksi dan jumlah barang yang ditawarkan perusahaan monopoli dapat menentukan harga pada tingkat yang dikehendakinya.

Promosi Iklan Kurang Diperlukan

Oleh karena perusahaan monopoli adalah satu‑satunya perusahaan di dalam industri, ia tidak perlu mempromosikan barangnya dengan menggunakan iklan. Pembeli yang memerlukan barang yang diproduksikannya terpaksa membeli dari padanya. Walau bagaimanapun perusahaan monopoli sering membuat iklan. Iklan tersebut bukanlah bertujuan untuk menarik pembeli, tetapi untuk memelihara hubungan baik dengan masyarakat.

8.1.2. Faktor‑Faktor Yang Menimbulkan Monopoli

Terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan wujudnya pasar (perusahaan) monopoli. Ketiga faktor tersebut adalah:

1.  Perusahaan monopoli mempunyai suatu sumber daya tertentu yang unik dan tidak dimiliki oleh perusahaan lain.

2.  Perusahaan monopoli pada umumnya dapat menikmati skala ekonomi (economies of scale) hingga ke tingkat produksi yang sangat tinggi.

3.  Monopoli wujud dan berkembang melalui undang‑undang, pemerintah memberi hak monopoli kepada perusahaan tersebut.

Uraian berikut akan secara lebih terperinci menerangkan ketiga faktor yang baru dinyatakan di atas.

Memiliki Sumber Daya Yang Unik

Salah satu sumber penting dari adanya monopoli adalah pemilikan suatu sumber daya yang unik (istimewa) yang tidak dimiliki oleh orang atau perusahaan lain. Satu contoh yang jelas dalam hal ini adalah “suara emas” dari seorang penyanyi terkenal atau kemampuan bermain yang sangat luar biasa oleh seorang pemain sepak bola. Hanya merekalah yang mempunyai kepandaian tersebut dan harus dibayar lebih mahal dari biasa apabila masyarakat ingin menikmatinya.

Di dalam suatu perekonomian, monopoli juga dapat berlaku apabila sesuatu perusahaan menguasai seluruh atau sebagian besar bahan mentah yang tersedia. Di masa ini contoh dari perusahaan yang masih mempunyai sifat seperti ini adalah perusahaan permata De Beers Company di Afrika Selatan. Hampir semua pertambangan permata yang ada di dunia ini dimiliki oleh perusahaan seperti itu. Pada permulaan abad yang lalu perusahaan Standard Oil Company di Amerika Serikat menguasai hampir seluruh sumber minyak yang ada di negara tersebut. Sampai sebelum Perang Dunia Kedua perusahaan Aluminium Company of America juga mempunyai kekuasaan monopoli. Pada waktu itu hampir semua cadangan bauxite, yaitu bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan alumunium, dimiliki oleh perusahaan itu. Oleh sebab itu Aluminium Company of America dapat menghasilkan barangnya tanpa ada persaingan. Perusahaan air minum di sesuatu kota adalah satu contoh lain dari kekuasaan monopoli yang memiliki sumber daya yang unik.

Dapat Menikmati Skala Ekonomi

Di dalam abad ini perkembangan teknologi sangat pesat sekali, di berbagai kegiatan ekonomi tingkat teknologi adalah sedemikian modernnya sehingga produksi yang efisien hanya dapat dilakukan apabila jumlah produksinya sangat besar dan meliputi hampir seluruh produksi yang diperlukan di dalam pasar. Keadaan seperti ini berarti suatu perusahaan baru menikmati skala ekonomi yang maksimum apabila tingkat produksinya adalah sangat besar jumlahnya. Pada waktu perusahaan mencapai keadaan di mana biaya produksi mencapai minimum, jumlah produksi adalah hampir menyamai jumlah permintaan yang wujud di pasar. Dengan demikian, sebagai akibat dari skala ekonomi yang demikian sifatnya, perusahaan dapat menurunkan harga barangnya apabila produksi semakin tinggi. Pada tingkat produksi yang sangat tinggi, harga adalah sedemikian rendahnya sehingga perusahaan­-perusahaan baru tidak akan sanggup bersaing dengan perusahaan yang terlebih dahulu berkembang. Keadaan ini mewujudkan pasar monopoli.

Suatu industri yang skala ekonominya mempunyai sifat seperti yang diterangkan di atas adalah perusahaan yang dikatakan merupakan monopoli alamiah atau natural monopoly. Monopoli alamiah pada umumnya dijumpai dalam perusahaan jasa umum (utilities) seperti perusahaan listrik, perusahaan air minum, perusahaan telefon, dan perusahaan angkutan kereta api. Di beberapa jenis industri lain skala ekonomi tidak mewujudkan monopoli, tetapi  satu atau beberapa perusahaan memproduksikan barang yang hampir sama jumlahnya dengan yang ditawarkan di pasar. Perusahaan baja, pertambangan minyak, dan industri pembuat mobil adalah contoh‑contoh dari industri semacam itu.

Kekuasaan Monopoli Yang Diperoleh Melalui Peraturan Pemerintah

Di dalam undang‑undang pemerintah yang mengatur kegiatan perusahaan-perusahaan terdapat beberapa peraturan yang akan mewujudkan kekuasaan monopoli. Peraturan‑peraturan yang seperti itu adalah (1) peraturan paten dan hak cipta (copy rights) dan (2) hak usaha eksklusif (exclusive franchise) yang diberikan kepada perusahaan jasa umum.

1. Peraturan patent dan hak cipta Perkembangan ekonomi yang pesat terutama ditimbulkan oleh perkembangan teknologi. Untuk mengem­bangkan teknologi kadang‑kadang diperlukan waktu bertahun‑tahun dan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu kegiatan dan pengeluaran untuk mengembangkan teknologi tidak akan dilakukan perusahaan apabila hasil jerih payah mereka dengan mudah saja dicontoh atau di jiplak oleh perusahaan lain. Apabila tidak ada peraturan yang melarang penjiplakan, tidak ada untungnya bagi perusahaan untuk menciptakan barang‑barang yang lebih baik mutunya, karena dalam waktu yang singkat perusahaan lain akan menirunya. Sebagai akibat dari keadaan seperti ini kemajuan teknologi akan terhambat, dan ini selanjutnya melambatkan jalannya pertumbuhan ekonomi. Agar usaha mengembangkan teknologi dengan tujuan untuk menciptakan barang baru akan memberi keuntungan kepada perusa­haan, haruslah pemerintah melarang dan menghukum kegiatan menjiplak tersebut. Langkah seperti ini dilakukan dengan memberikan hak paten kepada perusahaan yang mengembangkan barang baru.

Hak Cipta atau copy rights adalah juga hak paten, yaitu ia merupakan suatu jaminan hukum untuk menghindari penjiplakan. Tetapi hak cipta adalah khusus diberikan kepada penulis dan komposer/penggubah lagu. Dengan adanya hak cipta tersebut hanya penulis atau penggubah lagu saja yang mempunyai hak ke atas penerbitan buku yang ditulis dan lagu yang digubah.

2. Hak usaha eksklusif Apabila skala ekonomi hanya diperoleh perusahaan setelah perusahaan itu mencapai tingkat produksi yang sangat tinggi, kepentingan khalayak ramai  akan dimaksimumkan apabila perusahaan diberi kesempatan untuk menikmati skala ekonomi itu, dan pada waktu yang sama diharuskan menjual produksinya dengan harga yang rendah. Untuk menciptakan. keadaan seperti ini secara serentak pemerintah harus menjalankan dua langkah: (i) memberikan hak monopoli kepada suatu perusahaan dalam suatu kegiatan tertentu, dan (ii) menentukan harga/tarif yang rendah ke atas barang/jasa yang diproduksikan. Contoh perusahaan seperti ini adalah perusahaan air minum, penerbangan dah angkutan kereta api.

Tanpa adanya hak eksklusif untuk berusaha sebagai perusahaan monopoli akan timbul halangan untuk menikmati skala ekonomi secara maksimum. Sebagai akibatnya setiap perusahaan akan menetapkan harga/tarif yang tinggi ke atas barang/jasa yang dihasilkannya. Keadaan seperti ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat, karena mereka harus membayar produksi perusahaan itu dengan harga yang tinggi. Hak eksklusif yang menjamin adanya perusahaan tunggal dalam pasar belum menjamin bahwa harga ditetapkan pada tingkat yang rendah. Walaupun perusahaan tersebut dapat mengecap skala ekonomi dengan sepenuhnya, yang menyebabkan biaya produksi berada pada tingkat yang sangat rendah, belum tentu perusahaan akan menjual hasil produksinya pada harga yang rendah. Untuk menghindari agar perusahaan tidak mengambil tindakan yang seperti itu pemerintah, di samping memberikan hak monopoli, akan mene­tapkan harga/tarif penjualan dari barang/jasa yang disediakan perusahaan tersebut. Dengan cara ini dapatlah kepentingan para konsumen dilindungi, yaitu para konsumen dapat membeli barang yang dihasilkan perusahaan monopoli pada tingkat harga yang relatif rendah.


8.2.   PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN DALAM MONOPOLI

Dalam menggambarkan prinsip    penentuan pemaksimuman keuntungan dalam monopoli dua cara akan digunakan, yaitu dengan menggunakan cara ini akan angka-angka dap secara grafik. Untuk masing‑masing ditunjukkan prinsip penentuan pemaksimuman keuntungan berdasarkan pendekatan (i) biaya total dan hasil penjualan total dan (ii) biaya marginal dan hasil penjualan marginal. Sebelum melaksanakan hal‑hal tersebut terlebih  dahulu akan dilihat hubungan di antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan/diproduksikan, dan implikasi dari sifat hubungan tersebut kepada hasil penjualan total.

8.2.1. Produksi, Harga Dan Penjualan

Telah dinyatakan bahwa dalam monopoli hanya ada satu perusahaan dalam pasar. Oleh karenanya permintaan dalam industri adalah juga permintaan ke atas produksi perusahaan monopoli tersebut. Telah diterangkan sifat umum dari permintaan barang‑barang, yaitu: makin tinggi harga sesuatu barang, makin sedikit jumlah yang diminta. Sifat ini menyebabkan kurva permintaan ke atas suatu barang adalah bersifat menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Permintaan ke atas produksi monopoli tidak menyimpang dari sifat umum ini. Berarti suatu monopoli akan dapat memperoleh harga penjualan yang tinggi apabila produksinya sedikit, dan harga penjualan semakin rendah apabila produksi semakin banyak.

Dalam menerangkan mengenai persaingan sempurna telah dijelas­kan bahwa permintaan bersifat elastis sempurna (yaitu kurva permintaan adalah sejajar dengan sumbu datar) dan sebabnya adalah karena berapa pun produksi yang dijual perusahaan, harga tidak berubah. Sebagai akibatnya harga = hasil penjualan marginal – yaitu P = MR. Permintaan yang dihadapi oleh monopoli adalah berbeda dengan yang dihadapi oleh suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Sebagai akibatnya dalam monopoli, seperti akan diterangkan di bawah ini, harga selalu lebih tinggi dan hasil penjualan marginal.

Contoh angka

Untuk lebih memahami sifat hubungan di antara jumlah produksi, harga, hasil penjualan total, dan hasil penjualan marginal, di dalam Tabel 8.1 dikemukakan suatu contoh hipotesis mengenai hal tersebut. Sesuai dengan sifat permintaan ke atas produksi monopoli seperti yang telah diterangkan di atas, dalam Tabel 8.1 ditunjukkan bahwa semakin besar jumlah produksi (perhatikan kolom 1), semakin rendah harga barang (perhatikan kolom 2). Bagaimana implikasi dari keadaan tersebut ke atas hasil penjualan total dan marginal berturut‑turut ditunjukkan dalam kolom (3) dan (4). Hasil penjualan total, seperti telah ketahui, adalah jumlah produksi x harga, maka nilainya diperoleh dari mengahkan angka dalam kolom (1) dengan angka dalam kolom (2). Sesuai dengan definisi hasil penjualan marginal, yaitu tambahan hasil penjualan total apabila penjualan bertambah sebanyak 1 unit, angka dalam kolom (4) diperoleh dari menggunakan persamaan TR0 – TR0-1. Sebagai contoh TR1 (TR pada waktu jumlah produksi adalah 1) adalah Rp 18.000, sedangkan TR2 adalah =                Rp 32.000. Maka MR akibat dari kenaikan produksi dari menjadi 2 unit adalah Rp 32.000 ‑ Rp 18.000 = Rp 14.000. Angka‑angka dalam kolom (4) dihitung dengan cara ini.

TABEL. 8.1

Produksi, Harga dan Hasil Penjualan

(dalam ribu Rupiah)

Produksi

(1)

Harga

(2)

Hasil penjualan

total

(3)

Hasil penjualan

marginal

(4)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

0

0

18

32

42

48

50

48

42

32

18

0

-

18

14

10

6

2

-2

-6

-10

-14

-18

Perhatikanlah dengan lebih saksama angka‑angka hasil penjualan total yang terdapat dalam kolom (3). Sampai produksi sebanyak 5 unit hasil penjualan total terus menerus bertambah, tetapi pertambahannya adalah pada tingkat (jumlah) yang semakin berkurang. Nilai dari pertambahan hasil penjualan total yang semakin berkurang tersebut ditunjukkan dalam kolom (4). Sesudah unit ke‑5, pertambahan produksi selanjutnya akan mengurangi hasil penjualan total yang berarti hasil penjualan marginal (atau pertambahan hasil penjualan total) nilainya adalah negatif.

Kesimpulan

Berdasarkan kepada gambaran yang ditunjukkan dalam Tabel 8.1 dapat dibuat dua kesimpulan penting seperti yang dinyatakan di bawah ini. Apabila harga barang menjadi semakin menurun pada waktu jumlah produksi semakin meningkat, maka:

· Hasil penjualan total akan mengalami pertambahan, tetapi pertambahan itu semakin berkurang apabila produksi bertambah banyak. Setelah mencapai satu tingkat produksi tertentu pertambahannya akan menjadi negatif.

· Pada umumnya basil penjualan marginal nilainya adalah lebih rendah rendah daripada harga. Hanya pada waktu produksi mencapai satu unit hasil penjualan marginal = harga.

8.2.2. Pemaksimuman Keuntungan Contoh Angka

Sifat‑sifat biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan monopoli di dalam jangka pendek tidak berbeda dengan sifat‑sifat biaya produksi jangka pendek yang telah diterangkan dalam Bab Sepuluh. Di atas baru saja dijelaskan sifat permintaan, harga, hasil penjualan total dan hasil penjualan marginal dari suatu perusahaan monopoli. Dengan demikian sekarang telah dapat dikumpulkan informasi yang cukup untuk menerangkan tentang prinsip penentuan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan dalam perusahaan monopoli. Hal tersebut akan diuraikan melalui dua pendekatan dengan pertolongan contoh dalam angka‑angka. Contoh angka yang dimaksud dikemukakan dalam Tabel 8.2 dan Tabel 8.3.

Pendekatan Hasil Penjualan Total ‑ Biaya Total

Pendekatan ini akan diterangkan dengan menggunakan Tabel 8.2, yang membandingkan data hasil penjualan total dengan biaya total. Melalui perbandingan tersebut dapatlah ditentukan keuntungan yang diperoleh, atau kerugian yang dialami, pada berbagai tingkat produksi.

Data jumlah produksi, harga dan hasil penjualan total pada Tabel 8.2 adalah sama dengan dalam Tabel 8.1. Berturut‑turut data tersebut ditunjukkan dalam kolom (1), (2) dan (3). Dalam kolom (4) ditunjukkan data biaya total. Data yang hipotetis tersebut dibuat dengan menggunakan pemisalan berikut :

· Biaya tetap total adalah Rp 4.000. Berdasarkan pemisalan ini maka apabila perusahaan tidak beroperasi  yang berarti jumlah produksi adalah 0, biaya total adalah Rp 4.000.

· Sehingga produksi 4 unit hukurn hasil lebih yang semakin berkurang belum berlaku. Berarti biaya marginal semakin rendah, apabila produksi ditambah. Keadaan ini digambarkan oleh kenaikan biaya total yang semakin sedikit. Data dalam Tabel 8.2 jelas menunjuk­kan keadaan tersebut apabila produksi dinaikkan dari 0 ke 1, dari 1 ke‑2, dari 2 ke 3 dan dari 3 ke 4.

· Sesudah produksi mencapai 4 unit, hukum hasil lebih yang semakin berkurang berlaku. Sebagai akibatnya biaya marginal meningkat dan ini dapat dilihat dari pertambahan biaya total yang semakin meningkat pada setiap penambahan satu unit produksi.

TABEL. 8.2

Hasil Penjualan Produksi dan Keuntungan

(Dalam ribu Rupiah)

Produksi

(1)

Harga

(2)

Hasil penjualan

total

(3)

Biaya total

(4)

Keuntungan

(5)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

0

0

18

32

42

48

50

48

42

32

18

0

4

16

26

34

40

46

54

64

76

90

106

-

2

8

8

8

4

-6

-22

-44

-72

-106

Dengan adanya data mengenai hasil penjualan total dan biaya total seperti yang diterangkan di atas sekarang dapat ditentukan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan.

Perhatikan data dalam kolom (5). Data tersebut dihitung dengan formula berikut: Keuntungan = Hasil penjualan total dikurangi biaya total. Data dalam kolom (5) menunjukkan bahwa keuntungan maksimum dicapai pada produksi sebanyak 3 atau 4 unit dan jumlah keuntungan adalah Rp 8.000. Walaupun demikian, dalam analisis yang bersifat umum, akan selalu dikatakan bahwa perusahaan monopoli tersebut akan memproduksikan 4 unit untuk memaksimumkan keuntungan. Sebab dari kesimpulan ini telah diterangkan dalam bab yang lalu dan akan dilihat kembali dalam pendekatan penentuan keuntungan dengan menggunakan pendekatan: MC = MR.

Pendekatan Hasil Penjualan Marginal ‑ Biaya Marginal

Untuk menerangkan pendekatan ini terlebih dahulu perlu dihitung hasil penjualan marginal dan biaya marginal. Data tersebut dikemukakan dalam          Tabel 8.3.

TABEL. 8.3

Menentukan Keuntungan Dengan Pendekatan MC = MR

(Dalam ribu Rupiah)

Jumlah

produksi

(1)

Harga penjualan

marginal

(2)

Tambahan biaya

(MC=TC2 – TC1)

(3)

Tambahan

keuntungan

(4)

Jumlah keuntungan / kerugian

(5)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

-

18

14

10

6

2

-2

-6

-10

14

-18

4

16-4=12

26-16=10

34-26=8

40-34=6

46-40=6

54-46=8

64-54=12

76-64=12

90-76=14

106-90=16

-

6

4

2

0

-4

-10

-16

-22

-28

-34

-4

2

6

8

8

4

-6

-22

-44

-72

-106

Data hasil penjualan marginal yang ditunjukkan dalam kolom (2) diambil dari data yang sama dalam kolom (4) dari Tabel 12.1. Data dalam kolom (3) dihitung dengan formula berikut MC = TC2 – TC1. Data mengenai biaya total (TC) diambil dari Tabel 12.2, kolom (4). Berdasarkan kepada data dalam kolom (2), (3) dan (4) dapat ditunjukkan tambahan keuntungan pada setiap tingkat produksi. Apabila perusahaan tidak memproduksikan barang, biaya yang ditanggung perusahaan adalah Rp 4.000 dan ini meliputi biaya tetap yang mempengaruhi keuntungan. Oleh sebab itu dalam kolom (3) data tersebut dihitung sebagai “biaya marginal”.

Berdasarkan data dalam kolom (4) dalam (5) ditentukan jumlah keuntungan pada berbagai tingkat produksi. Data dalam kolom (3) jelas menunjukkan bahwa keuntungan maksimum tercapai pada tingkat produksi 3 atau 4 unit. Namun demikian dalam analisis dikatakan perusahaan itu akan memproduksi 4 unit untuk memaksimumkan keuntungan karena pada tingkat produksi tersebut MC = MR, yaitu masing‑masing bernilai Rp 6.000.

8.2.3. PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN SECARA GRAFIK

Dalam bagian ini akan diterangkan pemaksimuman keuntungan dalam perusahaan monopoli dengan menggunakan pendekatan secara grafik. Seperti dalam analisis sebelumnya, penentuan produksi yang akan memaksimumkan untung dapat dilakukan dengan dua cara berikut: (i) pendekatan hasil penjualan total‑biaya total, dan (ii) pendekatan biaya marginal ‑ hasil penjualan marginal. Sebelum cara ini dapat diterangkan terlebih dahulu perlu dilihat ciri perkaitan di antara kurva permintaan (D = AR), kurva hasil penjualan total (TR) dan kurva hasil penjualan marginal (MR). Untuk membuat analisis ini perhatikan              Gambar 8. l.

Kurva Permintaan, Penjualan Total dan Penjualan Marginal

Kurva hasil penjualan total (TR), kurva hasil penjualan rata‑rata (D=AR), dan kurva hasil penjualan marginal (MR) dalam Gambar 8.1 dibuat berdasarkan data dalam Tabel 8.1. Sampai kepada jumlah produksi sebanyak 5 unit hasil penjualan total terus mengalami kenaikan, dan kenaikan tersebut adalah pada tingkat yang semakin menurun. Sesudah jumlah produksi mencapai 6 unit hasil penjualan total semakin berkurang. Pada waktu jumlah produksi adalah 10 unit, hasil penjualan total adalah nol.

Hasil penjualan total yang seperti itu sifatnya, apabila digambarkan, adalah seperti yang ditunjukkan oleh kurva TR dalam Gambar 8.1 (i), yaitu berbentuk huruf U yang terbalik. Kurva TR akan selalu berbentuk seperti itu di dalam keadaan di mana kurva permintaan DD adalah seperti yang terdapat pada Gambar 8.1 (ii), yaitu yang menggambarkan bahwa kalau harga semakin rendah maka jumlah yang diminta semakin banyak. Telah diterangkan bahwa sepanjang kurva permintaan berlaku sifat berikut: (i) apabila elastisitas permintaan < 1 maka penurunan harga akan mengurangi  hasil penjualan (ii) apabila elastisitas permintaan >1 penurunan harga akan menambah hasil penjualan. Berdasarkan kepada sifat ini, kalau diperhatikan sifat perhubungan di antara kurva permintaan DD dan kurva TR pada Gambar 8.1, dapat dibuat kesimpulan yang berikut:

· Karena OA menggambarkan hasil penjualan total yang semakin bertambah pada harga yang semakin menurun, maka bagian kurva permintaan DD yang terletak di bagian atas titik C (lihat grafik ii) mempunyai elastisitas  permintaan > 1.

· Karena AB menggambarkan hasil penjualan total yang semakin berkurang pada harga yang semakin menurun, maka bagian kurva permintaan yang terletak. di bagian yang lebih ke bawah dari titik C mempunyai elastisitas permintaan < 1.

· Pada titik C elastisitas permintaan adalah satu atau uniter.

GAMBAR. 8.1

Kurva Hasil Penjualan Total, Rata-rata dan Marginal

 

Menentukan Keuntungan Maksimum

Di dalam Gambar 8.2 dan Gambar 8.3 ditunjukkan cara menentukan keuntungan maksimum firma monopoli secara grafik. Di dalam Gambar 8.2 keuntungan maksimum firma ditentukan dengan menggunakan bantuan kurva hasil penjualan total dan biaya total. Sedangkan dalam Gambar 8.3 keuntungan maksimum tersebut ditentukan dengan meng­gunakan pertolongan kurva biaya marginal dan hasil penjualan marginal.

Kurva TR dalam Gambar 8.2 menggambarkan hasil penjualan total, dan kurva TC menggambarkan kurva biaya total. Di sebelah kiri dari titik A, dan di sebelah kanan dari titik B, kurva TC berada di atas kurva TR. Keadaan ini berarti biaya total melebihi hasil penjualan total, yaitu kedudukan yang merugikan perusahaan. Keuntungan hanya akan dinikmati apabila TR ‑ TC > 0, dan ini berlaku di antara titik A dan B. Perbedaan di antara TR dan TC adalah paling maksimum apabila garis tegak di antara kurva TR dengan TC adalah yang paling panjang. Oleh karena CD merupakan jarak TR dan TC yang paling panjang, maka tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan adalah 4 unit.

GAMBAR. 8.2

Penjualan Total, Biaya Total dan Keuntungan

 

Gambar 8.3 menunjukkan cara untuk menentukan tingkat produksi di mana keuntungan maksimum dicapai dengan menggunakan pendekatan hasil penjualan marginal sama dengan biaya marginal (MR = MC). Kurva AC, MC, D = AR, MR dibuat berdasarkan kepada bentuk kurva ‑ kurva tersebut seperti yang diterangkan dalam bab‑bab yang lalu dan uraian sebelum ini. Seterusnya telah diterangkan bahwa keuntungan maksimum dapat ditentukan dengan melihat pada tingkat produksi yang mana keadaan  MR = MC wujud. Kurva MR dan MC berpotongan pada waktu tingkat produksi sebanyak Q unit. Hasil penjualan total adalah OP x OQ, atau sama dengan OPAQ. Sedangkan biaya total adalah OC x OQ, atau sama dengan OCBQ. Dengan demikian keuntungan maksimum ditunjukkan oleh kotak PABC.

GAMBAR. 8.3

Hasil Penjualan Marginal, Biaya Marginal,

Dan Keuntungan Maksimum

 

>(DD) dan penawaran (SS) di dalam pasar persaingan sempurna. Dengan demikian harga adalah Ps dan jumlah barang yang diperjualbelikan di pasar adalah Qs. Telah diterangkan bahwa (i) kurva penawaran pasar persaingan sempurna adalah gabungan kurva biaya marginal perusahaan­-perusahaan, dengan demikian SS = ΣMC, dan (ii) setiap perusahaan memperoleh keuntungan normal, berarti harga adalah sama dengan biaya produksi per unit yang paling minimum.

GAMBAR. 8.8

Perbandingan Efisiensi Monopoli

Dan Persaingan Sempurna (Biaya Sama)

 

Seterusnya misalkan seluruh perusahaan dalam persaingan sempurna bergabung dan menjadi satu perusahaan monopoli. Dalam gabungan ini dimisalkan juga bahwa biaya produksi tidak mengalami perubahan. Oleh sebab itu kurva SS sama dengan ΣMC dari pasar persaingan sempurna sekarang berubah menjadi kurva biaya marginal perusahaan monopoli (SS = MC.). Perubahan ini ditunjukkan dalam Gambar 8.8 (ii). Gambar tersebut menunjukkan keadaan sebelum dan sesudah perusahaan monopoli diwujudkan. Harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan sebelum perusahaan‑perusahaan bergabung berturut‑turut adalah Ps dan Qs.

Sesudah perusahaan‑perusahaan itu menjadi perusahaan monopoli harga tidak sama dengan hasil penjualan marginal. Dengan permintaan pasar seperti DD, hasil penjualan marginal adalah MR. Maka perusahaan mono­poli akan memaksimumkan keuntungan apabila jumlah produksi adalah Qm. Pada tingkat produksi ini harga akan mencapai Pm.

Berdasarkan perbandingan antara keadaan di pasar persaingan sempurna dan monopoli yang diterangkan dengan menggunakan Gambar 8.8 dapat diambil beberapa kesimpulan seperti yang dinyatakan di bawah

· Persaingan sempurna menggunakan sumber‑sumber daya dengan lebih efisien dari monopoli. Dalam monopoli P lebih besar dari MC sedangkan dalam persaingan sempurna Ps = MC.

· Harga dalam monopoli lebih tinggi dan barga dalam pasar persaingan sempurna.

· Jumlah produksi dalam pasar persaingan sempurna lebih tinggi daripada dalam monopoli.

· Biaya produksi per unit dalam monopoli adalah lebih tinggi daripada dalam persaingan sempurna. Dalam persaingan sempurna perusahaan hanya memperoleh untung normal, berarti biaya produksi per unit sama dengan Ps. Karena dimisalkan kurva biaya untuk pasar persaingan sempurna adalah sama dengan kurva biaya monopoli, maka Ps adalah biaya rata‑rata yang paling rendah dalam perusahaan mono­poli. Biaya per unit sebesar itu akan dibelanjakan monopoli apabila produksi adalah sebesar Qs. Tetapi monopoli memproduksikan Qm maka biaya produksinya per unit harus lebih tinggi        dari Ps.

2. Biaya produksi berbeda Kesimpulan‑kesimpulan dalam analisis sebelum ini hanyalah benar apabila dianggap kurva biaya produksi di pasar persaingan sempurna adalah sama dengan di dalam monopoli. Sekiranya monopoli dapat menikmati skala ekonomi sehingga ke tingkat produksi yang sangat tinggi, kurva biaya rata‑rata akan berbeda dari yang dimisalkan di atas. Besar kemungkinan ia berada di bawah kurva biaya rata‑rata dari pasar persaingan sempurna. Walaupun produksi telah mencapai Qs biaya produksi rata‑rata masih tetap menurun. Apabila kurva biaya produksi rata-rata mempunyai sifat seperti itu, kurva MC‑nya akan terletak di sebelah kanan dari MC dalam pasar persaingan sempurna. Sebagai akibat dari keadaan seperti ini, perusahaan monopoli mungkin akan memproduksi lebih banyak dan harga juga lebih rendah dari dalam pasar persaingan sempurna.

Dalam Gambar 8.9 ditunjukkan efek dari biaya produksi yang berbeda di antara pasar persaingan sempurna dan monopoli terhadap harga dan jumlah produksi dalam monopoli. Kurva DD menggambarkan permintaan di kedua pasar, MC adalah biaya marginal di kedua pasar apabila dimisalkan biaya produksi adalah sama, dan MR adalah hasil penjualan marginal dalam pasar monopoli. Dengan demikian maka (i) produksi dan harga di persaingan sempurna adalah Qs dan Ps, dan (ii) produksi dan harga di monopoli adalah Qm dan Pm.

GAMBAR. 8.9

Perbandingan Efisiensi Monopoli dan Persaingan

Sempurna Apabila Biaya Berbeda

 

Selanjutnya sekarang dimisalkan monopoli dapat menikmati skala ekonomi (misalnya sebagai akibat kemajuan teknologi dan inovasi) sehingga kurva biaya berubah menjadi AC1 dan MC1. Kurva LRAC dan LRMC menggambarkan kurva biaya jangka panjang. (Catatan: skala ekonomi berlaku dalam jangka panjang). Keuntungan yang maksimum akan dicapai monopoli apabila memproduksi sebanyak Qn dan pada tingkat produksi itu harga pasar akan mencapai Pn. Ini menunjukkan bahwa (i) harga dalam pasar monopoli lebih rendah dari dalam pasir persaingan sempurna, dan (ii) jumlah. produksi dalam pasar monopoli adalah lebih besar.

8.7.2. Perkembangan Teknologi Dan Inovasi

Terdapat pertentangan di antara ahli‑ahli ekonomi di dalam menilai apakah monopoli memberi perangsang dalam mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi. Sebagian ahli ekonomi berpendapat perkembangan teknologi dan inovasi akan terhambat apabila terdapat kekuatan monopoli. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa monopoli akan memberi dorongan kepada perkembangan teknologi dan inovasi. Alasan‑alasan dari masing‑masing pendapat ini diterangkan di bawah ini.

Pandangan I: Monopoli Tidak Merangsang Inovasi

Golongan yang berpendapat bahwa monopoli tidak merangsang perkembangan teknologi dan inovasi melandaskan keyakinannya kepada pandangan bahwa ketiadaan persaingan menimbulkan keengganan kepada monopoli untuk melaksanakan perubahan. Tanpa adanya persaingan monopoli tidak perlu gelisah akan kehilangan pasar dan mengalami kerugian karena perusahaan lain tidak akan masuk ke dalam industri tersebut. Maka selama ia tidak diperlukan, perubahan dalam teknologi dan inovasi tidak akan dilakukan oleh monopoli. Keengganan melakukan perubahan disebabkan juga karena perkembangan teknologi dan inovasi mungkin menimbulkan pengorbanan yang besar kepada monopoli, yaitu berupa pengeluaran untuk membeli mesin dan peralatan yang baru, dan harus mempercepat penyusutan mesin clan peralatan yang lama. .

Pandangan II Monopoli Merangsang Inovasi

Golongan yang berpendapat bahwa monopoli akan mendorong perkem­bangan teknologi dan inovasi didasarkan kepada dua alasan berikut:

· Perkembangan teknologi dan inovasi adalah suatu cara untuk mengurangi biaya per unit dan meninggikan keuntungan. Dan seperti telah ditunjukkan dalam Gambar 12.9, bersamaan dengan keuntungan yang bertambah tinggi tersebut juga harga dapat diturunkan dan jumlah produksi diperbanyak. Berarti kemajuan teknologi bukan saja menambah keuntungan perusahaan tetapi juga kesejahteraan masyarakat.

· Memiliki teknologi yang lebih baik dari perusahaan lain adakalanya merupakan sumber dari terwujudnya monopoli Dengan demikian. untuk perusahaan ‑ perusahaan yang memperoleh kekuasaan mono­poli dengan cara itu, mengadakan penyelidikan dan mengembang­kan teknologi secara terus‑menerus merupakan syarat penting untuk mempertahankan kekuasaan monopolinya.

8.7.3. Monopoli Dan Kesejahteraan Masyarakat

Telah diterangkan bahwa dalam monopoli terdapat kemungkinan, berlakunya keadaan berikut: harga akan lebih tinggi, jumlah produksi lebih rendah, dan keuntungan lebih besar daripada dalam pasar persaingan sempurna Berdasarkan kepada kemungkinan ini kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa monopoli menimbulkan akibat yang buruk ke atas kesejahteraan masyarakat dan distribusi pendapatan menjadi lebih tidak merata. Monopoli akan memperoleh keuntungan yang lebih dari normal, dan ini akan dinikmati oleh pengusaha monopoli dan pemegang‑pemegang sahamnya. Mereka pada umumnya terdiri dari penduduk yang berpendapatan tinggi atau menengah. Para pekerja, yang merupakan golongan yang relatif miskin, tidak akan memperoleh sesuatu apa pun dari keuntungan monopoli yang lebih tinggi dari keuntungan nominal tersebut.

Tanpa ada hak eksklusif untuk berusaha sebagai perusahaan monopoli, akan wujud kemungkinan berlakunya keadaan di mana beberapa perusahaan baru pada akhirnya beroperasi dalam pasar. Dalam keadaan seperti itu pasaran telah berubah menjadi oligopoli. Ini menyebabkan setiap perusahaan tidak dapat menikmati skala ekonomi secara maksimum. Maka setiap perusahaan akan menetapkan harga/tarif yang tinggi ke atas barang/jasa yang dihasilkannya. Keadaan seperti ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat, karena mereka harus membayar dengan harga yang tinggi tersebut.

Hak eksklusif yang menjamin adanya perusahaan tunggal dalam pasar belum menjamin bahwa harga ditetapkan pada tingkat yang rendah. Walaupun perusahaan tersebut dapat mengecap skala ekonomi dengan sepenuhnya, yang menyebabkan biaya produksi berada pada tingkat yang rendah sekali, belum tentu perusahaan akan menjual hasil produksinya dengan harga yang rendah. Sadar bahwa ia mempunyai kekuasaan monopoli mungkin menyebabkan ia akan menetapkan harga yang tinggi juga. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah, di samping memberikan hak monopoli, akan menetapkan harga/tarif penjualan dari barang/jasa yang disediakan perusahaan tersebut. Dengan cara ini dapatlah kepentingan para konsumen dilindungi, yaitu para konsumen dapat membeli barang yang dihasilkan perusahaan monopoli pada tingkat harga yang relatif rendah.

BAB VII PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

 

Dalam bab ini anda akan mempelajari:

  • Ciri pasar persaingan sempurna.
  • Pemaksimuman keuntungan jangka pendek.
  • Biaya marginal dan kurva penawaran.
  • Operasi perusahaan dan industri dalam jangka panjang.
  • Kebaikan dan keburukan pasar persaingan sempurna.

Persaingan sempurna merupakan struktur pasar yang paling ideal, karena dianggap sistem pasar ini adalah struktur pasar yang akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang atau jasa yang tinggi (optimal) efisiensinya. Dalam analisis ekonomi sering dimisalkan bahwa perekonomian merupakan pasar persaingan sempurna. Akan tetapi dalam prakteknya tidaklah mudah untuk menentukan jenis industri yang struktur organisasinya digolongkan kepada persaingan sempurna yang murni, yaitu yang ciri‑cirinya sepenuhnya bersamaan dengan dalam teori. Yang ada adalah yang mendekati ciri‑cirinya, yaitu struktur pasar dari berbagai kegiatan di sektor pertanian.

               Namun demikian, walaupun pasar persaingan sempurna yang murni tidak wujud di dalam praktek, adalah sangat penting untuk mempelajari tentang corak kegiatan perusahaan dalam persaingan sempurna. Pengetahuan mengenai keadaan persaingan sempurna dapat dijadikan landasan di dalam membuat perbandingan dengan ketiga jenis struktur pasar lainnya. Di samping itu analisis ke atas pasar persaingan sempurna adalah suatu permulaan yang baik dalam mempelajari cara‑cara perusahaan menentukan harga dan produksi di dalam usaha mereka untuk mencari keuntungan yang maksimum.

 

7.1    CIRI-CIRI PASAR PERSAINGAN SEMPURNA

Pasar persaingan sempurna dapat didefinisikan sebagai struktur pasar atau industri di mana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual atau pun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar. Ciri‑ciri selengkapnya dari pasar persaingan sempurna adalah seperti yang diuraikan di bawah ini.

Perusahaan Adalah Pengambil Harga

       Pengambil harga atau price taker berarti suatu perusahaan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau mengubah harga pasar. apa pun tindakan perusahaan dalam pasar, ia tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi di antara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli. Seorang produsen adalah terlalu kecil peranannya di dalam pasar sehingga tidak dapat mempengaruhi penentuan harga atau tingkat produksi di pasar. Peranannya yang sangat kecil tersebut disebabkan karena jumlah produksi yang diciptakan seorang produsen merupakan sebagian kecil saja dari keseluruhan jumlah barang yang dihasilkan dan diperjualbelikan.

 

Setiap Perusahaan Mudah Ke Luar Atau Masuk

Sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dapat dengan mudah dilakukan. Sebaliknya apabila, ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut, produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan yang diinginkannya tersebut. Sama sekali tidak terdapat hambatan‑hambatan, baik secara legal atau dalam bentuk lain secara keuangan atau secara kemampuan teknologi, misalnya kepada perusahaan‑perusahaan untuk memasuki atau meninggalkan bidang usaha tersebut.

 

Menghasilkan Barang Serupa ­

Barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Barang yang dihasilkan sangat sama atau serupa. Tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara barang yang dihasilkan suatu perusahaan dengan produksi perusahaan lainnya. Barang seperti itu dinamakan dengan istilah barang identical atau homogemous. Karena barang‑barang tersebut adalah sangat serupa para pembeli tidak dapat membedakan yang mana yang dihasilkan oleh produsen A atau B atau produsen lainnya. Barang yang dihasilkan seorang produsen merupakan pengganti sempurna kepada barang yang dihasilkan produsen‑produsen lain. Sebagai akibat dari sifat ini, tidak ada gunanya kepada perusahaan‑perusahaan untuk melakukan persaingan yang berbentuk persaingan bukan harga atau nonprice competition yaitu persaingan dengan misalnya melakukan iklan dan promosi penjualan. Cara ini tidak efektif untuk menaikkan penjualan karena pembeli mengetahui bahwa barang‑barang yang dihasilkan berbagai produsen dalam industri tersebut tidak ada bedanya sama sekali.

 

Terdapat Banyak Perusahaan di Pasar

Sifat inilah yang menyebabkan perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengubah harga. Sifat ini meliputi dua aspek, yaitu jumlah perusahaan sangat banyak clan masing‑masing perusahaan adalah relatif kecil kalau  dibandingkan dengan keseluruhan jumlah perusahaan di dalam pasar. Sebagai akibatnya produksi setiap perusahaan adalah sangat sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah produksi dalam industri tersebut. Sifat ini menyebabkan apa pun yang dilakukan perusahaan, seperti menaikkan  atau menurunkan harga dan menaikkan atau menurunkan produksi, sedikit pun ia tidak mempengaruhi harga yang berlaku dalam pasar/industri tersebut.

 

Pembeli Mempunyai Pengetahuan Sempurna Mengenai Pasar

Dalam pasar persaingan sempurna juga dimisalkan bahwa jumlah pembeli adalah sangat banyak. Namun demikian dimisalkan pula bahwa masing-­masing pembeli tersebut mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai keadaan di pasar, yaitu mereka mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan‑perubahan ke atas harga tersebut. Akibatnya para produser tidak dapat menjual barangnya dengan harga yang lebih tinggi dari yang berlaku di pasar.

 

7.2    PERMINTAAN DAN HASIL JUALAN

Di dalam menganalisis usaha sesuatu perusahaan untuk memaksimumkan keuntungan, dua hal harus diperhatikan :

•   Biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan.

•   Hasil penjualan dari barang yang dihasilkan perusahaan itu.

Sifat biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah bersamaan, walau dalam struktur pasar manapun ia digolongkan. Dengan perkataan lain, apakah sesuatu perusahaan itu berada dalam pasar persaingan sempurna, atau monopoli, atau oligopoli, atau persaingan monopolistis, ciri-­ciri fungsi produksi dan biaya produksinya adalah seperti yang dijelaskan dalam Bab Sembilan dan Bab Sepuluh. Akan tetapi sifat hasil penjualan adalah berbeda di antara pasar persaingan sempurna dengan struktur pasar lainnya. Perbedaan ini disebabkan karena ditinjau dan sudut seorang produsen, bentuk permintaan yang dihadapi oleh seorang produsen di pasar persaingan sempurna berbeda sifatnya dengan yang dihadapi seorang produsen di pasar lainnya.

 

7.2.1. PERMINTAAN PASAR DAN PERUSAHAAN

 

            Apakah ciri pertama dari pasar persaingan sempurna yang diterangkan pada bagian sebelum ini? Sifat tersebut adalah setiap perusahaan adalah pengambil harga, yaitu sesuatu perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk menawarkan harga. Interaksi seluruh produsen dan seluruh pembeli di pasar yang akan menentukan harga pasar, dan seorang produsen hanya “Menerima” saja harga yang sudah ditentukan tersebut. Ini berarti berapa banyak pun barang yang diproduksikan dan dijual oleh produsen, ia tidak akan dapat mengubah harga yang ditentukan di pasar, karena jumlah yang diproduksikan itu hanya sebagian kecil saja dari jumlah yang diperjualbelikan di pasar.

 

BAB VI TEORI TINGKAH LAKU PRODUSEN

 

6.1.      Fungsi Produksi

Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan teknis antara tingkat output dengan tingkat penggunaan kombinasi input-input (factor-faktor produksi) yang tidak terhitung banyaknya yang digunakan dalam proses produksi, dengan kata lain bahwa dapat dikatakan sebagai hubungan input-input sumberdaya perusahaan dan output yang berupa barang dan jasa per unit waktu.

Secara matematis hubungan tersebut dapat ditulis :

 

Q  =  f (  X1,   X2,   X3, ……….., Xn  )

dimana :

Q adalah jumlah output yang dihasilkan .

X adalah input (faktor Produksi) yang digunakan dalam proses produksi.

 

            Dalam teori ekonomi seorang produsen atau pengusaha harus dapat memutuskan dua macam keputusan :

  1. Berapa output yang harus diproduksi;
  2. Berapa dan dalam kombinasi yang bagaimana factor produksi atau input dipergunakan agar tercapai keuntungan maksimum dalam operasi dipasar persaingan sempurna, sedangkan dalam pasar persaingan tidak sempurna, ada satu keputusan lagi yang harus diambil, yaitu menentukan tingkat harga jual output.

            Pada dasarnya yang dimaksud dengan metoda produksi adalah suatu kombinasi dari faktor-faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi satu satuan produk.

            Sedangkan setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang dalam ekonomi disebut dengan fungsi produksi.

            Untuk penganalisaan  proses produksi baik secara phisik maupun hubungannya dengan ongkos produksi, maka akan lebih mudah bila faktor produksi diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

  1. Fixed Factor, yaitu factor-faktor produksi yang tetap atau tahan lama yang dapat digunakan dalam proses produksi yang dalam waktu relatif pendek tidak dapat dirobah.
  2. Variabel Factor, yaitu factor produksi yang sifatnya berubah-rubah dalam proses produksi sesuai dengan tingkat output yang dibutuhkan .

Berdasarkan dimensi waktu proses produksi dibagi atas :

  1. Proses produksi jangka panjang ;
  2. Proses produksi jangka pendek ;

Dalam proses produksi dikenal suatu hukum yaitu : The law of diminishing return, artinya adalah bila satu macam input ditambah penggunaannya, sedangkan input yang lain tetap, maka tambahan output yang dihasilkan oleh setiap tambahan satu unit input tadi mula-mula total output menaik dan kemudian naik semakin kecil yang akhirnya menurun.

Dalam proses produksi dikenal istilah-istilah berikut :

  1. Produk Phisik Marginal (Marginal Physical Product: MPP), yaitu tambahan output yang dihasilkan oleh akibat dari penambahan satu unit variabel input (factor produksi)sedangkan factor-faktor lain dianggap konstan.

MPP ini hanya untuk satu variabel factor produksi , walaupun terdapat banyak variabel factor produksi yang terlibat dalam proses produksi tersebut, jika terdapat dua jenis input, berarti terdapat dua Mpp,

Secara matematis MPP dapat ditulis :

                 ΔQ                                     ΔQ

MPP1 = ——–                 MPP2 = ———

                ΔX1                                  ΔX2

 

  1. Produk Phisik Total (Total Phisycal Product : TPP), adalah kurva yang menunjukkan tingkat produksi total/keseluruhan pada penggunaan berbagai tingkat variabel input tertentu.

 

 

Gambaran data dari MPP dan TPP, dapat dilihat pada table. 6.1

 

Tabel. 6.1.

Data total produksi dan marginal produksi

Penggunaan input tenaga kerja.

 

T. Kerja Total Produk (TPP) Marginal Produk (MPP)
0

1

2

3

4

5

0

2.000

3.000

3.500

3.800

3.900

0

2.000

1.000

500

300

100

 

Keterangan :

 

Saat penggunaan 1 unit input, dihasilkan output sebanyak 2000 unit, setelah ada penambahan satu unit input tenaga kerja, TPP naik menjadi 3000 unit, demikian seterusnya, setiap kali dilakukan penambahan factor input, akan menambah TPP, tetapi MPP bertambah dengan angka semakin menurun, aki penggunaan 1 unit tenaga kerja (input).

 

Secara matematis dapat ditulis :

            TPP = f ( X ) atau  Q = f ( X )

Maka MPP dapat juga ditulis sbb :

                              ΔTPP                Δ Q              df (X)          

            MPP x  =   ——-     =    ———    =     ——-

                                ΔX                  ΔX                 dX 

 

  1. Produk Phisik Rata-rata  (Avarage Physical Product : APP), adalah kurva yang menunjukkan hasil rata-rata persatu unit output yang dihasilkan pada berbagai tingkat penggunaan variebel input tersebut.

 

Secara matematis ditulis :

                               TPP          Q          f (x)

                 APP = ——– = ——— = ——–

                                 X            X            X

 

Secara matematis dapat dibuktikan sebagai berikut :

 

                                                   Q = f ( X1, X2)

                                                            Q               f (x1, x2)

APP =   —–    =    ———-

                                                            X1                 X1

 

                                              MPP = —–       =   F (x1, x2)

 

Saat APP maksimum, maka penambahan APP = 0, atau turunan pertama pada fungsi produksi tersebut adalah sama dengan 0, atau dAPP / dx1 = 0, maka dapat ditulis menjadi :

d APP            F’ (x1, x2) x1 – f (x1, x2)

——   =   ———————————- =  0

d X1                               X1

 

 

d APP           F’ (x1, x2) x1 – f (x1, x2)

——   =   ———————————-  : x1

 d X1                             X1

 

           =   F’ (x1 , x2) =  f (x1, x2)

                                           X1

                        MPP   =   APP saat maksimum.

Terbukti bahwa APP akan sama dengan APP, pada saat APP maksimum.

 

6.2.          Tahap – Tahap Produksi

Dalam proses produksi seorang produsen akan memperhatikan dengan seksama daerah-daerah  berproduksi yang dapat memberikan hasil yang optimal, dalam hal ini, tahap-tahap produksi dapat dibagi kedalam tiga daerah tahapan pada kurva TPP,

 

6.2.          Isoquant dan Isocost

6.2.1.     Isoquant / Iso product/ Equal Product Curve

Isoquant  Curve disebut juga  Isoproduct Curve atau Equal Product Curve adalah merupakan kurva yang menunjukkan kombinasi yang berbeda-beda dari dua sumber daya, yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk yang sama jumlahnya.

Atau dapat juga dikatakan suatu kurva yang menunjukkan semua kombinasi fungsi  produksi yang mungkin secara phisik dapat menghasilkan sejumlah output tertentu.

Isoquant ini bisa didapatkan dari fungsi produksi, karena ia menerangkan apa yang diinginkan perusahaan dengan fungsi produksi yang diberikan.

Kegunaan dari Isoquant ini adalah untuk menentukan posisi least cost  combination.

 

Secara matematis dapat dibuktikan sebagai berikut :

 

                                                   Q = f ( X1, X2)

                                                            Q               f (x1, x2)

APP =   —–    =    ———-

                                                            X1                 X1

 

                                              MPP = —–       =   F (x1, x2)

 

Saat APP maksimum, maka penambahan APP = 0, atau turunan pertama pada fungsi produksi tersebut adalah sama dengan 0, atau dAPP / dx1 = 0, maka dapat ditulis menjadi :

d APP            F’ (x1, x2) x1 – f (x1, x2)

——   =   ———————————- =  0

d X1                               X1

 

 

d APP           F’ (x1, x2) x1 – f (x1, x2)

——   =   ———————————-  : x1

 d X1                             X1

 

           =   F’ (x1 , x2) =  f (x1, x2)

                                           X1

                        MPP   =   APP saat maksimum.

Terbukti bahwa APP akan sama dengan APP, pada saat APP maksimum.

 

6.2.          Tahap – Tahap Produksi

Dalam proses produksi seorang produsen akan memperhatikan dengan seksama daerah-daerah  berproduksi yang dapat memberikan hasil yang optimal, dalam hal ini, tahap-tahap produksi dapat dibagi kedalam tiga daerah tahapan pada kurva TPP,

 

6.2.          Isoquant dan Isocost

6.2.1.     Isoquant / Iso product/ Equal Product Curve

Isoquant  Curve disebut juga  Isoproduct Curve atau Equal Product Curve adalah merupakan kurva yang menunjukkan kombinasi yang berbeda-beda dari dua sumber daya, yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk yang sama jumlahnya.

Atau dapat juga dikatakan suatu kurva yang menunjukkan semua kombinasi fungsi  produksi yang mungkin secara phisik dapat menghasilkan sejumlah output tertentu.

Isoquant ini bisa didapatkan dari fungsi produksi, karena ia menerangkan apa yang diinginkan perusahaan dengan fungsi produksi yang diberikan.

Kegunaan dari Isoquant ini adalah untuk menentukan posisi least cost  combination.

 

Sifat-sifat isoquant adalah :

1)     Cembung kearah titik nol (0), sebab inputnya tidak merupakan barang subtitusi sempurna.

2)     Menurun dari kiri atas kekanan bawah, karena satu sumberdaya dapat di subsitusi kan dengan sumberdaya lain.

3)     Output semakin tinggi bagi kurva yang terletak lebih kanan dan atas.

4)     Kemungkinan bias saling berpotongan, sehingga ada kemungkinan perusahaan dapat memproduksi dua jenis barang dengan input yang sama.

5)     Kemungkinan untuk mempunyai slope positif pada tingkat penggunaan input tinggi.

6)     Semakin kebawah  MRTS semakin kecil.

Perbedaan antara Indiferensi seorang konsumen dengan Isoquant produsen adalah dimensi ketiga pada Indiferensi konsumen adalah utilitas yang sulit diukur, sedangkan pada isoquant dimensi ketiganya adalah produksi total, yang angkanya dapat ditentukan.

Perbedaan lainnya adalah, kalau konsumen dibatasi oleh pendapatan yang membatasi pengeluaran konsumen, sedangkan pengusaha dapat merubah pengeluaran totalnya untuk factor produksi.

6.2.1.     Isocost Curve

Isocost adalah kurva yang menunjukkan hubungan titik-titik kombinasi factor produksi yang dapat dimiliki oleh modal (anggaran belanja perusahaan) yang tertentu besarnya.

Secara matematis dapat ditulis :

C  =  X.  Px  +  Y.  Py

 

Dimana :

                    C      adalah besar modal.

         X dan Y      adalah factor produksi.

       Px  dan  Py           adalah harga input x dan y.

 

6.2.          Keseimbangan Produsen

6.2.1.     Least Cost Combination (LCC)

Least Cost Combination (LCC) adalah suatu titik/keadaan yang memberikan kombinasi penggunaan input-input/factor produksi

Untuk menghasilkan suatu tingkat output tertentu dengan ongkos total yang minimum.

Untuk menghasilkan / menentukan kombinasi yang optimal ini diperlukan tiga data, yaitu :

a)     Isoquant, untuk menentukan tingkat output yang dikehendaki;

b)     Harga factor produksi/input pertama (X1)

c)     Harga factor produksi/input kedua (X2)

Bila dimisalkan fungsi produksi adalah Q = x1.x2, dengan harga masing-masing input tersebut adalah P1 dan P2, maka isocostnya adalah  C = P1. x1 + P2 . x2,

sekarang akan dicapai LCC untuk tingkat output tersebut dengan mensubsitusikannya, maka dapat ditulis sbb :

                                                                                    Q

            Q = x1.x2          dapat ditulis menjadi     x1 = ——-

                                                                                    X2

Ongkos untuk menghasilkan output  tersebut menjadi :

 

                                   P1.Q

                        C =  ———-+ P2 .x2

                                      X2

 

Untuk menghasilkan Q dengan ongkos yang minimum, maka harus dipenuhi syarat turunan pertama fungsi ongkos tersebut = 0

 

                                                            DC

                                                           —— = 0

                                                            dx2

maka  :

 

               dC     QP1                                   P2           Q

               —- = —– + P2  = 0     atau       —–  =  ——– 

               dx2      x2                                     P1          X2

 

jadi syarat LCC secara umum bias ditulis sebagai berikut :

                 P2         dX1                               P2       Δ X1

                —– =  ——-             atau          —– = ——–

                 P1          dX2                               P1      ΔX2

 

ΔX1/ΔX2  sering disebut juga dengan istilah Marginal Rate of Technical Subtitution (MRTS).

Selanjutnya syarat LCC dinyatakan sebagai berikut :

                                        P2

                                      —– = MRTS

                                       P2


Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS)

Adalah Tingkat Subsitusi Marjinal yang semakin menurun, artinya berapa jumlah salah satu input harus dikompensasikan akibat penambahan satu unit input lainnya, sehingga tingkat output dapat dipertahankan.

 

MRTS ini merupakan slope /kemiringan dari kurva isoquant pada titik tertentu, yang besarnya sebesar MPPx / MPPy.

Posisi LCC dalam gambar adalah merupakan titik  persinggungan  antara kurva isocost dengan kurva isoquant ( Px / Py = MPPx / MPPy = MRTS ).

Sehingga masalah perusahaan dapat dirumuskan bahwa setiap perusahaan ingin mencapai tingkat Isoquant yang tertinggi , apabila Isocostnya ditentukan, artinya perusahaan akan memproduksi / mencapai keseimbangan pada saat slope kurva isocost sama dengan slope kurva isoquant.

 

6.4.2.   Hubungan LCC dengan keuntungan maksimum

            Dalil LCC dan dalil keuntungan  maksimum mempunyai hubungan yang erat , sebagaimana terlihat berikut ini :

         d X1       P2

LCC = —— = ——-

          d X2        P1

Bila sisi kiri persamaan dikalikan dengan ΔQ / Q, persamaan tersebut tidak berubah, akan menjadi :

           ΔQ             ΔX2       P2                        ΔQ       X1          P2    

atau
atau

—-             —— = ——                     —–   ——  =  ——-

                       ΔQ             ΔX1        P1                      ΔX2     ΔQ           P1

 

 

                      ΔQ/ ΔX2          P2

                      ———–  =  ——-

                      ΔQ/ΔX1           P1

 

Sebelumnya telah dinyatakan bahwa Q /  X2 tidak lain adalah MPP x 2 dan  Q / X1 adalah MPP x 1, maka LCC untuk kedua input tersebut dapat ditulis sebagai berikut : 

                 MPP x            P                    MPPx             MPPx 

atau

                 ———   =   ——                ———-   =     ———-

                      P                P                       P                      P 

Dan selanjutnya keuntungan maksimum dengan penggunaan input lebih dari dua variabel, yaitu  :

                  MPP x          MPPx                     MPP  xn         1

                  ———  =  ———– = ……..= ————- =  —–

                      P                   P                             Pn             PQ

 

            Ini berarti bahwa untuk mencapai posisi optimum atau keuntungan maksimum, maka dalil LCC  harus terpenuhi, tetapi sebaliknya , bila dalil LCC terpenuhi, maka tidak berarti bahwa produsen pasti telah mencapai keuntungan maksimum, terpenuhinya dalil LCC hanya menunjukkan bahwa produsen telah mencapai posisi ongkos minimum untuk suatu tingkat output tertentu, akan tetapi keuntungan hanya akan mencapai maksimum bila tingkat outputnya telah dipilih  sedemikian rupa hingga MPP / P untuk semua input sama dengan 1 / PQ,  dimana 1 / PQ adalah hasil yang dapat dilihat setelah output dijual. 

 

Sifat-sifat isoquant adalah :

1)     Cembung kearah titik nol (0), sebab inputnya tidak merupakan barang subtitusi sempurna.

2)     Menurun dari kiri atas kekanan bawah, karena satu sumberdaya dapat di subsitusi kan dengan sumberdaya lain.

3)     Output semakin tinggi bagi kurva yang terletak lebih kanan dan atas.

4)     Kemungkinan bias saling berpotongan, sehingga ada kemungkinan perusahaan dapat memproduksi dua jenis barang dengan input yang sama.

5)     Kemungkinan untuk mempunyai slope positif pada tingkat penggunaan input tinggi.

6)     Semakin kebawah  MRTS semakin kecil.

Perbedaan antara Indiferensi seorang konsumen dengan Isoquant produsen adalah dimensi ketiga pada Indiferensi konsumen adalah utilitas yang sulit diukur, sedangkan pada isoquant dimensi ketiganya adalah produksi total, yang angkanya dapat ditentukan.

Perbedaan lainnya adalah, kalau konsumen dibatasi oleh pendapatan yang membatasi pengeluaran konsumen, sedangkan pengusaha dapat merubah pengeluaran totalnya untuk factor produksi.

6.2.1.     Isocost Curve

Isocost adalah kurva yang menunjukkan hubungan titik-titik kombinasi factor produksi yang dapat dimiliki oleh modal (anggaran belanja perusahaan) yang tertentu besarnya.

Secara matematis dapat ditulis :

C  =  X.  Px  +  Y.  Py

 

Dimana :

                    C      adalah besar modal.

         X dan Y      adalah factor produksi.

       Px  dan  Py           adalah harga input x dan y.

 

6.2.          Keseimbangan Produsen

6.2.1.     Least Cost Combination (LCC)

Least Cost Combination (LCC) adalah suatu titik/keadaan yang memberikan kombinasi penggunaan input-input/factor produksi

Untuk menghasilkan suatu tingkat output tertentu dengan ongkos total yang minimum.

Untuk menghasilkan / menentukan kombinasi yang optimal ini diperlukan tiga data, yaitu :

a)     Isoquant, untuk menentukan tingkat output yang dikehendaki;

b)     Harga factor produksi/input pertama (X1)

c)     Harga factor produksi/input kedua (X2)

Bila dimisalkan fungsi produksi adalah Q = x1.x2, dengan harga masing-masing input tersebut adalah P1 dan P2, maka isocostnya adalah  C = P1. x1 + P2 . x2,

sekarang akan dicapai LCC untuk tingkat output tersebut dengan mensubsitusikannya, maka dapat ditulis sbb :

                                                                                    Q

            Q = x1.x2          dapat ditulis menjadi     x1 = ——-

                                                                                    X2

Ongkos untuk menghasilkan output  tersebut menjadi :

 

                                   P1.Q

                        C =  ———-+ P2 .x2

                                      X2

 

Untuk menghasilkan Q dengan ongkos yang minimum, maka harus dipenuhi syarat turunan pertama fungsi ongkos tersebut = 0

 

                                                            DC

                                                           —— = 0

                                                            dx2

maka  :

 

               dC     QP1                                   P2           Q

               —- = —– + P2  = 0     atau       —–  =  ——– 

               dx2      x2                                     P1          X2

 

jadi syarat LCC secara umum bias ditulis sebagai berikut :

                 P2         dX1                               P2       Δ X1

                —– =  ——-             atau          —– = ——–

                 P1          dX2                               P1      ΔX2

 

ΔX1/ΔX2  sering disebut juga dengan istilah Marginal Rate of Technical Subtitution (MRTS).

Selanjutnya syarat LCC dinyatakan sebagai berikut :

                                        P2

                                      —– = MRTS

                                       P2


Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS)

Adalah Tingkat Subsitusi Marjinal yang semakin menurun, artinya berapa jumlah salah satu input harus dikompensasikan akibat penambahan satu unit input lainnya, sehingga tingkat output dapat dipertahankan.

 

MRTS ini merupakan slope /kemiringan dari kurva isoquant pada titik tertentu, yang besarnya sebesar MPPx / MPPy.

Posisi LCC dalam gambar adalah merupakan titik  persinggungan  antara kurva isocost dengan kurva isoquant ( Px / Py = MPPx / MPPy = MRTS ).

Sehingga masalah perusahaan dapat dirumuskan bahwa setiap perusahaan ingin mencapai tingkat Isoquant yang tertinggi , apabila Isocostnya ditentukan, artinya perusahaan akan memproduksi / mencapai keseimbangan pada saat slope kurva isocost sama dengan slope kurva isoquant.

 

6.4.2.   Hubungan LCC dengan keuntungan maksimum

            Dalil LCC dan dalil keuntungan  maksimum mempunyai hubungan yang erat , sebagaimana terlihat berikut ini :

         d X1       P2

LCC = —— = ——-

          d X2        P1

Bila sisi kiri persamaan dikalikan dengan ΔQ / Q, persamaan tersebut tidak berubah, akan menjadi :

           ΔQ             ΔX2       P2                        ΔQ       X1          P2    

atau

atau

—-             —— = ——                     —–   ——  =  ——-

                       ΔQ             ΔX1        P1                      ΔX2     ΔQ           P1

 

 

                      ΔQ/ ΔX2          P2

                      ———–  =  ——-

                      ΔQ/ΔX1           P1

 

Sebelumnya telah dinyatakan bahwa Q /  X2 tidak lain adalah MPP x 2 dan  Q / X1 adalah MPP x 1, maka LCC untuk kedua input tersebut dapat ditulis sebagai berikut : 

                 MPP x            P                    MPPx             MPPx 

atau

                 ———   =   ——                ———-   =     ———-

                      P                P                       P                      P 

Dan selanjutnya keuntungan maksimum dengan penggunaan input lebih dari dua variabel, yaitu  :

                  MPP x          MPPx                     MPP  xn         1

                  ———  =  ———– = ……..= ————- =  —–

                      P                   P                             Pn             PQ

 

            Ini berarti bahwa untuk mencapai posisi optimum atau keuntungan maksimum, maka dalil LCC  harus terpenuhi, tetapi sebaliknya , bila dalil LCC terpenuhi, maka tidak berarti bahwa produsen pasti telah mencapai keuntungan maksimum, terpenuhinya dalil LCC hanya menunjukkan bahwa produsen telah mencapai posisi ongkos minimum untuk suatu tingkat output tertentu, akan tetapi keuntungan hanya akan mencapai maksimum bila tingkat outputnya telah dipilih  sedemikian rupa hingga MPP / P untuk semua input sama dengan 1 / PQ,  dimana 1 / PQ adalah hasil yang dapat dilihat setelah output dijual.

 

 

BAB V TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN

 

5.1.          Fungsi Permintaan

Pengertian permintaan dalam kaca mata ilmu ekonomi bukanlah pengertian yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu secara absolut diartikan sebagai jumlah barang yang dibutuhkan, melainkan bahwa permintaan, baru mempunyai arti apabila didukung oleh tenaga beli, permintaan yang didukung oleh tenaga beli ini disebut dengan permintaan yang efektif, sedangkan permintaan yang hanya atas kebutuhan / keinginan saja tanpa didukung oleh tenaga beli, ini disebut sebagai permintaan absolut atau potensial.

Tenaga beli seseorang tergantung atas dua unsur pokok yaitu pendapatan yang dapat dibelanjakan dan harga barang yang dikehendaki.

Apabila jumlah pendapatan yang dapat dibelanjakan seseorang berubah, maka jumlah barang yang diminta/dibeli juga akan berubah, demikian pula halnya dengan harga barang yang diminta, jika juga berubah.

Secara matematis pengaruh perubahan pendapatan dan harga bersama sama terhadap jumlah barang yang diminta dapat diketahui secara serentak, tetapi tidak demikian halnya dengan metode grafis yang pada dasarnya hanya mampu menjelaskan antara dua besaran.

Afred Marshal dalam membahas permintaan dia menggunakan anggapan bahwa pendapatan tetap, dengan demikian berusaha mencari pengaruh harga terhadap jumlah barang yang diminta, dalam pola pikiran ini yang dimaksud dengan permintaan adalah berbagai jumlah barang yang diminta pada berbagai tingkat harga.

Secara matematis ditulis :

Qd = f (Px).

disamping itu faktor lain yang juga dapat mempengaruhi permintaan barang yaitu, harga barang lain; selera; dan jumlah pembeli dan lain-lain, yang menurut Leon Walras, dapat dirumuskan secara matematis dalam bentuk suatu fungsi yang disebut dengan fungsi permintaan seperti :

 

Xd = F ( Px1, Px2, ………, Pxn, Y, E).

dimana :

Xd  adalah jumlah barang x yang diminta;

Px1 adalah harga barang x tersebut;

Px2 adalah Pxn adalah harga barang lain;

   Y adalah pendapatan;

   E adalah selera dan faktor lainnya.

 

5.2.      Metoda Pendekatan

Salah satu fokus utama yang dibahas dalam ekonomi mikro adalah membahas tingkah laku konsumen, untuk ini ada beberapa pendekatan yang digunakan :

 

5.2.1.     Pendekatan Tradisional

Pendekatan ini bertitik tolak kepada konsep utilitas, dimana setiap barang mempunyai daya guna atau utilitas, oleh itu karena barang tersebut pasti mempunyai kemampuan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang tersebut. Jadi bila orang menentukan suatu jenis barang, pada dasarnya yang diminta adalah daya guna barang tersebut.

Pendekatan ini berasumsi bahwa utilitas / daya guna dapat diukur secara absolut, sehingga dapat dirumuskan hubungan antara jumlah daya guna dengan barang yang dikonsumsi dalam bentuk fungsi :

U = F ( X1, X2, …….. Xn) … atau

U = U ( X1) + U (X2) + U (X3) + ……… + U (Xn).

dimana :

U adalah banyaknya daya guna bagi konsumen.

X adalah banyaknya barang tertentu yang dikonsumsi oleh konsumen.

Problem yang timbul dalam pendekatan ini adalah dalam bentuk perumusan yang tertentu banyak menimbulkan masalah, akhirnya pendekatan tradisional ini dipecah menjadi dua pendekatan, yaitu :

 

1)     Pendekatan Teori Utilitas Kardinal

Teori ini menganggap bahwa besarnya daya guna (utilitas) yang diterima seorang konsumen sebagai akibat dari tindakan mengkonsumsi barang tersebut, dapat diukur yang tinggi rendahnya tergantung kepada subjek yang memberikan nilai/penilaian, pendekatan ini sering disebut dengan pendekatan Marginal Utility.

2)     Pendekatan Teori Utilitas Ordinal

Teori ini beranggapan bahwa besarnya daya guna / utilitas tidak diketahui secara absolut oleh konsumen, bagi seorang konsumen cukup dengan kemampuan untuk membuat urutan-urutan kombinasi barang yang dikonsumsinya berdasarkan besarnya daya guna yang diterimanya, pendekatan ini sering juga disebut dengan pendekatan Indifferent cerve.

 

5.2.2.     Pendekatan Teori Utilitas Kardinal

Aliran ini beranggapan bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang tergantung dari subjek yang memberikan penilaian dan sikonsumen memiliki sejumlah pendapatan yang siap untuk dibelanjakan, persoalan pokok dalam hal ini adalah bagaimana cara membelanjakan pendapatan sebaik-baiknya atau memaksimumkan daya guna yang dapat diperoleh.

Asumsi yang dipakai dalam pendekatan ini adalah :

  1. Daya guna/utilitas tersebut dapat diukur;
  2. Konsumen bersifat rasional;
  3. Tujuan konsumen adalah memaksimumkan utilitas;
  4. Laju pertambahan daya guna / utilitas semakin lama semakin rendah dengan semakin banyaknya barang tersebut dikonsumsi oleh konsumen, ini dikenal sebagai Hukum Pertambahan Utilitas yang semakin menurun
    (The Law of Diminishing marginal Utility);
  5. Konsumen memiliki sejumlah pendapatan tertentu.

Maka perilaku konsumen dalam membelanjakan uangnya baru dapat dimengerti, apabila setelah diarahkan kepada pencapaian daya guan / utilitas / kepuasan yang maksimum.

Secara grafik hubungan antara laju pertambahan daya guna yang semakin lama semakin rendah dengan semakin banyaknya mengkonsumsi barang, dapat dibuat sebagai berikut :

 

            Gambar . 5 . 1.                                                               Gambar . 5 . 2 .

        Kurva Total Utilitas                                                    Kurva Marginal Utilitas.

 

 

TU
D
B
C
ΔU

       = (+) Bagus

ΔS       (-) Diminising

A
MU
TU

 

 

Q
O
2d
2c
2b
2a
MU
Q
O

 

 

 

Keterangan :

Gambar . 5 . 1. tersebut menggambarkan hubungan antara besarnya daya guna dengan banyaknya barang yang telah dikonsumsikan, kurva tersebut dimulai dari titik asal, sampai pada titik Qm, lereng kurva TU adalah positif, artinya akan selalu ada penambahan daya guna dari suatu barang setiap kali konsumsi akan menambah TU, tetapi jumlah Qm sudah dilewati dan penambahan jumlah Q diteruskan, jumlah daya guna justru lebih rendah dari jumlah sebelumnya, ini dapat dilihat dari lereng kurva TU yang negatif, artinya penambahan konsumsi barang Q akan memberikan penambahan daya guna yang semakin kecil.

Titik Qm atau C mencerminkan jumlah barang Q yang memberikan titik kepuasan yang maksimal, pada titik C tersebut Marginal utilitas (penambahan daya guna / daya guna marginal) adalah nol dan pada titik D, maka menjadi negatif.

 

Gambar . 5 . 2. memperlihatkan kurva marginal utility, yang menurun dari kiri atas kekanan bawah, disebabkan hukum marginal yang semakin mengecil, yang pada akhirnya, mencapai nol bahkan negatif, atau memotong sumbu datar.

 

Dengan asumsi ini, akan digunakan untuk menggambarkan perilaku konsumen secara lebih riil, kesulitan bagi pendekatan ini adalah daya guna/ utilitas mengandung pengertian subjektif, sehingga sukar mengukur besarnya daya guna tersebut.

Untuk itu diperlukan asumsi lain bahwa daya guna dapat diukur dalam satuan uang, yaitu sejumlah uang yang bersedia dibayar konsumen untuk mendapatkan satu satuan barang, asumsi selanjutnya adalah jumlah tersebut adalah tetap.

Seorang konsumen akan datang ke pasar dan mengajukan permintaan apabila ia sudah berada dalam keseimbangan , artinya bila uang yang dibelanjakannya telah dialokasikan kepada pembelian barang yang dapat memberikan daya guna total yang maksimum.

Jadi permintaan konsumen terhadap suatu jenis barang pada hakekatnya mencerminkan posisi keseimbangan konsumen dan jumlah anggaran belanja yang tersedia.

Oleh karena salah satu kelemahan pokok dari teori ini adalah sukarnya mengukur daya guna barang bagi seorang konsumen, maka lahirlah teori pendekatan ordinal.

 

5. 2.1.2. Pendekatan Teori Utilitas Ordinal

Menurut pendekatan ini bahwa konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna / utilitas yang dia peroleh dari mengkonsumsi sekelompok barang, misalnya 2 jenis barang X dan Y, oleh karena pendapatan terbatas, konsumen harus menentukan kombinasi antara barang X dan Y dengan kemungkinan kombinasi yang banyak sekali , kemudian dia harus memilih kombinasi mana yang dapat memberikan daya guna /kepuasan tertinggi baginya berdasarkan anggaran belanja yang tersedia.

Asumsi yang dipakai dalam pendekatan ini adalah bahwa :

a)     Setiap konsumen bertindak rasional;

b)     Dengan dana dan harga pasar tertentu konsumen dianggap selalu akan memilih kombinasi yang memberikan  kepuasan utilitas / daya guna yang maksimal;

c)     Konsumen dianggap mempunyai informasi yang sempurna atas uang yang tersedia baginya maupun harga barang di pasar.

d)     Konsumen dianggap juga mempunyai skala preferensi yang disusun atas dasar urutan besar kecilnya daya guna bukan secara absolut, tetapi mampu menentukan hubungan dua kombinasi yang lebih baik.

Seperti, kombinasi barang X dan Y, ada 3 kemungkinan kombinasi, yaitu A = (Ya,Xa) dan  B = (Yb,Xb),maka kombinasi tersebut dapat berupa apakah A lebih disukai dari B atau sebaliknya ataukah acuh atas indifferent terhadap A dan B; ringkasnya A>B; A<B atau A=B, terhadap pilihan tersebut konsumen bersifat eksklusif artinya sekali konsumen menentukan pilihan bahwa A>B (A lebih baik B), maka suatu saat tertentu diharapkan dia tidak menganggap B>A atau B=A pada saat yang lain, disamping itu yang dipilih sesungguhnya apakah A atau B tergantung pada jumlah Uang yang tersedia untuk dibelanjakan.

 

Kurva Indiferensi

Kurva Indiferensi, yaitu kurva yang menggambarkan berbagai kemungkinan kombinasi barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama. Kurva ini dipergunakan sebagai salah satu alat analisa/ pendekatan dalam memahami tingkah laku konsumen.

Terbentuknya kurva ini dimana semua kombinasi barang-barang tersebut yang terletak dalam suatu ruang yang disebut dengan Commodity space (ruang komodity/barang), artinya setiap titik yang terdapat dalam bidang /ruang tersebut mewakili dari setiap kombinasi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, bila titik yang memberikan tingkat kepuasan yang sama tersebut dihubungkan, maka akan diperoleh kurva Indiferensi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa ruang komodity ini penuh dengan kurva –kurva indiferensi yang disebut dengan Indiference Map, seperti tergambar pada gambar.5.3.

Gambar .5.3.

Kurva Indiferensi dan Indiference Map

Qy

 

 

 

U3
U2
U1
Qx
O
U3
U2
U1
Qx
O
Qy

 

Keterangan  :

Kurva U adalah kurva indiferen, yaitu kurva yang terbentuk dari pada hubungan antara kombinasi daripada titik kombinasi barang Y dan X yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, sedangkan gabungan / kumpulan daripada kurva indiferensi tersebut (U1,U2,U3 dst) merupakan Indiference Map.

 

Sifat –sifat Kurva Indiferen

  1. Menurun dari kiri atas ke kanan bawah, ini memperlihatkan yang preferensi antara dua barang dari pilihan konsumen;
  2. Semakin jauh dari titik asal/origin, semakin tinggi tingkat kepuasan /dayaguna/utilitas daripada kombinasi barang tersebut;
  3. Cembung dari titik asal, sebagai akibat dari hokum MRSxy;
  4. Kurva Indeferensi tidak bergeser / berpindah sebagai suatu akibat dari perobahan harga atau pendapatan;
  5. Tidak pernah berpotongan satu sama lain, seperti diperlihatkan gambar .5.4.

 

Gambar .5.4.

Hubungan antara kurva Indiferen.

Qx

 

 

C
A

 

B
Qy
O

 

 

 

Keterangan :

Pada gb.5.4 tersebut terdapat 2 buah kurva indiferen, yaitu IC 1 dan IC 2 yang berpotongan pada titik A, sesuai dengan sifat dan pengertian dari pada kurva indiferen, maka pada IC 1, titik A memiliki tingkat kepuasan yang sama dengan titik B, sedangkan pada IC 2, titik A memiliki tingkat kepuasan yang dengan titik C, tetapi tingkat kepuasan pada titik B tidak sama dengan titik C, maka berarti kurva indiferen tidak mungkin berpotongan satu sama lainnya.

 

 

Garis anggaran (The Budget Line)

Kurva indiferen menunjukkan keinginan konsumen jika ia diminta untuk memilih kombinasi antara dua barang, namun kemampuan konsumen untuk mendapatkan kombinasi-kombinasi itu akan tergantung dari harga barang tersebut dan penghasilannya.

Dalam jangka pendek kedua faktor tersebut merupakan sebuah garis yang disebut garis budget atau garis kemungkinan konsumsi  (the budget line). Artinya seluruh kombinasi barang yang dapat dibeli oleh tingkat pendapatan dan tingkat harga tertentu dengan kata lain bahwa Garis Anggaran / garis harga memperlihatkan pilihan-pilihan barang konsumer yang tersedia bagi konsumen.

Slope /kemiringan dari garis anggaran ini adalah merupakan perbandingan harga / harga relatif dari kedua barang X dan barang Y atau Px/Py, dan bentuk kurva tersebut adalah seperti gambar .5.5.

Gambar 5.5.

Kurva Budget Line.

 

P
A

 

 

 

 

B
Q
O

 

 

 

Keseimbangan Konsumen

Pembahasan tentang keseimbangan konsumen berkisar pada penggabungan tentang kemauan dan kemampuan konsumen dengan tujuan usaha memaksimumkan daya guna /utilitas.

Setiap konsumen dianggap menghadapi berbagai kemungkinan kombinasi barang yang akan dikombinasinya, masing-masing kombinasi tersebut memberikan kepadanya sejumlah daya guna yang berbeda-beda, kombinasi barang yang mampu memberikan tingkat daya guna /kepuasan yang tertinggi akan dipilih dan tidak akan dirobahnya lagi, maka saat itu konsumen berada dalam keseimbangan.

Berarti keseimbangan konsumen akan muncul apabila seorang konsumer telah membelanjakan seluruh pendapatan sama dengan pertambahan daya guna /utilitas per rupiah dari masing-masing barang, atau MUx/Px = MUy/Py

 

5.2.2. Pendekatan Modern

Perkembangan selanjutnya dari teori perilaku konsumen, terutama untuk menjelaskan terjadinya kedudukan keseimbangan konsumen adalah pendekatan secara modern, pendekatan ini ada dua cara, yaitu :

 

5.2.2.1. Pendekatan Matematis

Penyusunan kurva permintaan dengan menggunakan pendekatan matematis biasanya menggunakan metode penggandaan larange  (Multiple Larange) dengan 4 (empat) tahap perumusan :

a). Perumusan tujuan, yang ditulis dalam bentuk fungsi;

b). Perumusan kendala, yang ditulis dalam bentuk fungsi;

c). Perumusan fungsi majemuk, yaitu gabungan dari a dan b.

d). Operasi matematis untuk mencari titik optimum.

Contoh.

 

A. Kasus Satu Jenis Barang.

Secara matematis turunan pertama terhadap fungsi permintaan   dari barang X dengan harga Px , maka pengeluarannya adalah Px kali X, untuk mendapatkan total daya guna yang maksimum dari barang X dapat ditulis dalam bentuk D (x) seperti :

U=F (X) menjadi      D(X) = U(X) – Px . x

Untuk memaksimumkan fungsi D tersebut, maka syarat yang perlu adalah turunan pertama dari D(X) sama dengan nol atau D(X) akan ada pada titik maksimum bila lereng D(x) =0 dengan cara sebagai berikut :

Bentuk turunan pertama dari fungsi sama dengan nol, maka :

 

 

dD(X)              d(Px.X)

dD(x) =       ———–     –   ————— = 0

                        dX                    dX

 

 

dD(X)                 d(Px.X)

———–     –   ————— = 0

                       dX                       dX

 

dD(X)                 d(Px.X)

———–     –   ————— = 0

                        dX                      dX

 

maka :                                       MU x

            MUx    = Px.    Atau     ——– = 1     

                                                                Px

 

Artinya, keseimbangan konsumen dapat dicapai apabila daya guna marginalnya (penambahan daya guna) sama dengan harga barang tersebut atau ratio perbandingan antara Marginal Utilitas dengan harga barang tersebut sama dengan satu.

 

B. Untuk Kasus Dua Jenis Barang

Dalam kasus dua macam barang, maka permintaan konsumen untuk masing-masing barang adalah :

Maksimum : U = U(Y) + U(Y) atau U = F(X,Y)

Dimana :

U                  adalah jumlah daya guna total;

U(X)             adalah jumlah daya guna dari barang X;

U(Y)             adalah dayaguna dari barang Y.

Budget line (Anggaran belanja) untuk barang X yang harganya Px, dan untuk barang Y dengan harga Py adalah Px.X + Py.Y =M Tujuan konsumen adalah memaksimalkan total daya guna dan pengeluaran untuk kedua barang X danY, untuk maksud  tersebut dengan bantuan metode Larange Multiplier, persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

           L = U [U(X + U(Y)] – (Px.X + Py.Y – M)

Bentuk turunan pertama dari persamaan / fungsi tersebut adalah ;

 

 

dL        dU                                              dU

—- =   —– –  Px = 0                      X = ——-/ Px

dX       dX                                              dX

 

 

 

 dL       dU                                               dU

—- =   —– –  Py = 0                      Y = ——- / Py

 dy       dy                                                dy

 

dimana dU / dX adalah MUx, sedangkan dU / dY adalah MUy, maka

MUx      MUy              MUx        Px                           

—-   =   —– –   atau     —-   =   —– –                                 

  Px          Py                MUy        Py

 

 

MUx

MUy

=

adalah slope dari kurva indifiren atau disebut juga Marginal rate of Subtitution x for y (MRSx.y), artinya berapa jumlah barang X harus dikorbankan untuk mendapatkan sejumlah barang Y atau sebaliknya agar tingkat kepuasan tetap dapat dipertahankan.

Px

Py

 

=

Dengan kata lain MRS x.y adalah tingkat marginal dari subtitusi antara kedua barang tersebut, dimana apabila seorang konsumen menambah salah satu barang (X), maka dia akan mengurangi barang lain (Y) agar tetap berada pada tingkat kepuasan yang sama.

                    adalah slope dari kurva budget line  (garis anggaran belanja)

 

Sehingga dalam kasus ini dapat diketahui bahwa seorang konsumen akan berada dalam keseimbangan apabila Mux / MUy = Px / Py yang merupakan marginal utilitas /  daya guna marginal sama dengan ratio harga dari kedua barang tersebut.

Atau slope kurva indiferen sama dengan slope kurva budget line, artinya keseimbangan konsumen akan diperoleh pada saat terjadinya titik singgung antara kedua kurva tersebut.

Ringkasnya, tingkat keseimbangan konsumen akan tercapai pada saat MUx /MUy =Px / Py  atau MUx / Px= MUy / Py, artinya konsumen berusaha mencari kombinasi barang, dimana setiap rupiah yang akan  dibelanjakan untuk barang X akan menghasilkan tambahan daya guna yang sama dengan tambahan daya guna yang dapat diperoleh bila satu rupiah tersebut digunakan untuk Y.

Bila MUx / Px, artinya konsumen akan membeli lebih banyak barang X dengan mengurangi pembelian barang Y, karena sifatnya, maka penambahan barang X akan menurunkan Mux, sedangkan pengurangan konsumsi Y akan menaikkan MUy, proses ini akan terus berlanjut sampai akhirnya MUx / Px =MUy / Py, dan sebalik.

Atas dasar anggaran dan harga tertentu, persamaan tersebut mencerminkan kombinasi barang X dan Y yang terbaik bagi konsumen dalam arti memberikan daya guna / kepuasan yang terbanyak.

 

C. Untuk Kasus Banyak Barang

Bila barang yang dihadapi oleh seseorang konsumen lebih dari dua jenis / macam, maka rumusan tersebut diatas dapat ditulis :

 

  MUx                  MUy            MUz                      MUn

  —–   =          = ——   =       ——    = ……..= ——-

    Px                     Py                 Pz                         Pn

 

5.2.2.2. Pendekatan Matematis Dan Geometris

Pendekatan ini menggunakan kenaikan dari ruang komoditi yang mana pada sumbu absis dan ordinat merupakan ukuran jumlah barang yang mungkin dikombinasikan seperti pada indeferensi dalam ruang komodity.

U1 (I1) <U2 (I2) <U3 (I3) dst.

Bila fungsi diatas digambarkan, maka akan diperoleh kurva Indeferen dan indeferen map, seperti pada gambar.5.6.

 

Gambar. 5.6.

Kurva Indeferensi Map

 

Y

 

 

 

U4

 

U3
U2
U1
X
O

 

 

 

 

Keterangan :

 

Pada gambar .5.6. terlihat beberapa kurva indiferen yang masing-masing mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda, dimana semakin  jauh dari titik asal / origin, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang dapat di berikan oleh kombinasi kedua barang X dan Y.

Kesemua kurva itu merupakan himpunan kurva-kurva indeferen yang disebut dengan indeferen map.

Bila konsumen bersifat rasional , maka tentu dia akan memilih berbagai kombinasi yang terletak pada I3, karena kombinasi tersebut akan menghasilkan tingkat utilitas / daya guna yang tinggi.

 

Hal ini merupakan tujuan setiap konsumen, tetapi untuk mencapai tujuan konsumen tersebut dibatasi oleh kemampuan yang terbatas, yaitu budget yang dimiliki untuk membeli kombinasi barang tersebut.

Besarnya budget tergantung dari jumlah dan harga barang yang akan dibeli oleh budget tersebut, seperti dapat dirumuskan  :

M = Px . X + Py . Y

 

Dimana :

            M  adalah budget (anggaran belanja) konsumen;

            Px  adalah harga barang X;

            Py  adalah harga barang Y;

            X dan Y adalah jumlah barang X dan Y yang dikonsumsi.

 

Pada saat tertentu besarnya budget adalah tertentu pula, kurva penghasilan konsumen dalam waktu pendek tidak dapat dirobah, maka jumlah permintaan terhadap masing-masing barang jika dirumuskan jumlah permintaan terhadap barang ditiadakan menjadi :

 

  M                Px                                      M            Py 

Y =   ——- –         ———  X     atau       X= ——-  –  ——– Y

 Py                Py                                      Px          Px

 

 

Bentuk rumusan ini dapat digambarkan secara grafis dengan intercep sumbu Y pada skala  M / Py dengan lereng /slope Px / Py atau pada sumbu X pada skala M / Px dengan lereng / slope Py / Px. Hal ini dapat digambarkan seperti pada Gambar.5.7.

Gambar .5.7.

Kurva Budget Line.

Y
M
Py

 

 

 

M/Px
X
O

 

 

 

Misalkan budget Rp. 1000 harga barang X dan Y adalah Rp. 10,- dan Rp.5,- per unit maka rumus penyelesaian untuk masing-masing barang :

            Y = 200 – 2 X atau X = 100-1/2 Y

Setiap konsumen selalu berkeinginan mendapatkan kurva indeferensi jauh dari titik asal, sementara kemampuan budget terbatas, oleh karena itu konsumen akan mencapai keadaan keseimbangan pada saat terjadinya titik singgung antara budget line dengan kurva indiferen.

Secara grafis dapat diperlihatkan sebagai berikut :

 

Gambar .5.8.

Kurva Keseimbangan Konsumen.

Y
B
F
U3
M/r

 

 

E
U2
U1
X
O
M/P

 

 

 

Keterangan :

Tingkat keseimbangan konsumen akan tercapai pada MRS x.y /- slope kurva indiferen sama dengan slope garis anggaran (budget line) Px/py, yaitu pada titik E, karena pada titik F, yang memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari kombinasi kedua barang, tetapi tidak bisa dicapai oleh anggaran  yang dimiliki, sebaliknya pada titik D, yang dapat dicapai anggarannya, tetapi mempunyai tingkat kepuasan yang lebih rendah dari titik E, sehingga konsumen belum berada pada tingkat kepuasan yang maksimum.

 

5.3.          Perubahan Harga dan Pendapatan.

5.3.1.     Perubahan Dalam  Harga.

Perubahan salah satu  harga barang, sementara pendapatan tetap, maka perubahan tersebut akan mempengaruhi   jumlah barang yang diminta, dalam hal ini akan terlihat dengan pergeseran garis belanja (budget line), ke kiri atau kekanan.

Jika pendapatan tetap, sedangkan harga salah satu barang X berubah naik, maka jumlah barang X yang diminta akan berkurang dan kurva budget akan bergeser ke kiri, sebaliknya kalau harga barang X tersebut turun, maka akan berakibat jumlah barang X yang diminta akan naik, maka kurva budget akan bergeser ke kanan.

Selanjutnya bila semulanya keseimbangan konsumen sebelum harga berubah pada titik E, akibat harga naik , maka keseimbangan tersebut menjadi E1 , atau E2  bila harga turun.

Bila titik–titik keseimbangan tersebut dihubungkan , maka akan terbentuk sebuah kurva baru yang disebut dengan kurva  harga konsumsi (Price Consumption Curve),yaitu garis /kurva yang menghubungkan titik-titik keseimbangan konsumen sebagai akibat perubahan harga salah satu barang pada tingkat pendapatan yang tetap.

Lebih jelasnya secara grafis dapat diperlihatkan sebagai berikut :

Gambar .5.9.

Kurva Harga konsumsi

(Price Consumption Curve)

ICC
Y
A
A
U2
U1

 

 

X
O
B
B

 

 

 

Keterangan :

 

Garis anggaran  M=X. Px +Y. Py, akan bergeser, akibat naiknya harga barang X , maka quqntitqs barangX yang diminta menurun dari ox1 menjadi ox2 dan ox3. sebagai akibat bergesernya garis anggaran .

Keseimbangan konsumen semula pada titik E menjadi E2 dan E3. garis yang menghubungkan E dengan E2 dan E3, dihasilkan kurva Price Consumption  Curve (PCC).

 

 

5.3.2.   Perubahan Dalam Pendapatan

Apabila pendapatan konsumen berubah naik atau turun, sedangkan harga kedua barang tetap, maka akan berakibat berubahnya jumlah barang yang diminta dan kurva budget/anggaran  akan bergeser kekanan (bila naik ) dan ke kiri (bila turun) dan keseimbangan konsumenpun akan bergeser dan titik E akan berubah menjadi E1 dan E2.

 

Bila titik keseimbangan konsumen tersebut dihubungkan akan di peroleh sebuah kurva yang disebut dengan kurva pendapatan konsumsi(Income Consumption Curve).

 

Secara grafis dapat dilihat :

Gambar. 5.10.

Kurva Pendapatan Konsumsi.

(Income Consumption Curve).

Y
C
PCC
D
U2
E
U1
X
O
B
A

 

 

 

Keterangan :

 

Perubahan pendapatan mengakibatkan bergesernya garis harga / budget kekanan (bila naik) atau ke kiri (bila turun), sedangkan harga barang tidak berobah, maka pergeseran kurva tersebut berubah sejajar, yang mengakibatkan keseimbangan konsumen juga bergeser, dari E menjadi E2 dan E3, garis yang menghubungkan titik E, E2 dan E3 dihasilkan kurva ICC.

 

 

5.3.3    Efek Subtitusi. Efek Pendapatan dan Efek Total

Pengaruh perubahan harga dan pendapatan terhadap jumlah barang yang diminta dapat di bedakan menjadi dua, Yaitu :

1). Pengaruh Subtitusi (subtitution Effect).

2). Pengaruh Pendapatan (Income Effect).

 

Pengertian Efek Subtitusi

Efek subtitusi adalah perubahan jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga relatif, setelah dikompensasi oleh konsumen dalam perubahan pendapatan.

Pengertian secara ekonomis adalah, bilamana harga suatu barang X turun, sedangkan harga-harga lain tidak berubah, maka berarti bahwa harga barang X relatif lebih murah, dengan demikian oleh karena barang X menjadi relatif lebih rendah/murah harganya daripada barang Y, sehingga konsumen cenderung membeli lebih banyak barang X daripada barang Y, agar setiap rupiah yang dikeluarkan untuk barang X dan barang Y akan memberikan tambahan daya guna yang sama bagi konsumen, agar dapat mempertahankan tingkat kepuasan yang tinggi.

 

Pengertian Efek Pendapatan

Efek pendapatan adalah perubahan jumlah barang yang diminta, khususnya timbul dalam perubahan pendapatan nyata, artinya turunnya harga suatu barang akan merubah pendapatan riil konsumen, karena turunnya suatu barang, sehingga memungkinkan untuk membeli barang lain lebih banyak.

Secara ekonomi dapat diartikan kenaikan jumlah barang X sebesar Xt X2 dan barang Y sebesar Yt Y2, apabila barang yang normal, maka efek pendapatannya positif, maka hukum permintaan tetap berlaku, tetapi bila efek pendapatannya negatif, maka hukum permintaan tidak berlaku bagi barang inferior atau giffen, sehingga gejala ini disebut Giffen Paradox, karena pendapatan atau anggaran belanja yang lebih tinggi justru malahan menurunkan kuantitas atau kualitas barang yang diminta.

 

Pengertian Efek Total

Efek total adalah perubahan jumlah barang yang diminta/dikonsumsi akibat perubahan keseimbangan konsumen.

Besaran efek total ini sama dengan efek subtitusi ditambah dengan efek pendapatan.

Contoh soal.

Diketahui fungsi utilitas seorang konsumen U = Q1 Q2, harga barang pertama Rp.2,-, harga barang kedua Rp.5,- besar pendapatan pendapatan konsumen tersebut adalah Rp..100,- hitunglah besarnya barang Q1 dan Q2 yang dapat dibeli oleh konsumen yang sekaligus memberikan konsumen dalam keseimbangan dan buat grafiknya.

 

Jawab :

Bentuk fungsi U = Q1 . Q2

Budget line konsumen : 100 = 2 Q1 + 5 Q2

                                                             100    2 Q1

Besar barang Q2 yang dapat di beli = —– – ——

5               5

       2Q1

maka bentuk fungsi tersebut menjadi U = Q1. 20 – ——-

                                                                                     5

 

Bentuk derivatif pertial dari fungsi tersebut adalah :

            dU              4Q1

           —- = 20 –  ——- = 0

            dQ1              5                 

 

                     4Q1

           20 = ——–

                       5

 

         100 = 4 Q1 ——> Q1 = 25

 

         100 = 50 + 5Q2

 

           50 = 5Q2 —> Q2 = 10

                                                                   P1

besar slope budget line (garis harga) = – ——- = – 2/5

                                                                   P2

BAB IV STRUKTUR ONGKOS, PENERIMAAN dan PASAR

 

Tindakan pertama bagi seorang pengusaha dalam mendirikan suatu perusahaan adalah menentukan/memilih bentuk organisasinya, apakah berbentuk perusahaan perorangan, persekutuan atau kooperatif; selanjutnya menentukan tujuan pokok organisasi, agar dapat memperoleh keuntungan, baru kemudian melihat kepada bentuk pasar.

Dan untuk membuat keputusan perusahaan yang benar, maka pengusaha harus melihat kepada total penerimaan dan ongkos, jika keliru dalam melakukan penafsiran kedua hal tersebut, maka perusahaan akan membuat keputusan yang dapat merugikan.

Didalam pemakaian faktor produksi untuk memproduksi suatu jenis barang sangat tergantung kepada produktivitas, harga dan waktu yang tersedia bagi perusahaan.

Sehubungan dengan waktu yang tersedia bagi suatu perusahaan tersebut untuk menghasilkan suatu output tertentu dapat dibedakan menjadi tiga periode waktu, yaitu:

a)     The Market Period

b)     The Short Run Period

c)     The Long Run Period

Pengertian ketiga waktu ini telah dibahas pada Bab. III, Pada Short Run, faktor produksi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1)     Fixed factor, yaitu faktor-faktor produksi yang tetap digunakan dalam setiap proses produksi.

2)     Variable Factor, yaitu faktor-faktor produksi yang sifatnya berubah dapat ditambah/dikurangi dalam setiap kali proses produksi.

3)     The Long Run Period, yaitu suatu keadaan dimana jumlah barang yang dapat ditawarkan dipasar tidak terbatas, dapat ditambah terus sebanyak kebutuhan, maka seluruh faktor produksi bersifat variabel faktor.

 

4.1.          Pengertian dan Jenis Ongkos Produksi

4.1.1.   Pengertian Ongkos Produksi

Ongkos produksi secara umum dapat dinyatakan yaitu segala biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

Disamping pengertian umum tersebut, ada 2 macam pengertian ongkos, yaitu :

1)     Economic Cost, yaitu ongkos yang dikeluarkan atas penggunaan semua faktor produksi untuk menghasilkan output tertentu;

2)     Accounting Cost, yaitu ongkos yang pengertiannya hampir sama dengan economic cost, tetapi ongkos disini dinyatakan secara tegas dalam pembukuan, sehingga ada istilah :

(a)    Explicit cost, yaitu ongkos-ongkos yang tercatat atau terlihat jelas dalam pembukuan.

(b)   Implicit cost, yaitu ongkos produksi yang tidak terlihat dalam pembukuan.

Ditinjau dari sudut waktu, ongkos dapat dibedakan menjadi :

  1. Ongkos Jangka Pendek.
  2. Ongkos Jangka Panjang.

 

4.1.2.     Jenis-jenis Ongkos Produksi

Ongkos produksi dapat dibagi ke dalam 5 macam :

1)     Biaya Tetap (Fixed Cost : FC) yaitu, merupakan balas jasa dari pada pemakaian faktor produksi tetap (fixed factor), yaitu biaya yang dikeluarkan tehadap penggunaan faktor produksi yang tetap dimana besar kecilnya biaya ini tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya output yang dihasilkan.

2)     Biaya tidak tetap (Variabel cost : VC), yaitu merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai balas jasa atas pemakaian variabel faktor, yang besar kecilnya dipengaruhi langsung oleh besar kecilnya output.

3)     Biaya Total (Total cost : TC), yaitu merupakan jumlah keseluruhan dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.

4)     Biaya Rata-rata (Avarage Cost : AC), yaitu merupakan ongkos persatu satuan output; baik untuk biaya rata-rata tetap (avarage fixed cost) dan biaya rata-rata variabel (avarage variable cost) dan rata-rata total (avarage total cost), diperoleh dengan jalan membagi biaya Total dengan jumlah output yang dihasilkan.

5)     Biaya Marginal (Marginal cost : MC), yaitu merupakan biaya tambahan yang diakibatkan dari penambahan satu-satuan unit output.

6)     Biaya Tetap Rata-Rata (Avarage fixed cost : AFC), biaya hasil bagi biaya tetap dengan jumlah yang dihasilkan.

7)     Biaya Variabel Rata-Rata (Avarage Variable cost : AVC), diperoleh dengan jalan membagi biaya variabel dengan jumlah produk yang dihasilkan.

 

Secara sederhana pengertian diatas dapat ditulis sebagai berikut :

 

TC = FC + VC AFC = FC : Q             MC = TC1 – TCO

                  AVC = VC : Q                   ATC = TC : Q

 

Contoh :

Tabel . 4.1.

Data jumlah output dan ongkos produksi

 

 

Q VC FC TC MC AVC AFC ATC
0 0 4 4 - 0 - -
1 10 4 14 10 10 4 14
2 16 4 20 6 8 2 10
3 24 4 28 8 8 1, 33 9, 33
4 34 4 38 10 8, 5 1 9, 5
5 46 4 50 12 9, 2 0, 8 10
6 60 4 64 14 10 0, 67 10, 67

 

Bentuk kurva ongkos dari tabel 4.1. diatas dalam waktu yang pendek

 

Ongkos Jangka Panjang

Ciri dasar daripada jangka waktu panjang (Long Run) adalah dimana pengusaha tidak memiliki ongkos tetap, semua ongkos adalah merupakan variabel cost/berubah atau tidak tetap, karena semua faktor produksi bersifat variabel faktor tidak ada yang bersifat fixed factor dalam jangka waktu panjang.

The long run avarage cost curve (LRAC) adalah suatu kurva yang memperlihatkan ongkos rata-rata minimum dari masing-masing tingkat output.

 

4.1.          Pengertian dan Jenis Penerimaan

4.1.1.     Pengertian Penerimaan

Didalam memproduksi suatu barang, ada dua hal yang menjadi fokus utama dari seorang pengusaha dalam rangka mendapatkan keuntungan yang maksimum, yaitu ongkos (cost) dan penerimaan (Revenue).

Ongkos sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka yang dimaksud dengan penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari penjualan hasil produksinya.

Hasil total penerimaan dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah satuan barang yang dijual dengan harga barang yang bersangkutan atau
TR = Q x P

 

4.1.2.     Jenis-jenis Penerimaan

1)     Total penerimaan (Total revenue : TR), yaitu total penerimaan dari hasil penjualan.

Pada pasar persaingan sempurna, TR merupakan garis lurus dari titik origin, karena harga yang terjadi dipasar bagi mereka merupakan suatu yang datum (tidak bisa dipengaruhi), maka penerimaan mereka naik sebanding (Proporsional) dengan jumlah barang yang dijual.

Pada pasar persaingan tidak sempurna, TR merupakan garis melengkung dari titik origin, karena masing perusahaan dapat menentukan sendiri harga barang yang dijualnya, dimana mula-mula TR naik sangat cepat, (akibat pengaruh monopoli) kemudian pada titik tertentu mulai menurun (akibat pengaruh persaingan dan substansi).

2)     Penerimaan rata-rata (Avarage Total revenue: AR), yaitu rata-rata penerimaan dari per kesatuan produk yang dijual atau yang dihasilkan, yang diperoleh dengan jalan membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.

3)     Penerimaan Marginal (Marginal Revenue : MR), yaitu penambahan penerimaan atas TR sebagai akibat penambahan satu unit output.

Dalam pasar persaingan sempurna MR ini adalah konstan dan sama dengan harga (P), dan berimpit dengan kurva AR atau kurva permintaan, bentuk kurvanya horizontal.

Dalam pasar persaingan tidak sempurna MR, menurun dari kiri atas kekanan bawah dan nilainya dapat berupa :

  1. Positif;
  2. Sama dengan nol;
  3. Negatif.

Bentuk matematis secara sederhana dapat ditulis :

TR = P x Q

P x Q

AR = TR : Q atau                    = P

   Q

dTR

MR =               = TRn – TRn-1

dQ

 

 

Dalam bentuk tabel dapat diperlihat sebagai contoh berikut :

  1. Untuk kasus harga tetap/kurva permintaan mendatar.

 

Tabel  4 . 2 .

 

Data jumlah Produksi, ongkos dan Penerimaan Produksi.

 

Q AR = P TR TC AC= TC/Q II MR MC
0 100 0 145 - -145 - -
1 100 100 175 175 -75 100 30
2 100 200 200 100 0 100 25
3 100 300 220 75,3 80 100 20
4 100 400 250 62,5 150 100 30
5 100 500 300 60 200 100 50
6 100 600 370 61,6 230 100 70
7 100 700 460 65,7 240 100 90
8 100 800 570 71,3 230 100 110

 

Gambar dari tabel diatas dapat digambarkan dengan dua cara :

(1)  Marginal analysis dan

(2)  Total analysis

(the shape of short run cost curves)

 

Ongkos Jangka Panjang

Ciri dasar daripada jangka waktu panjang (Long Run) adalah dimana pengusaha tidak memiliki ongkos tetap, semua ongkos adalah merupakan variabel cost/berubah atau tidak tetap, karena semua faktor produksi bersifat variabel faktor tidak ada yang bersifat fixed factor dalam jangka waktu panjang.

The long run avarage cost curve (LRAC) adalah suatu kurva yang memperlihatkan ongkos rata-rata minimum dari masing-masing tingkat output.

 

4.1.          Pengertian dan Jenis Penerimaan

4.1.1.     Pengertian Penerimaan

Didalam memproduksi suatu barang, ada dua hal yang menjadi fokus utama dari seorang pengusaha dalam rangka mendapatkan keuntungan yang maksimum, yaitu ongkos (cost) dan penerimaan (Revenue).

Ongkos sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka yang dimaksud dengan penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari penjualan hasil produksinya.

Hasil total penerimaan dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah satuan barang yang dijual dengan harga barang yang bersangkutan atau
TR = Q x P

 

4.1.2.     Jenis-jenis Penerimaan

1)     Total penerimaan (Total revenue : TR), yaitu total penerimaan dari hasil penjualan.

Pada pasar persaingan sempurna, TR merupakan garis lurus dari titik origin, karena harga yang terjadi dipasar bagi mereka merupakan suatu yang datum (tidak bisa dipengaruhi), maka penerimaan mereka naik sebanding (Proporsional) dengan jumlah barang yang dijual.

Pada pasar persaingan tidak sempurna, TR merupakan garis melengkung dari titik origin, karena masing perusahaan dapat menentukan sendiri harga barang yang dijualnya, dimana mula-mula TR naik sangat cepat, (akibat pengaruh monopoli) kemudian pada titik tertentu mulai menurun (akibat pengaruh persaingan dan substansi).

2)     Penerimaan rata-rata (Avarage Total revenue: AR), yaitu rata-rata penerimaan dari per kesatuan produk yang dijual atau yang dihasilkan, yang diperoleh dengan jalan membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.

3)     Penerimaan Marginal (Marginal Revenue : MR), yaitu penambahan penerimaan atas TR sebagai akibat penambahan satu unit output.

Dalam pasar persaingan sempurna MR ini adalah konstan dan sama dengan harga (P), dan berimpit dengan kurva AR atau kurva permintaan, bentuk kurvanya horizontal.

Dalam pasar persaingan tidak sempurna MR, menurun dari kiri atas kekanan bawah dan nilainya dapat berupa :

  1. Positif;
  2. Sama dengan nol;
  3. Negatif.

Bentuk matematis secara sederhana dapat ditulis :

TR = P x Q

P x Q

AR = TR : Q atau                    = P

   Q

dTR

MR =               = TRn – TRn-1

dQ

 

 

Dalam bentuk tabel dapat diperlihat sebagai contoh berikut :

  1. Untuk kasus harga tetap/kurva permintaan mendatar.

 

Tabel  4 . 2 .

 

Data jumlah Produksi, ongkos dan Penerimaan Produksi.

 

Q AR = P TR TC AC= TC/Q II MR MC
0 100 0 145 - -145 - -
1 100 100 175 175 -75 100 30
2 100 200 200 100 0 100 25
3 100 300 220 75,3 80 100 20
4 100 400 250 62,5 150 100 30
5 100 500 300 60 200 100 50
6 100 600 370 61,6 230 100 70
7 100 700 460 65,7 240 100 90
8 100 800 570 71,3 230 100 110

 

Gambar dari tabel diatas dapat digambarkan dengan dua cara :

(1)  Marginal analysis dan

(2)  Total analysis

 

4.1.          Struktur Pasar

4.1.1.     Pengertian Pasar

Pasar seperti telah dijelaskan sepintas pada bab. I, yaitu dapat diartikan sebagai suatu tempat pertemuan antara pihak penjual dengan pihak pembeli dimana terjadi transaksi barang dan jasa.

 

4.1.2.     Bentuk-Bentuk Pasar

Setiap perusahaan selalu berkeinginan untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya, jadi tujuan utama bagi setiap perusahaan adalah mendapatkan keuntungan dan bilamana harus merugipun dia harus dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan tersebut dengan resiko kerugian yang sekecil-kecilnya, kalau memang tidak memungkinkan untuk memperoleh kondisi Break even point.

Untuk maksud tersebut diatas masalah ongkos produksi dan penerimaan/pendapatan sangat menentukan bagi setiap perusahaan dalam membuat kebijaksanaan produksi serta menetapkan harga jual hasil produksi, karena profit diperoleh sebagai hasil pengurangan pendapatan dengan biaya/ongkos produksi, dengan rumusan :

 = TR – TC atau     = R – C

Berbicara mengenai pendapatan/penerimaan (R) berarti berhadapan dengan beberapa masalah lainnya, yaitu tentang Struktur Pasar, karena pasar dapat memberikan situasi yang berbeda dalam penerimaan perusahaan.

Perbedaan struktur pasar tersebut ditentukan oleh karakteristik pasar itu sendiri, seperti keadaan pembeli dan penjual, keadaan produksi, pengetahuan pembeli dan kemudahan keluar masuk pasar bagi produsen dan konsumen.

Para ahli Ekonomi membedakan empat Model dasar Pasar, yaitu :

1)     Pasar persaingan sempurna (Perfect Competition Market). Bentuk dari pasar pada pasar persaingan sempurna ini adalah Pasar persaingan Murni (Pure Perfect Competition).

2)     Pasar Persaingan Tidak Sempurna (Imperfect Competition Market). Bentuk pasar persaingan tidak sempurna terbagi tiga, yaitu :

a)     Pasar Monopoli murni (Pure monopoly),

b)     Monopoli (Monopolistic Competition),

c)     Oligipoli / Duopoli (oligipoly).

d)     Monopsoni

 

4.1.3.     Karakteristik Pasar

1)     Pasar Persaingan Murni (Pure Competition), ciri-ciri :

  1. Jumlah pembeli dan penjual sangat banyak di pasar.
  2. Masing-masing pembeli dan penjual memiliki informasi yang sempurna tentang harga dan kualitas barang.
  3. Produk yang dijual bersifat Homogeneous, artinya sulit membedakan produk yang sama dari berbagai produsen.
  4. Pembeli dan penjual bebas keluar masuk pasar.
  5. Setiap penjual adalah price taker, artinya penjual tidak dapat/tidak sanggup mempengaruhi harga dipasar, karena merupakan unit terkecil.

2)     Pasar Monopoli Murni (Pure Monopoly), dengan ciri-ciri :

  1. Dipasar hanya ada satu produsen dan satu industri atau perusahaan yang monopoli yang memiliki pembeli yang sangat banyak.
  2. Produsen menjual hasil produksi yang tidak memiliki barang pengganti / substitusi.
  3. Produsen diberi perlindungan dan kemudahan keluar masuk pasar.
  4. Setiap penjual adalah price seacher, artinya penjual dapat mengontrol/mempengaruhi harga dan menentukan tingkat harga yang menguntungkan bagi dia.

3)     Monopolisitic Competition, dengan ciri-cirinya :

  1. Ada beberapa penjual di pasar.
  2. Para penjual menjual hasil produksi yang berbeda.
  3. Bebas dan mudah keluar masuk pasar bagi perusahaan baru.
  4. Penjual memiliki tingkat pengontrolan yang terbatas terhadap harga, tetapi masih tetap merupakan price seacher.

4)     Oligopoli.

  1. Terdapat sedikit penjual dan banyak pembeli.
  2. Produsen/penjual mungkin memproduksi barang yang sejenis atau berbeda-beda.
  3. Cukup memiliki kebebesan keluar masuk pasar.
  4. Penjual adalah price seacher.

 

4.1.4.     Keseimbangan Perusahaan / Analisa Rugi Laba

Dalam hal menawarkan barang-barangnya, maka seorang pengusaha menghadapi tiga macam periode waktu, dimana syarat-syarat yang menentukan jumlah penawaran akan diproduksi, (sebagaimana telah dibicarakan pada bab-bab sebelumnya).

Keseimbangan perusahaan atau Analisa rugi laba dari suatu perusahaan dapat dikemukakan dengan dua cara, yaitu :

1)     Dengan analisa marginal (MR dan MC)

2)     Dengan analisa Total (TR dan TC).

Sifat dan bentuk kedua analisa tersebut akan berbeda sesuai dengan bentuk struktur pasarnya.

  1. Kasus Pasar Persaingan Sempurna. (Perfect Competition Market)

Pada bentuk pasar ini, dimana harga ditentukan oleh kekuatan permintaan (Demand) dan penawaran (Supply) dipasar, baik secara berkelompok maupun secara individu, baik penjual maupun pembeli tidak dapat mempengaruhi harga pasar, sehingga harga yang sudah terjadi dipasar dianggap “given” artinya sudah demikian adanya (tidak dapat dirobah).

Sebagai akibatnya, maka kurva MR= kurva AR= kurva harga (P) dan sama dengan kurva permintaan (D), maka kurva (MR=AR=P=D) merupakan garis horizontal yang sejajar dengan sumbu axis, sedangkan kurva total penerimaan merupakan garis lurus dari titik origin (titik O)

 

Keseimbangan Jangka Pendek

Pada pasar pure competition ini syarat terakhir untuk mendapatkan keuntungan maksimum (maximum profit), kerugian minimum (Minimum loses), dan Break even point atau dalam keadaan keseimbangan bila mana MR = AR sama besar atau lebih besar atau lebih kecil dari AC, perbedaan antara AR dengan AC, adalah laba per kesatuan (dengan analisa marginal) dan TR sama besar, atau lebih besar atau lebih kecil dari TC (dengan analisa Total).

 

Keseimbangan Jangka Panjang

Bilamana dalam jangka panjang perusahaan mendapat laba, maka perusahaan akan memperluas kapasitas produksinya dan perusahaan baru akan memasuki industrinya/pasarnya. Akibatnya output total dipasar akan meningkat dan harga akan menurun, sehingga keuntungan akan berkurang.

 

Dalam jangka panjang akan dapat menimbulkan kerugian, akibatnya perusahaan akan mengurangi output atau sama sekali akan meninggalkan industri tersebut.

 

Selanjutnya output akan berkurang dan harga akan meningkat dan kerugian akan berkurang.

 

Keseimbangan jangka panjang membutuhkan syarat, bahwa perusahaan tidak mencapai laba, atau menderita kerugian, tetapi syaratnya adalah AR harus sama dengan AC disamping MR= MC.

 

  1. A.      Kasus Pasar Persaingan Tidak Sempurna.

Selanjutnya untuk kasus pasar persaingan tidak sempurna dimana perusahaan yang terlibat dalam proses produksi dipasar jumlahnya tidak banyak bahkan pada pasar monopoly khususnya terdapat satu perusahaan yang dapat memonopoli pasar dan mengontrol harga pasar serta jumlah barang, sehingga bentuk kurva permintaan dan AR nya (avarage Revanue) pun tidak sama lagi dan juga tidak merupakan garis horizontal, tetapi menurun dan kurva MR tidak lagi sama dengan kurva AR.

Kurva AR (total revenue) tidak lagi merupakan garis lurus, melainkan melengkung berbentuk U terbalik, hal ini disebabkan karena harga terus menerus turun apabila kuantitas yang diminta naik, juga harga dapat saja berubah menurut selera produsen, artinya produsen dapat mempengaruhi harga di pasar, dalam rangka memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.

Jadi bilamana perusahaan merupakan penjual tunggal, maka posisi keseimbangan jangka pendeknya (MR=MC) juga merupakan posisi keseimbangan jangka panjangnya, hanya saja AR atau harga (P) bahkan dapat melampaui AC dalam jangka panjang.

BAB III KONSEP ELASTISITAS PENAWARAN dan PERMINTAAN

 

3.1. Pengertian Elastisitas

Salah satu pokok bahasan yang palin penting dari aplikasi ekonomi adalah konsep elastisitas. Pemahaman dari elastisitas harga dari permitaan Dan penawaran membantu para ahli ekonomi untuk menjawab suatu pertanyaan, yakni apa yang akan terjadi terhadap permintaan Dan penawaran,  jika ada perubahan harga? Apa yang terjadi pada “keseimbangan harga” bila faktor-faktor yang mempengaruhi kurva demand Dan kurva supply beubah? Dan berapa besar pengaruhnya?

Untuk menjawab ini pakailah konsep elastisitas.

Secara umum, elastisitas adalah suatu pengertian yang menggambarkan derajat kepekaan/respon dari julah barang yang diminta/ ditawarkan akibat perubahan faktor yang mempengaruhinya.

 

3.2. Elastisitas Permintaan

Elastisitas harga permintaanadalah suatu alat/konsep yang digunakan untuk mengukur derajat kepekaan/ respon perubahan jumlah/ kualitas barang yang dibeli sebagai akibat perubahan faktor yang mempengaruhi.

Dalam hal ini pada dasrnya ada tiga variabel utama yang mempengaruhi, maka dikenal tiga elastisitas permintaan, yahitu :

  1. elastisitas harga permintaan
  2. elastisitas silang
  3. elastisitas pendapatan

 

3.2.1. Elastisitas Harga Permintaan (the price elasticity of demand)

Elastisitas harga permintaan adalah derajat kepekaan/ respon jumlah permintaan akibat perubahan harga barang tersebut atau dengan kata lain merupakan perbadingan daripada persentasi perubahan jumlah barang yang diminta dengan prosentase perubahan pada harga di pasar, sesuai dengan hukum permintaan, dimana jika harga naik, maka kuantitas barang turun Dan sebaliknya.

Sedangkan tanda elastisitas selalu negatif, karena sifat hubungan yang berlawanan tadi, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar indeksnya/koefisiennya dapat kurang dair, dama dengan lebih besar dari satu Dan merupakan angka mutlak (absolute), sehingga permintaannya dapat dikatakan :

  1. Tidak elastisitas (in elastic)
  2. Unitari (unity) dan
  3. Elastis (elastic)

Dengan bentuk rumus umum sebagai berikut :

 

                   Δ Q        ΔP                           Δ Q                 P

      Eh                    :              atau Eh =                  X

                     Q           P                             ΔP                  Q

Dimana :

Eh          adalah elastisitas harga permintaan

Q           adalah Jumlah barang yang diminta

P            adalah harga barang tersebut

Δ           adalah delta atau tanda perubahan.

Hasil akhir dari elastisitas tersebut memberikan 3 kategori :

  1. Apabila perubahan harga (ΔP) mengakibatkan perubahan yang lebih besar dari jumlah barnag yang diminta (Δ Q), sisebut dengan elastisitas yang elastis (elastic), dimana besar koefisiennya adalah besar dari satu (Eh.1). Nemtuk kurva permintaannya lebih landai. [ % ΔP < % Δ Q].
  2. Apabila persentase perubahan harga (% ΔP) sama besarnya dengan persentase perubahan jumlah barang yang diminta (% Δ Q), disebut dengan elastisitas yang unity (unitari), dimana besar koefisiennnya adalah sama dengan satu (eh=1), bentuk kurva permintaannya membentuk sudut 45 derajat dari titik asal [% ΔP = % Δ Q].
  3. Apabila persentase perubahan harga (% ΔP) mengakibatkan perubahan kenaikan jumlah barang yang diminta (% Δ Q) yang lebih kecil,disebut dengan elastisitas yang in elastic dimana besar keofisiennya lebih kecil dari satu (Eh<1). Bentuk kurva permintaannya lebih vuram[ % ΔP > % Δ Q].

Pembagian kedalam tiga kategori tersebut disebabkan karena perbedaan total penerimaan (Total Renenue)nya sebagai akibat perubahan harga masing-masing kategori.

Pada suatu kurva permintaan akan terdapat ketiga keadan tersebut, tergantung dititik mana mengjkurnya. Pada harga tinggi, elastisitasnya lebih besar dari satu atau elastis, pada harga yang rendah elastisitasnya kurang dari satu atau tidak elastis (in elastic), sedangkan titik tengah dari kurva permintaan mempunya elastisitas sama dengan satu atau unity (unitari),

Disamping tiga bentuk elastisitasharga permintaan diatas, ada dua lagi elastisitas harga permintaan, yaitu :

  1. Permintaan yang elastis sempurna (perfectly Elastic), ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlahbarang yang diminta terhadap harga, bentuk kurva permintaannya merupakan garis horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu gabris horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu datar, besar elastisitasnya tidak berhingga (Eh =ς) pada kondisi ini berapapun jumlah permintaan, harga tidak berubah atau pada tingkat harga yang jumlah permintaan dapat lebih banyak.
  2. Kurva permintaan yang tidak elastis sempurna (perfectly inelastic), ini merupakan tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, bentuk kurva permintaannya vertikal dengan sempurna sejajar dengan sumbu tegak, besar koefisien elastisitasnya adalah nol (Eh = 0), artinya bagaimanapun harga tinggi, konsumen tidak akan mengurangi jumlah permintaannya.

Masing-masing bentuk kurva elastisitas harga tersebut,

Faktor Yang Mempengaruhi Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas harga permintaan mengukur tingkat reaksi konsumer terhadap perubahan harga. Elastisitas ini dapat menceritakan pada produsen apa yang terjadi terhadap penerimaan penjualan mereka, jika mereka merubah strategi harga, apakah kenaikan/menurunkan jumlah barang yang akan dijualnya.

 

Ada beberapa faktor yang menentukan elastisitas harga permintaan :

  1. Tersedia atau tidaknya barang pengganti di pasar
  2. Jumlah pengguna/tingkat kebutuhan dari barang tersebut
  3. Jenis barang dan pola preferensi konsumen
  4. Periode waktu yang tersedia untuk menyesuaikan terhadap perubahan harga/periode waktu penggunaan barang tersebut.
  5. Kemampuan relatif anggaran untuk mengimpor barang

 

Elastisitas akan besar bilamana :

  1. terdapat banyak barang subsitusi yang baik
  2. harga relatif tinggi
  3. ada banyak kemungkinan-kemungkinan penggunaan barang lain

 

Elastisitas umumnya akan kecil, bilamana :

  1. benda tersebut digunakan dengan kombinasi benda lain
  2. barang yang bersangkutan terdapat dalam jumlah banyak, dan dengan harga-harga yang rendah.
  3. Untuk barang tersebut tidak terdapat barang-barang substitusi yang baik, Dan benda tersebut sangat dibutuhkan.

 

3.2.2. Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand)

   Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya tergantung pada harga barang tersebut. Tetapi juga pada preferensi konsumen, harga barang subsitusi dan komplementer Dan juga pendapatan.

              Para ahli ekonomi mencoba mengukur respon/reaksi permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut, disebut dengan elastisitas silang (Cross Price Elasticity of demand)

              Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y

              Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, misalnya  kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.

              Apabila barang lain tersebut bersifat substitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi Dan sebaliknya.

 

Bentuk umum dari Elastisitas silang adalah :

 ΔQx       Py

Es = ——- x ——-  > 0                     Substitusi

          Δ Px      Qx

 

         Δ Qy       Px

Es = ——- x ——-  < 0                     Komplementer

         Δ Py       Qy

 

Perlu dicatat bahwa indeks/koefisien elastisitas tidak sama dengan lereng dari kurva atau slope dari kurva permintaan. Bila elastisitas tersebut no (0) berarti tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain.

 

3.2.3.     Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand) 

Suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan konsumer akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan apa yang disebut elastisitas pendapatan.

Elastisitas pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perobahan pendapatan, dengan rumus.

 Δ Q                Δ Y                                        Δ Q                Y

Em  =  ——-      :    ——–             atau      Em  = ——–   x     ——–

              Q                   Y                                          ΔY                 Q

 

Jika Em= 1 (Unity), maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah barang yang diminta;

Jika Em>1 (Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.

Jika pendapatan naik; jika Em < 1 (in Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.

Apabila yang terjadi adalah kenaikkan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta sebut barang normal atau superior.

 

Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negatif dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.

 

3.3.          Elastisitas Penawaran

3.3.1.     Elastisitas Harga Penawaran

(The Price Elasticity of Suply)

Sama hal dengan perhatian elastisitas harga pada permintaan, maka pengertian elastisitas harga pada penawaran, diartikan sebagai suatu alat untuk mengukur respon produsen terhadap perobahan harga, penghitungan elastisitas harga penawaran sama dengan penghitungan pada elastisitas harga permintaan, hanya saja perbedaan pengertian jumlah barang diminta diganti dengan jumlah barang yang ditawarkan.

 

Δ Qs             P

Es. =  ——–    x   ——–

Δ P                Q

 

Dimana :

Q         adalah jumlah barang yang ditawarkan;

P          adalah harga barang;

S          adalah delta atau perobahan.

 

Seperti terhadap koefisien elastisitas harga permintaan, koefisien penawaran tersebut juga dapat dibagi kedalam tiga  kategori, yaitu :

(a)             Elastis (Es > 1)

(b)            In Elastis (Es < 1),

(c)             Unity (Es = 1).

(d)            Elastis Sempurna (Es = ~ );

(e)             In Elastis Sempurna (Es = 0).

Disamping tiga bentuk elastisitasharga permintaan diatas, ada dua lagi elastisitas harga permintaan, yaitu :

  1. Permintaan yang elastis sempurna (perfectly Elastic), ini merupakan tingkat yang paling tinggi dari kemungkinan elastisitas, dimana respon yang paling besar dari jumlahbarang yang diminta terhadap harga, bentuk kurva permintaannya merupakan garis horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu gabris horizontal dengan sempurna sejajar dengan sumbu datar, besar elastisitasnya tidak berhingga (Eh =ς) pada kondisi ini berapapun jumlah permintaan, harga tidak berubah atau pada tingkat harga yang jumlah permintaan dapat lebih banyak.
  2. Kurva permintaan yang tidak elastis sempurna (perfectly inelastic), ini merupakan tingkat paling rendah dari elastisitas, dimana respon yang jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga adalah sangat kecil, bentuk kurva permintaannya vertikal dengan sempurna sejajar dengan sumbu tegak, besar koefisien elastisitasnya adalah nol (Eh = 0), artinya bagaimanapun harga tinggi, konsumen tidak akan mengurangi jumlah permintaannya.

Masing-masing bentuk kurva elastisitas harga tersebut,

Faktor Yang Mempengaruhi Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas harga permintaan mengukur tingkat reaksi konsumer terhadap perubahan harga. Elastisitas ini dapat menceritakan pada produsen apa yang terjadi terhadap penerimaan penjualan mereka, jika mereka merubah strategi harga, apakah kenaikan/menurunkan jumlah barang yang akan dijualnya.

 

Ada beberapa faktor yang menentukan elastisitas harga permintaan :

  1. Tersedia atau tidaknya barang pengganti di pasar
  2. Jumlah pengguna/tingkat kebutuhan dari barang tersebut
  3. Jenis barang dan pola preferensi konsumen
  4. Periode waktu yang tersedia untuk menyesuaikan terhadap perubahan harga/periode waktu penggunaan barang tersebut.
  5. Kemampuan relatif anggaran untuk mengimpor barang

 

Elastisitas akan besar bilamana :

  1. terdapat banyak barang subsitusi yang baik
  2. harga relatif tinggi
  3. ada banyak kemungkinan-kemungkinan penggunaan barang lain

 

Elastisitas umumnya akan kecil, bilamana :

  1. benda tersebut digunakan dengan kombinasi benda lain
  2. barang yang bersangkutan terdapat dalam jumlah banyak, dan dengan harga-harga yang rendah.
  3. Untuk barang tersebut tidak terdapat barang-barang substitusi yang baik, Dan benda tersebut sangat dibutuhkan.

 

3.2.2. Elastisitas Silang (The Cross Price Elasticity of demand)

   Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya tergantung pada harga barang tersebut. Tetapi juga pada preferensi konsumen, harga barang subsitusi dan komplementer Dan juga pendapatan.

              Para ahli ekonomi mencoba mengukur respon/reaksi permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut, disebut dengan elastisitas silang (Cross Price Elasticity of demand)

              Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X dibagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y

              Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, misalnya  kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.

              Apabila barang lain tersebut bersifat substitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi Dan sebaliknya.

 

Bentuk umum dari Elastisitas silang adalah :

 ΔQx       Py

Es = ——- x ——-  > 0                     Substitusi

          Δ Px      Qx

 

         Δ Qy       Px

Es = ——- x ——-  < 0                     Komplementer

         Δ Py       Qy

 

Perlu dicatat bahwa indeks/koefisien elastisitas tidak sama dengan lereng dari kurva atau slope dari kurva permintaan. Bila elastisitas tersebut no (0) berarti tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain.

 

3.2.3.     Elastisitas Pendapatan (The Income Elasticity of Demand) 

Suatu perubahan (peningkatan/penurunan) daripada pendapatan konsumer akan berpengaruh terhadap permintaan berbagai barang, besarnya pengaruh perobahan tersebut diukur dengan apa yang disebut elastisitas pendapatan.

Elastisitas pendapatan ini dapat dihitung dengan membagi persentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan persentase perobahan pendapatan, dengan rumus.

 Δ Q                Δ Y                                        Δ Q                Y

Em  =  ——-      :    ——–             atau      Em  = ——–   x     ——–

              Q                   Y                                          ΔY                 Q

 

Jika Em= 1 (Unity), maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah barang yang diminta;

Jika Em>1 (Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.

Jika pendapatan naik; jika Em < 1 (in Elastis), maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.

Apabila yang terjadi adalah kenaikkan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta sebut barang normal atau superior.

 

Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negatif dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.

 

3.3.          Elastisitas Penawaran

3.3.1.     Elastisitas Harga Penawaran

(The Price Elasticity of Suply)

Sama hal dengan perhatian elastisitas harga pada permintaan, maka pengertian elastisitas harga pada penawaran, diartikan sebagai suatu alat untuk mengukur respon produsen terhadap perobahan harga, penghitungan elastisitas harga penawaran sama dengan penghitungan pada elastisitas harga permintaan, hanya saja perbedaan pengertian jumlah barang diminta diganti dengan jumlah barang yang ditawarkan.

 

Δ Qs             P

Es. =  ——–    x   ——–

Δ P                Q

 

Dimana :

Q         adalah jumlah barang yang ditawarkan;

P          adalah harga barang;

S          adalah delta atau perobahan.

 

Seperti terhadap koefisien elastisitas harga permintaan, koefisien penawaran tersebut juga dapat dibagi kedalam tiga  kategori, yaitu :

(a)             Elastis (Es > 1)

(b)            In Elastis (Es < 1),

(c)             Unity (Es = 1).

(d)            Elastis Sempurna (Es = ~ );

(e)             In Elastis Sempurna (Es = 0).

 

3.3.1.     Elastisitas Penawaran Ditinjau dari Sudut Waktu

Elastisitas penawaran juga tergantung kepada waktu, apabila harga berobah, para ahli ekonomi membedakan tiga waktu/masa bagi produsen dalam rangka menyesuaikan jumlah barang yang akan ditawarkan dengan perobahan harga tersebut.

Secara umum, semakin lebih panjang waktu produsen untuk menyesuaikan diri terhadap perobahan harga, semakin besar elastisitas penawaran.

Adapun tiga waktu tersebut adalah :

(1)  tiga Immediate Run / Momentary Period / Market Period, suatu periode waktu yang sangat pendek, dimana jumlah barang yang terdapat di pasar tidak dapat dirubah, yaitu hanya sebanyak yang ada di pasar, kurva penawaran in elastis sempurna.

Seperti yang diperlihatkan gambar. 3.4.a.

The short Run, adalah suatu periode waktu yang cukup panjang bagi suatu perusahaan untuk memproduksi barang, tetapi tidak cukup panjang untuk mengembangkan kapasitas atau masuk pasar bagi perusahaan baru, sehingga out put hanya dapat dikembangkan sebatas kapasitas yang ada, bentuk kurva penawaran Unity.

 

The Long Run, adalah suatu periode waktu yang sangat panjang bagi perusahaan baru untuk masuk kedalam pasar dan bagi perusahaan lama untuk membuat perencanaan untuk pengembangan perusahaan yang lebih memungkinkan untuk menyesuaikan diri dengan perobahan harga, bentuk kurva penawarannya lebih elastis,

 

3.2.          Cara Menghitung Elastisitas Permintaan

Secara garis besar ada dua cara dalam mengukur besaran elastisitas permintaan, yaitu :

 

(1)  Elastisitas Titik (Point elasticity)

Cara ini digunakan untuk mengukur elastisitas yang perubahan harga dan jumlah yang diminta relatif sangat kecil atau limit mendekati nol, hal ini dapat dibuktikan,

 

(1)  Elastisitas Busur (Art Elastisity)

Cara kedua ini digunakan untuk mengukur perubahan harga dan jumlah permintaan yang besar.

Cara penghitungan ini terbagi dalam dua bentuk :

 

 

  1. Elastisitas Jarak.

Suatu cara mengukur elastisitas yang besar, tetapi bersifat searah, seperti diukur dari titik A ke titik B tidak sama besar hasilnya bila diukur dari titik B ke titik A.

 

  1. Elastisitas Jarak dengan Modifikasi / mid point;

Suatu cara dalam mengukur besaran elastisitas tanpa memperhatikan arah, apakah dimulai dari titik A ke titik B atau sebaliknya, dimana cara ini tidak akan ada perbedaan dari hasilnya, tujuan dari metode perhitungan ini adalah untuk mengatasi kelemahan pada cara pengukuran jarak (a).

 

3.3.1.     Elastisitas Penawaran Ditinjau dari Sudut Waktu

Elastisitas penawaran juga tergantung kepada waktu, apabila harga berobah, para ahli ekonomi membedakan tiga waktu/masa bagi produsen dalam rangka menyesuaikan jumlah barang yang akan ditawarkan dengan perobahan harga tersebut.

Secara umum, semakin lebih panjang waktu produsen untuk menyesuaikan diri terhadap perobahan harga, semakin besar elastisitas penawaran.

Adapun tiga waktu tersebut adalah :

(1)  tiga Immediate Run / Momentary Period / Market Period, suatu periode waktu yang sangat pendek, dimana jumlah barang yang terdapat di pasar tidak dapat dirubah, yaitu hanya sebanyak yang ada di pasar, kurva penawaran in elastis sempurna.

Seperti yang diperlihatkan gambar. 3.4.a.

The short Run, adalah suatu periode waktu yang cukup panjang bagi suatu perusahaan untuk memproduksi barang, tetapi tidak cukup panjang untuk mengembangkan kapasitas atau masuk pasar bagi perusahaan baru, sehingga out put hanya dapat dikembangkan sebatas kapasitas yang ada, bentuk kurva penawaran Unity.

 

The Long Run, adalah suatu periode waktu yang sangat panjang bagi perusahaan baru untuk masuk kedalam pasar dan bagi perusahaan lama untuk membuat perencanaan untuk pengembangan perusahaan yang lebih memungkinkan untuk menyesuaikan diri dengan perobahan harga, bentuk kurva penawarannya lebih elastis,

 

3.2.          Cara Menghitung Elastisitas Permintaan

Secara garis besar ada dua cara dalam mengukur besaran elastisitas permintaan, yaitu :

 

(1)  Elastisitas Titik (Point elasticity)

Cara ini digunakan untuk mengukur elastisitas yang perubahan harga dan jumlah yang diminta relatif sangat kecil atau limit mendekati nol, hal ini dapat dibuktikan,

 

(1)  Elastisitas Busur (Art Elastisity)

Cara kedua ini digunakan untuk mengukur perubahan harga dan jumlah permintaan yang besar.

Cara penghitungan ini terbagi dalam dua bentuk :

 

 

a.      Elastisitas Jarak.

Suatu cara mengukur elastisitas yang besar, tetapi bersifat searah, seperti diukur dari titik A ke titik B tidak sama besar hasilnya bila diukur dari titik B ke titik A.

 

 

 

a.      Elastisitas Jarak dengan Modifikasi / mid point;

Suatu cara dalam mengukur besaran elastisitas tanpa memperhatikan arah, apakah dimulai dari titik A ke titik B atau sebaliknya, dimana cara ini tidak akan ada perbedaan dari hasilnya, tujuan dari metode perhitungan ini adalah untuk mengatasi kelemahan pada cara pengukuran jarak (a).

 

3.2.          Elastisitas dan Penerimaan

Elastisitas berhubungan dengan reaksi jumlah barang terhadap perubahan harga, pada suatu kurva permintaan atau penawaran tertentu.

Elastisitas perlu diketahui oleh penjual sebab; jika jumlah barang besar reaksinya terhadap perubahan harga, maka suatu penurunan harga akan menaikkan jumlah pengeluaran konsumen untuk barang tersebut, berarti juga menaikkan penghasilan.

Jika jumlah barang tidak ada atau kecil reaksinya terhadap perubahan harga, maka penurunan harga hanya akan menurunkan jumlah penghasilan yang diterima penjual dari penjualan barang tersebut.

Bagi penjual yang penting adalah hubungan antara perubahan harga, elastisitas dan jumlah penerimaan penjual, jika kuantitas dikalikan dengan harga per unit, maka akan menghasilkan jumlah penerimaan, karena total penerimaan dari penjualan dalam suatu pasar adalah sama dengan harga produk kali dengan harga barang yang dijual (TR = P x Q).

Koefisien dari elastisitas permintaan dapat dipakai untuk meramalkan apa yang akan terjadi terhadap total penerimaan dari penjualan; apa yang akan terjadi dengan total pengeluaran konsumen bila harga berobah.

Sepanjang kurva permintaan, Harga dan Quantitas barang akan selalu bergerak berlawanan arah, suatu penurunan harga (p) akan memberikan total penerimaan yang lebih rendah dan suatu kenaikkan kuantitas (Q) akan menaikkan total penerimaan (TR).

Apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Total Penerimaan, tergantung kepada reaksi permintaan terhadap perobahan harga barang.

Pada permintaan yang elastis, maka penurunan harga mengakibatkan persentase kenaikkan kuantitas yang dijual melebihi persentase turunnya harga, sehingga akan menyebabkan kenaikkan jumlah penerimaan.

Pada permintaan yang in elastis, maka suatu penurunan harga akan memberikan kenaikkan kuantitas yang terjual relatif lebih kecil daripada penurunan harga, sehingga jumlah penerimaan penjual menjadi turun.

Pada permintaan yang unitari, maka persentase kenaikan kuantitas akan sama dengan persentase harga, dan jumlah penerimaan penjual akan tetap tidak berubah jika terjadi kenaikkan harga dan sebaliknya.

Oleh karena itu, seorang penjual yang akan merubah harga harus memperhatikan elastisitas permintaan setiap tingkat harga tersebut.

Jadi berobahnya total penerimaan (TR) dapat memberikan cara yang cepat, untuk meneliti apakah suatu titik berada pada titik elastis, in elastis dan unitari, dengan cara :

a)     Bilamana P diturunkan dan TR menurun pula, maka permintaan adalah inelastis, atau jika P dan TR bergerak arah yang sama, maka Eh < 1;

b)     Bilamana P diturunkan dan menyebabkan TR meningkat, maka permintaan adalah elastis, atau jika P dan TR bergerak berbeda arah, maka Eh > 1;

c)     Bilamana P dinaikkan atau diturunkan, sedangkan TR sama saja, maka permintaan bersifat elastis kesatuan (unity) atau jika TR tidak berobah, ketika P berobah, maka Eh = 1.

 

Jadi ada dua cara untuk menentukan apakah permintaan tersebut adalah Elastis, In elastis atau Unity, yaitu cara :

1)     Metode Perhitungan Koefisien Elastisitas harga dari permintaan yang diperoleh dari informasi P dan Q.

Observasi apa yang akan terjadi terhadap Total Penerimaan/Total Revanue (TR), apabila P berobah dan pengujian total penerimaan (Total Revanue Test), tapi cara kedua ini tidak memberikan suatu nilai koefisien.

 

 

 

BAB II PERMINTAAN dan PENAWARAN

 

2.1.           Pengertian Permintaan

Permintaan (demand) terhadap suatu barang dan jasa dapat didefinisikan sebagai suatu hubungan antara sejumlah barang atau jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk membeli dipasar atau jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk dibeli dipasar pada tingkat harganya pada waktu tertentu.

 

2.1.1.     Hukum Permintaan (The Law of Downward-Sloping Demand) 

Hubungan antara harga yang dibeli berbanding terbalik dengan harga artinya semakin tinggi harga sesuatu barang makin sedikit jumlah barang yang akan dibeli/diminta oleh konsumen dan sebaliknya, apabila harga dari suatu barang diturunkan, maka jumlah barang yang dibeli akan menaikkan/bertambah.

Syarat berlakunya hukum ini apabila faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tidak berubah/tetap, keadaan ini disebut dengan istilah ceteris paribus dan hal ini harus dinyatakan suatu priode waktu tertentu.

Perbandingan terbalik tersebut mengakibatkan kurva permintaan turun dari kiri atas ke kanan bawah dengan tanda kemiringan (Slope) negatif.

2.1.2.     Permintaan Pasar (Market Demand Scedule/Curve)

  Permintaan dapat dibagi menjadi dua :

  1. Permintaan individu terhadap suatu barang, yaitu permintaan yang dilakukan oleh orang perorangan

Permintaan pasar (total), yaitu permintaab keseluruhan dari individu dalam suatu pasar terhadap suatu jenis barang. Artinya adalah sautu daftar jumlah keseluruhan daripada permintaan individu-individu di pasar.

 

2.1.1.     Hukum Permintaan (The Law of Downward-Sloping Demand)

Hubungan antara harga yang dibeli berbanding terbalik dengan harga artinya semakin tinggi harga sesuatu barang makin sedikit jumlah barang yang akan dibeli/diminta oleh konsumen dan sebaliknya, apabila harga dari suatu barang diturunkan, maka jumlah barang yang dibeli akan menaikkan/bertambah.

Syarat berlakunya hukum ini apabila faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tidak berubah/tetap, keadaan ini disebut dengan istilah ceteris paribus dan hal ini harus dinyatakan suatu priode waktu tertentu.

Perbandingan terbalik tersebut mengakibatkan kurva permintaan turun dari kiri atas ke kanan bawah dengan tanda kemiringan (Slope) negatif.

2.1.2.     Permintaan Pasar (Market Demand Scedule/Curve)

  Permintaan dapat dibagi menjadi dua :

  1. Permintaan individu terhadap suatu barang, yaitu permintaan yang dilakukan oleh orang perorangan

Permintaan pasar (total), yaitu permintaab keseluruhan dari individu dalam suatu pasar terhadap suatu jenis barang. Artinya adalah sautu daftar jumlah keseluruhan daripada permintaan individu-individu di pasar.

 

2.1.1.     Perobahan dan Pergeseran Kurva Permintaan.

Dalam hal ini, perlu dibedakan antara jumlah barang yang diminta dengan perubahan permintaan, perubahan jumlah diakibatkan karena perubahan barang, dimana faktor lain yang mempengaruhi perubahan tersebut tetap. Maka perubahan tersebut akan terlihat berupa gerakan sepanjang kurva, ini disebut dengan Increase in Quality Demand (bila harga turun yang mengakibatkan  jumlah permintaan bertambah)dan bila terjadi kenaikan harga yang mengakibatkan permintaan kurang, keadaan ini disebut dengan Decrease in Quantity Demand.

Tetapi bila faktor yang mempengaruhi permintaan ternyata bekerja/berubah, maka akan mengakibatkan permintaan akan berubah dengan bergesernya kurva permintaan

Bila pergeseran kurva permintaan tersebut tekanan yang mengakibatkan bertambahnya jumlah barang diminta pada tingkat harga yang sama, maka ini disebut Increased I Demand Curve, Dan bila pergeseran kurva permintaan tersebut ke kiri yang mengakibatkan berkurangnya/turunnya jumlah permintaan pada tingkat harga sama, maka disebut dengan Descreased in Demand Curve.

 

Teori Ekonomi Mikro – Pengertian Dasar

BAB I PENGERTIAN DASAR

 1.1. Definisi,

Pembagian dan Ruang Lingkup Ilmu Ekonomi 1.1.1. Definisi Ilmu Ekonomi Dalam berbagai literature para ahli ekonomi telah banyak memberikan bermacam definisi Ilmu Ekonomi, dan tidak jarang pula berbeda satu sama lain terutama dari segi pandangannya. Diantaranya seperti yang dikemukakan oleh : – Albert L Meyers dalam bukunya “ Grondslagen van de moderne economie “ mengemukakan bahwa : “ Ilmu Ekonomi adalah Ilmu Pengetahuan yang mempersoalkan kebutuhan dan pemuas kebutuhan manusia.” – J.L. Mey Jr. dalam bukunya “Leerboek der bedrijfs economie “ mendefinisakan Ilmu Ekonomi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha manusia kearah kemakmuran.” – Adam Smith, mendefinisikan Ilmu Ekonomi sebagai suatu Ilmu yang menyelidiki tentang sifat-sifat dan sebab musabab kemakmuran. – Lionel Robbins dan Boulding menyatakan bahwa ilmu ekonomi merupakan Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai suatu hubungan antara keinginan dan kelangkaan alat kebutuhan yang alternatif dalam pemakaiannya. – Jacob Viner, mendefinisikan Ilmu Ekonomi sebagai suatu tindakan apa yang dapat dilakukan oleh pelaku atau ahli ekonomi. – Hennipman menyatakan bahwa “ Bagian terbesar dari teori ekonomi , terutama teori nilai, bertugas untuk menganalisa manusia dan reaksinya dalam kehidupan ekonomi.” – Frank Knight ; “ Studi mengenai ilmu ekonomi adalah studi mengenai cara bertindak ekonomis.” – R. J. Ruffin menyatakan bahwa Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana sumber produksi yang langka dialokasikan diantara kebutuhan. Banyak lagi, definisi lain yang dapat ditemui, ada yang menyatakan ilmu ekonomi adalah studi mengenai kekayaan materil atau ilmu yang mempelajari penilaian serta pilihan manusia. Bila diperhatikan semua definisi diatas dapat dikatakan bahwa tidak ada satu definisipun yang lengkap mencakup arti ilmu ekonomi, karena setiap definisi hanya menekankan satu atau beberapa segi saja daripada bidang luas yang dicakup oleh ilmu ekonomi. Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa “Ilmu Ekonomi adalah suatu Ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana tingkah laku manusia dalam usaha memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas, dengan mengadakan pemilihan diantara berbagai alternatif pemakaian atas alat-alat pemuas kebutuhan yang tersedianya relatif terbatas / langka ( Scarcity ). Dari pengertian umum diatas dapat dinyatakan bahwa perilaku ekonomi yang timbul sebagai tanggapan terhadap dorongan keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berhadapan dengan alat-alat pemuas kebutuhan yang terbatas baik jumlah maupun macamnya, sehingga membuat masalah bagi manusia. Yang menjadi pokok masalah dari perilaku ekonomi tersebut adalah satu sisi kebutuhan manusia ( Needs ) disisi lain alat pemuas kebutuhan, yaitu barang-barang dan jasa-jasa. Kebutuhan Manusia ( Needs ) Keluasan jangkauan kebutuhan hidup berbeda setiap manusia karena perkembangan kebutuhan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya manusia sendiri, tetapi secara umum jenis kebutuhan manusia dapat dikelompokkan menjadi : (1). Kebutuhan pokok ( Basic Needs ) Merupakan kebutuhan kebendaan yang sangat essensial bagi kelangsungan hidup, yang merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi seperti sandang , pangan, dan papan; (2). Kebutuhan Adat Istiadat. (conventional needs), merupakan kebutuhan manusia dalam hidup bermasyarakat yang merupakan jati diri / cirri khas suatu kehidupan masyarakat , seperti, pakaian adat pakaian penganten dsb. (3). Kebutuhan pekerjaan ( occupational needs ) Merupakan kebutuhan manusia akan pekerjaan dan alat-alat yang diperlukan dan dipergunakan untuk menghasilkan barang- barang dan jasa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, seperti jadi pegawai / karyawan bank, (4). Kebutuhan kepribadian / Tabiat ( Personality Needs ) Merupakan jenis kebutuhan pengakuan terhadap keberadaan diri dan kepribadian seperti status sosial, hobi, tabiat dan pendidikan dan sebagainya. Alat-alat pemuas kebutuhan ( good & service ) Alat-alat pemuas kebutuhan manusia berupa barang (goods) dan jasa-jasa (services) dan di klasifikasikan meliputi :

(1). Benda Ekonomi ( Economic Goods ), merupakan alat pemuas kebutuhan manusia yang dapat berupa barang, jasa, dan sumber daya lain yang tersedia dengan ciri-ciri : – Langka ( Scarcity ); – Dapat berpindah atau dipertukarkan ( Transferable ) ; – Mempunyai nilai guna ( Utility ); – Mempunyai harga ( Price ) – Untuk mendapatkannya membutuhkan pengorbanan.

 (2). Barang-barang Bebas (Free Goods), yaitu alat pemuas kebutuhan manusia yang bebas dan tersedia dalam perekonomian dalam jumlah yang lebih besar daripada kebutuhan manusia, dengan ciri-ciri : – Mudah diperoleh dan – Tidak mempunyai harga pasar, seperti air sungai ;

(3). Barang masyarakat /Umum (Public Goods), yaitu alat pemuas kebutuhan manusia yang pada umumnya penyediaannya dilakukan oleh pemerintah, barang ini bersifat ekonomi bagi si penyedia dan bersifat barang bebas bagi si pemakai, seperti PLTA, PAM dimana kepada masyarakat dibebankan biaya ganti rugi terhadap investasi yang dilakukan pemerintah.

1.1.2. Pembagian dan ruang lingkup Ilmu Ekonomi Secara garis besar

Ilmu Ekonomi terbagi dalam 3 kelompok, yaitu:

a).Ekonomi Diskriptif ( Deskriptive Economics ), yaitu Ilmu Ekonomi yang bersifat mengumpulkan keterangan-keterangan yang faktual yang relevan mengenai sesuatu masalah .

b). Ekonomi Teori ( Economic Theory / Economics Analysis ), yang terbagi dalam 2 cabang, yaitu :

(1). Teori Ekonomi Mikro ( Micro Economics Theory )
(2). Teori Ekonomi Makro (Macro Economics Theory ) Yang tugasnya mencoba menerangkan bekerjanya sistem perekonomian tersebut secara teoritis.

c). Ekonomi Terapan ( Applied Economics ), yaitu kebijaksanaan ekonomi yang diterapkan dengan menggunakan hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk menerangkan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh ekonomi diskriptif. Teori Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro Kata-kata mikro berasal dari bahasa yunani, yaitu Mikros yang berarti kecil (small), mak ekonomi mikro merupakan suatu pendekatan atau ilmu ekonomi yang berhubungan dengan hanya bagian-bagian daripada ekonomi keseluruhan. Yang dianalisa disini adalah sehubungan dengan masalah ekonomi dari Individu-individu ( perorangan ), masing–masing perusahaan atau industri-industri , dengan kata lain mempelajari keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat oleh perusahaan–perusahaan dan individu-individu di pasar, misalnya : – Menganalisa bagaimana motif-motif dan tindakan–tindakan daripada individu–individu perorangan untuk berkonsumsi, kenapa seseorang membeli atau mengkonsumer sesuatu barang dan kenapa tidak terhadap barang lainnya, dan penentuan kebutuhan konsumen yang optimal. – Mempelajari bagaimana penentuan harga yang dihadapi oleh perusahaan (Firm) tertentu yang masing–masing ini ditentukan antara lain oleh kekuatan permintaan dan penawaran dari barang–barang tertentu yang dihasilkan oleh firm tersebut. – Menyelidiki bagaimana sesuatu perusahaan secara intern menghadapi keadaan pasar, menganalisa biaya secara unit maupun total dan kualitas produksi yang memberikan profit maksimal atau kerugian yang minimal. Teori Ekonomi Makro, merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang khusus mempelajari mekanisme bekerjanya perekonomian sebagai suatu keseluruhan dan bagaimana bentuk kebijaksanaan dengan materinya meliputi, analisa pendapatan nasional, kesempatan kerja, distribusi pendapatan, konsumsi agregatif, investasi, tabungan, pasar uang, pasar barang dan pasar tenaga kerja dan tingkat harga umum. dengan kata lain, merupakan studi perekonomian meliputi pasar individu, konsumer dan produser secara keseluruhan.

1.2. Pelaku Dan Macam Kegiatan Ekonomi Dalam perekonomian manapun, baik primitif maupun modern, baik kapitalis, sosialis maupun campuran dapat dibedakan tiga kelompok pelaku ekonomi yang selanjutnya disebut pelaku-pelaku ekonomi, ketiga kelompok tersebut adalah :

a. rumah tangga atau rumah tangga konsumen (house hold)

b. rumah tangga perusahaan atau rumah tangga produsen (firm)

c. rumah tangga pemerintah (government)

Adapun kegiatan pokok dari ketiga kelompok tersebut seperti Rumah Tangga Konsumen (RTK) meliputi kegiatan menjual, menyewakan sumber daya yang mereka miliki dengan mendapatkan pendapatan berupa gaji/upah, sewaan, bunga atau laba; membayar pajak; membeli dan mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan oleh Rumah Tangga Produsen (RTP); serta memanfaatkan jasa pemakaian barang dan jasa publik yang disediakan oleh pemerintah. Rumah Tangga Produsen (RTP) meliputi; membeli menyewakan sumber daya/faktor produksi dari rumah tangga konsumen untuk menghasilkan barang dan jasa; membayar pajak; memanfaatkan jasa barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dan menjual barang dan jasa yang mereka hasilkan kepada rumah tangga konsumen dan pemerintah dan juga sesama rumah tangga produsen. Pemerintah meliputi membeli sumber daya faktor produksi, barang dan jasa dari rumah tangga konsumen dan rumah tangga produsen; mengatur perekonomian serta menyediakan barang publik; menerima pembayaran pajak dari RTK Dan RTP Dari uraian pelaku dan kegiatan di atas, dapat disimpulkan bahwa dari ketiga pelaku ekonomi tersebut terdapat tiga jenis/kelompok kegiatan ekonomi, yaitu kegiatan produksi, kegiatan konsumsi dan kegiatan pertukaran.

 1.3. Sistem dan Masalah Pokok Perekonomian Sistem ekonomi adalah suatu sistem keseluruhan dari lembaga-lembaga ekonomi yang saling berkaitan satu sama lain yang tujuannya membantu masyarakat untuk mengatur, menyediakan, kelengkapan produksi, distribusi, alokasi daripada barang ekonomi dan jasa. Menurut masanya, sistem perekonomian dibedakan kepada perekonomian substansi/sederhana/primitif, perekonomian modern dan perekonomian sosial; menurut mekanisme koordinasi, sistem perekonomian dapat dibedakan kepada perekonomian tradisional, perekonomian pasar dan perekonomian komando; menurut pemilikan kekayaan faktor produksi, sistem perekonomian dapat dibedakan menjadi ekonomi kapitalis, sosialis dan campuran; terakhir menurut pengambilan keputusan dia dapat dibedakan menjadi perekomonian sentralisasi dan desentralisasi. Setiap perekonomian harus mempunyai tugas dasar tertentu, yaitu menentukan memecahkan masalah-masalah what, where, how dan when for, whom, seperti; menentukan jenis barang dan jasa yang akan diproduksi; bagaimanakah teknik dan gabungan faktor produksi yang harus digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa harus diproduksi, apakah penggunaan faktor produksi sudah mencapai efisiensi yang tinggi dan bagaimana cara mencapainya, dimanakah dan kapankah barang dan jasa harus dihasilkan dan berapakah tingkat kebutuhannya; dan bagaimana pendapatan masyarakat didistribusikan diantara faktor-faktor produksi, dan bagaimana distribusi itu harus diperbaiki agar kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan mencapai taraf yang maksimal.

1.4. Spesialisasi Salah satu ciri-ciri dari sistem perekonomian modern adalah berkembangnya teknologi dan spesialisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam kegiatan ekonomi. Sebab-sebab terjadinya spesialisasi, yaitu:

a. Banyaknya macam barang yang dibutuhkan manusia, sehingga setiap individu tidak dapat memenuhi dan menghasilkan kebutuhan tersebut sendiri

b. Begitu kompleknya proses dari beberapa barang, sehingga tidak dihasilkan sendiri oleh individu.

c. Dalam berbagai tingkat proses produksi masing-masing individu tidak mampu memprosesnya berdasarkan kemampuannya.

Bentuk-Bentuk Spesialisasi Spesialisasi dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu:

1. Specialization by different of profession; yaitu spesialisasi yang terjadi karena adanya perbedaan profesi seseorang.

2. Geographical of territorial specialization; yaitu spesialisasi yang terjadi karena adanya perbedaan keadaan potensi suatu daerah

3. Specialization by stage of production; yaitu spesialisasi yang terjadi disebabkan oleh karena perbedaan tingkatan dalam produksi.

Kebaikan Spesialisasi

a. Dapat menghemat waktu, tenaga kerja dan modal karena pekerjaan tersebut sudah merupakan hal yang rutin.

b. Dapat memilih jenis pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan bagi setiap individu

c. Setiap individu dapat mengembangkan keahliannya.

Keburukan spesialisasi

a. tingkat ketergantungan yang tinggi dan sangat kuat satu sama lainnya.

b. Kesukaran dalam mengalokasikan sumber produksi secara merata, sehingga kemakmuran tidak merata.

c. Pekerjaan tersebut dapat membosankan. 1.5. Utilitas, Nilai, Harga dan Pasar

1.5.1. Pengertian Utilitas Setiap barang dan jasa merupakan alat pemuas kebutuhan manusia, ia harus dapat memberikan kepuasan kepada manusia (satisfaction). Henrich Gossen, menganggap bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang tergantung dari subjek yang memberikan penilaian. Suatu barang baru mempunyai arti bagi seorang konsumen apabila barang tersebut mempunyai daya guna (utility), dan besar kecilnya daya guna tersebut tergantung dari konsumen yang bersangkutan; makin banyak barang yang dikonsumsinya makin besar daya guna total (total utility) yang diperolehnya, akan tetapi laju pertambahan daya guna (marginal utility) yang diperoleh karena mengkonsumsi satu kesatuan barang makin lama semakin rendah, bahkan jumlah pertambahannya dapat menjadi nol dan bila penambahan konsumsi diteruskan jumlahnya, pertambahan daya gunanya bahkan bisa menjadi negatif akibat pertambahan jumlah konsumsi tersebut, hal ini biasa disebut dengan hukum pertambahan daya guna menurun (the law of diminishing marginal utility) atau hukum Gossen I.

Dari pernyataan Gossen di atas dapat ditulis beberapa pengertian secara sederhana sebagai berikut : ­ Daya guna/utilitas (Utility) adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan kepuasan kepada manusia dalam memenuhi kebutuhannya. ­ Daya guna total ( Total Utility) adalah jumlah daya guna atau kegunaan yang di peroleh dari mengkonsumsi suatu barang untuk waktu tertentu. ­ Daya guna menaik (Increase Total Utility), makin banyaknya konsumsi suatu barang atau memperoleh alat pemuas kebutuhan, maka total utilitas akan meningkat jumlahnya. ­ Daya guna menurun (Descrease Total Utility), adalah nilai total guna yang semakin menurun/berkurang akibat menambah jumlah konsumsi suatu barang. ­ Daya Guna Marginal (Marginal Utility) adalah bertambahnya tingkat kepuasan akibat penambahan satu unit barang konsumsi terakhir, atau dengan kata lain bahwa penambahan utilitas yang didapat seseorang konsumer ketika mengkonsumsi barang dan jasa akibat penambahan 1 unit barang tersebut. ­ Hukum Penurunan Daya Guna (The Law of Dimishing Marginal Utility) mula-mula akan bertambah besar dengan penambahan satu unit konsumsi, kemudian penambahan konsumsi selanjutnya akan menambah total daya guna yang semakin kecil (marginal utilitynya turun), sehingga akhirnya tercapai kekenyangan. Artinya semakin banyak seseorang mengkonsumsi suatu barang, makin berkuranglah daya guna yang dapat diberikan barang tersebut baginya, dengan asumsi konsumsi barang lain konstan Bentuk-Bentuk Utilitas (Utility) Menurut bentuknya utilitas dapat dibagi menjadi :

1. Form Utility, yaitu daya guna dari suatu barang akan timbul karena atau setelah diadakan perobahan bentuk/pisik barang tersebut, seperti kayu menjadi kursi tempat duduk.

2. Place Utility, yaitu daya/nilai guna suatu barang timbul akibat berpindahnya barang tersebut dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih memerlukannya, seperti barang-barang tambang.

3. Time Utility, yaitu daya/nilai guna suatu barang akan lebih berguna pada suatu waktu dari pada waktu lainnya, atau setelah berlangsungnya beberapa waktu lamanya, seperti payung dikala hujan.

4. Ownership Utility, Yaitu kegunaan suatu barang timbul karena barang tersebut diberikan kepada pihak lain yang lebih membutuhkannya, seperti bank memberikan kredit pasar nasabah.

Hubungan Total Utility, Marginal Utility Dan Average Utility. Bentuk hubungan ketiga istilah / komponen diatas antara Total Utility (TU), Marginal Utility (MU) dan Average utility (AU) hanyalh merupakan hubungan fungsional sebagai berikut :

1) TUn = MU1 + MU2 +…. +MUn atau TUn = Mui.

Bila seseorang meminum susu 4 gelas sehari, maka ini berarti nilai n adalah 4, nilai utilitynya adalah, jika marginal utilitynya berturut-turut dari masing-masing meminum 10,8,6,4, maka TUn = Mui = 10 + 8 + 6 + 4 = 28. 2) TUn = AUn x n atau AUn = TUn : n 3) MUn = TUn – TUn-1 Dengan menggunakan tabel dan grafik berikut ini dapat dilihat hubungan antara jumlah barang yang dikonsumsikan dengan daya guna total ( Total Utility ) Dan laju pertambahan daya guna ( Marginal Utility ). Tabel.1.1. Total Utility dan Marginal Utility Q Total Utility Marginal Utility 0 1 3 4 5 6 7 8 0 40 90 100 105 107 105 100 0 40 20 10 5 2 -2 -5

Keterangan : Pada tabel 1.1.1 diatas terlihat bahwa total utilitas suatu barang yang dikonsumsi, pada mulanya akan naik, tetapi sampai pada batas tertentu, akan menurun, sementara nilai pertambahan daya guna / marginal utility dari setiap penambahan satu unit konsumsi akan bertambah dengan semakin kecil. Secara grafik hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Gambar 1.1 Total Utility dan Marginal Utility Keterangan : Pada gambar diatas dapat dilihat garis total utilitas yang merupakan jumlah dari seluruh kepuasan yang diterima konsumen, kurva TU ini memberikan tiga keadaan; garis OA disebut Incresing Total Utility, yaitu kurva yang menunjukkan bahwa semakin banyak memperoleh alat pemuas kebutuhan, maka total guna akan semakin naik dan setelah mencapai titik A yang disebut dengan titik jenuh. (Saturation Point of Consumption ) dimana seorang konsumen telah mencapai tingkat kepuasan total guna tertinggi dan kemudian garis AB disebut Decreasing Total Utility, yaitu penurunan daya guna, setelah konsumen mencapai titik jenuh (A) maka penambahan dalam satu satuan barang yang sama total guna (TU) akan semakin menurun, hal ini disebabkan karena pertambahan daya guna yang semakin mengecil, seperti yang diperlihatkan oleh kurva MU, maka gerakan dari OA-AB berlaku hukum Gossen I. 1.5.2. Pengertian Nilai (value) dan Harga (Price) Benda-benda ekonomi selain memiliki Daya guna/Utilitas juga mempunyai Nilai (Value) dan Harga (Price). Nilai suatu benda Ekonomi tersebut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1) Nilai Pakai (Value in Use ). 2) Nilai Tukar (Value in Exchange ) Istilah tersebut diatas dapat ditinjau dari 2 sudut yaitu : 1) Ditinjau dari sudut subjektif (segi manusianya). 2) Ditinjau dari sudut objektif (segi bendanya ). Dari kedua sudut tinjauan diatas, maka pengertian nilai tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut: a) Value in Use, yaitu nilai kegunaan suatu benda yang berguna dalam pemakaiannya bagi seseorang; b) Value in Exchange adalah kemampuan elemen suatu barang untuk memperoleh barang lain dalam pertukaran ; ad. a.1. Value in use ditinjau dari sudut objeknya, berarti kesanggupan suatu benda untuk memenuhi kebutuhan manusia secara umumnya ; ad. a.2. Value in use ditinjau dari sudut subjectif berarti nilai yang diberikan seseorang terhadap suatu barang sehubungan dengan kebutuhan sendiri; ad. b.1. Value in exchange dari sudut objektif berarti yaitu kemampuan dari suatu benda untuk mendapatkan benda lain setelah dipertukarkan dalam transaksi ; ad. b.2. Value in exchange dari sudut subjektif berarti nilai yang diberikan seseorang terhadap suatu barang karena barang tersebut dapat dipertukarkan dengan barang lain. Nilai tukar dari sudut objektif biasanya diukur dengan uang atau memiliki harga (Price), berarti nilai tukar saat barang yang menunjukkan berapa jumlahnya uang yang perlu di korbankan untuk mendapatkan 1 ( satu ) unit barang tersebut. Sistem harga memegang peranan penting didalam kegiatan ekonomi , karena harga barang akan dapat menimbulkan keseimbangan antara produksi dan konsumsi mengalokasikan sumber-sumber produksi, dan harga dapat mempengaruhi tindakan konsumen dan produsen untuk mengambil keputusan. 1.5.3. Pengertian Pasar Pengertian Pasar dalam Ilmu Ekonomi, adalah pertemuan antara pembeli-pembeli dan penjual–penjual (konsumen dan produsen) untuk suatu keinginan menentukan kondisi bagi pertukaran sumber daya (barang dan jasa) atau dengan kata lain merupakan pertemuan transaksi antara dan permintaan dan penawaran yang tidak dibatasi oleh ruang waktu dan tempat. Dalam pengertian ini, maka pasar dapat dibedakan : 1. Pasar konkrit, yaitu tempat berkumpulnya pembeli dan penjual untuk memperjual belikan barang –barang yang terdapat disana. 2. Pasar abstrak, yaitu tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, akan tetapi barang-barang yang akan diperjual belikan biasanya tidak ada disana, dengan demikian pembelian dan penjualan dilakukan berdasarkan contoh. Berdasarkan bentuk struktur organisasinya, pasar dapat dibedakan : 1. Pasar Sempurna (Perfect Market ), yaitu pasar yang terorganisasi dengan sempurna, salah satu bentuk pasar ini adalah pasar persaingan sempurna (Perfectly Competition). 2. Pasar Tidak Sempurna (Imperfect Market ). Yaitu pasar yang tidak terorganisasi dengan sempurna. Bentuk pasarnya adalah pasar persaingan tidak sempurna (Imperfect Competition), seperti pasar Monopoli; Oligopoli; Monopsoni. 1.6. Produksi dan Konsumsi 1.6.1. Pengertian Produksi Dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia akan barang-barang dan jasa-jasa, maka perlu diproduksi barang dan jasa tersebut dengan jalan mengkombinasikan faktor-faktor produksi. Kegiatan/Proses untuk menghasilkan barang dan jasa ini disebut dengan Kegiatan Produksi, dengan pengertian dalam Ilmu Ekonomi bahwa produksi adalah suatu kegiatan/tindakan untuk meningkatkan menimbulkan daya guna suatu barang ekonomi. Jenis-Jenis Kegiatan Produksi. Jenis-jenis Kegiatan tersebut dapat berupakan : a) Merubah bentuk pisik (Form Changing Activity), yaitu merupakan suatu kegiatan untuk merubah bentuk pisik dari barang ekonomi; b) Pengangkutan (Transportation), yaitu kegiatan untuk memindahkan barang ekonomi dari suatu tempat ke tempat lain dimana kebutuhan pemakaian jauh lebih besar/lebih diperlukan dari tempat semula ; c) Penggudangan (Storage), yaitu merupakan kegiatan menyimpan barang-barang di gudang yang nantinya akan dijual disalurkan pada pembeli pada waktu tertentu ; d) Perdagangan (Merchandising), yaitu kegiatan perdagangan menyalurkan barang-barang ekonomi yang akan memudahkan konsumen untuk memperoleh barang yang dibutuhkannya; e) Jasa Individu (PersonalService), yaitu tindakan-tindakan seseorang berupa pemberian jasa-jasa bagi yang memerlukannya dimana masyarakat bersedia membayar. Produksi yang merupakan suatu proses daripada input menjadi output, dimana untuk menghasilkan output tersebut diperlukan sumberdaya (Resources) seperti Natural Resources, Capital Equipment dan Human Resources yang merupakan input-inputnya, antara lain faktor-faktor produksi tersebut meliputi : 1. Tanah/Sumberdaya alam (Land/Natural Resources), yaitu merupakan faktor produksi yang terdapat dalam alam , jenis ini dapat digolongkan sebagai berikut: a) Land Space, yaitu faktor produksi yang terdapat pada permukaan bumi; b) Raw Material, yaitu faktor produksi yang terpendam dalam perut bumi; c) Sources of Power, yaitu faktor produksi yang berupa sumber-sumber tenaga alam; d) Atmospheric Condition, yaitu faktor produksi yang berupa keadaan iklim; 2. Tenaga Kerja (Labor/Human Resources), yaitu faktor produksi berupa sumber daya manusia; 3. Modal (Capital Equipment) meliputi : a) Barang-barang modal (Capital Goods) baik yang tahan lama (Durable Goods) dan barang tidak tahan lama (Non Durable Goods), yaitu barang modal yang habis dalam satu kali proses produksi: b) Modal uang (Money Goods), yaitu dana/uang yang tersedia pada undividu/perusahaan yang digunakan untuk memperoleh bermacam-macam alat produksi. 4. Tenaga Ahli (Enterpreneur), yaitu tenaga manusia yang berinisiatif dalam merencana dan mengkoordinir proses produksi serta memikul resiko dan innovation. 1.6.2. Pengertian Konsumsi Pengertian konsumsi adalah segala tindakan manusia dalam hal pemakaian/penggunaan dari pada barang-barang dan jasa-jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang merupakan kebutuhan langsung maupun kebutuhan tidak langsung yang sifatnya mengurangi/menghabiskan utilitas/daya guna barang tsb. Kebutuhan manusia terhadap barang konsumsi disebut dengan Barang Konsumsi (Consumption Goods), yang dibagi kedalam dua kelompok : 1) Barang konsumsi tahan lama (Durable Consumption goods), yaitu barang-barang konsumsi yang dapat dipakai dalam waktu yang lama, seperti lemari, mobil, radio dsb; 2) Barang Konsumsi Tidak Tahan Lama (Non Durable Consumption Goods), yaitu barang konsumsi yang habis sekali konsumsi atau beberapa kali pakai saja, seperti Roti, Nasi; Peranan Konsumer Peranan konsumer ialah dalam bentuk dimana barang-barang yang diproduksi oleh para produsen akan laku dan dibeli oleh konsumer, dipengaruhi oleh tingkah laku konsumen serta jumlah kebutuhan dan kemampuan dana untuk membeli sesuai harga barang bersangkutan. Jadi disatu pihak konsumer dapat menentukan beberapa banyak suatu barang akan terjual pada bermacam-macam tingkat harga dan macam-macam jenis yang dapat terjual dalam suatu pasar. Hal tersebut akan ditentukan oleh pendapatan si konsumer. Apabila pendapatan seorang konsumer naik, maka dia akan menaikkan jumlah barang yang dibeli dan merobah pola konsumsinya atau meningkatkan kualitas barang yang dikonsumsinya, sebaiknya bila pendapatannya menurun, maka dia akan mengurangi jumlah barang yang dikonsumsi atau merobah polanya. Ernest Engle yang dikenal dengan Hukum Engle, disimpulkan bahwa apabila pendapatan masyarakat meningkat, maka produsen pengeluaran atas bahan makanan menjadi lebih kecil, prosentase pengeluaran untuk sewa rumah, bahan bakar listrik masih tetap sama, dan prosentase pengeluaran bahan pakaian masih tetap kira-kira sama serta terjadi kenaikan persentase pengeluaran untuk pendidikan, rekreasi dan hiburan. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pilihan Konsumer Ada empat faktor yang dapat mempengaruhi pilihan konsumer dalam mengkonsumsi suatu barang, yaitu : a) Adat Istiadat (Custom). Umumnya sekumpulan dari masyarakat terdapat kebiasaan tertentu dalam membeli serta memakai/menggunakan barang yang berkaitan dengan adat istiadat tertentu; b) Model (Fashion atau Style). Model dapat mempengaruhi konsumer, karena ada sekelompok masyarakat cenderung untuk meniru model yang dipakai oleh para pemimpin/ orang terkemuka / orang yang mereka kagumi. Atau mempertahankan model yang sedang berjalan saat ini, dan tidak jarang pula model tersebut bertentangan dengan adat istiadat. c) Tingkat Pengetahuan (Lack of Knowledge) Kurangnya pengetahuan tentang keadaan barang, karena banyaknya macam barang yang sejenis, sehingga konsumer kadangkala tidak sanggup melakukan pilihan secara rasional. Bahkan sering terjebak oleh soal harga diri dari pada kualitas barang tersebut. d) Metode Pemasaran (Marketing Method) Yaitu berupa usaha-usaha pihak produsen dalam memperdagangkan hasil produksinya, baik berupa : (1) Periklanan/Reklame (Advertising). (2) Bentuk Bungkus Barang (Packating). (3) Pemberian Kredit (Consumer Credit) (4) Pemotongan Harga (Discount Price)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.