BAB VIII MONOPOLI


 

Dalam bab ini anda akan mempelajari:

· Ciri‑ciri monopoli dan faktor‑faktor yang menimbulkannya.

· Pemaksimuman keuntungan dalam monopoli.

· Apakah monopoli mendapat untung yang berlebihan.

· Keadaan kurva penawaran dalam monopoli.

· Diskriminasi harga dalam monopoli.

· Kebijakan pemerintah dalam monopoli.

· Kebaikan dan kelemahan monopoli.

Struktur pasar yang sangat bertentangan ciri‑cirinya dengan persaingan sempurna adalah pasar monopoli. Monopoli adalah suatu bentuk pasar di mana terdapat satu perusahaan saja. Dan perusahaan ini menghasilkan barang yang tidak mempunyai barang pengganti yang sangat dekat. Biasanya keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan monopoli adalah keuntungan melebihi normal dan ini diperoleh karena terdapat hambatan yang sangat tangguh kepada perusahaan‑perusahaan lain untuk memasuki industri tersebut. Menerangkan bentuk halangan‑halangan ini merupakan salah satu aspek yang dianalisis dalam bab ini. Sebelum itu ciri‑ciri pasar monopoli akan diterangkan.

Perhatian utama dari uraian dalam bab ini akan ditumpukan kepada menerangkan mengenai bagaimana caranya suatu perusahaan monopoli menentukan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan. Seperti juga dengan analisis mengenai pemaksimumkan keuntungan di pasar persaingan sempurna, analisis mengenai hal itu di perusahaan monopoli akan menggunakan dua cara, yaitu:

· Dengan pendekatan biaya total dan hasil penjualan.

· Dengan pendekatan biaya marginal dan hasil penjualan marginal.

8.1.   BEBERAPA ASPEK KHUSUS PASAR MONOPOLI

Sebelum menganalisis kegiatan dan cara menentukan produksi dalam pasar monopoli, dua aspek berikut akan diuraikan dalam bagian ini: (i) ciri‑ciri monopoli, dan (ii) faktor‑faktor yang menggambarkan kemasukan ke pasar monopoli.

8.1.1. Ciri‑Ciri Pasar Monopoli

Ciri‑ciri pasar monopoli sangat berbeda dengan pasar persaingan sempurna. Uraian berikut menerangkan ciri‑ciri monopoli.

Pasar Monopoli Adalah Industri Satu Perusahaan

Hal ini rasanya tidak perlu diterangkan lagi. Sifat ini sudah secara jelas dilihat dari definisi monopoli di atas, yaitu hanya ada satu saja perusahaan dalam industri tersebut. Dengan demikian barang atau jasa yang dihasilkannya tidak dapat dibeli dari tempat lain. Para pembeli tidak mempunyai pilihan lain kalau mereka menginginkan barang tersebut maka mereka harus membeli dari perusahaan monopoli tersebut. Syarat‑syarat penjualan sepenuhnya ditentukan oleh monopoli itu, dan para pembeli tidak dapat berbuat suatu apa pun di dalam menentukan syarat jual beli.

Tidak Mempunyai Barang Pengganti Yang Mirip

Barang yang dihasilkan perusahaan monopoli dapat digantikan oleh barang lain yang ada dalam pasar. Barang tersebut merupakan satu‑satunya jenis barang yang seperti itu dan tidak terdapat barang mirip (close substitute) yang dapat menggantikan barang tersebut. Aliran listrik adalah contoh dari barang yang tidak mempunyai barang pengganti yang mirip. Yang ada hanyalah barang pengganti yang sangat berbeda sifatnya, yaitu lampu minyak. Lampu minyak tidak dapat menggantikan listrik karena, ia tidak dapat digunakan untuk menghidupkan televisi atau memanaskan setrika/ gosokan.

Tidak Terdapat Kemungkinan Untuk Masuk Ke Dalam Industri

Sifat ini merupakan sebab utama yang menimbulkan perusahaan yang mempunyai kekuasaan monopoli. Tanpa sifat ini pasar monopoli tidak akan wujud, karena tanpa adanya halangan tersebut pada akhirnya akan terdapat beberapa perusahaan di dalam industri. Keuntungan perusahaan monopoli tidak akan menyebabkan perusahaan‑perusahaan lain memasuki industri tersebut. Adanya hambatan kemasukan yang sangat tangguh meng­hindarkan berlakunya keadaan yang seperti itu. Ada beberapa bentuk hambatan kemasukan ke dalam pasar monopoli. Ada yang bersifat legal, yaitu dibatasi oleh undang‑undang. Ada yang bersifat teknologi, yaitu teknologi yang digunakan sangat canggih dan tidak mudah di contoh. Dan ada pula yang bersifat keuangan, yaitu modal yang diperlukan sangat besar.

Dapat Mempengaruhi Penentuan Harga

Oleh karena perusahaan monopoli merupakan satu‑satunya penjual di dalam pasar, maka penentuan harga dapat dikuasainya. Oleh sebab itu perusahaan monopoli dipandang sebagai penentu harga atau price setter. Dengan mengadakan pengendalian ke atas produksi dan jumlah barang yang ditawarkan perusahaan monopoli dapat menentukan harga pada tingkat yang dikehendakinya.

Promosi Iklan Kurang Diperlukan

Oleh karena perusahaan monopoli adalah satu‑satunya perusahaan di dalam industri, ia tidak perlu mempromosikan barangnya dengan menggunakan iklan. Pembeli yang memerlukan barang yang diproduksikannya terpaksa membeli dari padanya. Walau bagaimanapun perusahaan monopoli sering membuat iklan. Iklan tersebut bukanlah bertujuan untuk menarik pembeli, tetapi untuk memelihara hubungan baik dengan masyarakat.

8.1.2. Faktor‑Faktor Yang Menimbulkan Monopoli

Terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan wujudnya pasar (perusahaan) monopoli. Ketiga faktor tersebut adalah:

1.  Perusahaan monopoli mempunyai suatu sumber daya tertentu yang unik dan tidak dimiliki oleh perusahaan lain.

2.  Perusahaan monopoli pada umumnya dapat menikmati skala ekonomi (economies of scale) hingga ke tingkat produksi yang sangat tinggi.

3.  Monopoli wujud dan berkembang melalui undang‑undang, pemerintah memberi hak monopoli kepada perusahaan tersebut.

Uraian berikut akan secara lebih terperinci menerangkan ketiga faktor yang baru dinyatakan di atas.

Memiliki Sumber Daya Yang Unik

Salah satu sumber penting dari adanya monopoli adalah pemilikan suatu sumber daya yang unik (istimewa) yang tidak dimiliki oleh orang atau perusahaan lain. Satu contoh yang jelas dalam hal ini adalah “suara emas” dari seorang penyanyi terkenal atau kemampuan bermain yang sangat luar biasa oleh seorang pemain sepak bola. Hanya merekalah yang mempunyai kepandaian tersebut dan harus dibayar lebih mahal dari biasa apabila masyarakat ingin menikmatinya.

Di dalam suatu perekonomian, monopoli juga dapat berlaku apabila sesuatu perusahaan menguasai seluruh atau sebagian besar bahan mentah yang tersedia. Di masa ini contoh dari perusahaan yang masih mempunyai sifat seperti ini adalah perusahaan permata De Beers Company di Afrika Selatan. Hampir semua pertambangan permata yang ada di dunia ini dimiliki oleh perusahaan seperti itu. Pada permulaan abad yang lalu perusahaan Standard Oil Company di Amerika Serikat menguasai hampir seluruh sumber minyak yang ada di negara tersebut. Sampai sebelum Perang Dunia Kedua perusahaan Aluminium Company of America juga mempunyai kekuasaan monopoli. Pada waktu itu hampir semua cadangan bauxite, yaitu bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan alumunium, dimiliki oleh perusahaan itu. Oleh sebab itu Aluminium Company of America dapat menghasilkan barangnya tanpa ada persaingan. Perusahaan air minum di sesuatu kota adalah satu contoh lain dari kekuasaan monopoli yang memiliki sumber daya yang unik.

Dapat Menikmati Skala Ekonomi

Di dalam abad ini perkembangan teknologi sangat pesat sekali, di berbagai kegiatan ekonomi tingkat teknologi adalah sedemikian modernnya sehingga produksi yang efisien hanya dapat dilakukan apabila jumlah produksinya sangat besar dan meliputi hampir seluruh produksi yang diperlukan di dalam pasar. Keadaan seperti ini berarti suatu perusahaan baru menikmati skala ekonomi yang maksimum apabila tingkat produksinya adalah sangat besar jumlahnya. Pada waktu perusahaan mencapai keadaan di mana biaya produksi mencapai minimum, jumlah produksi adalah hampir menyamai jumlah permintaan yang wujud di pasar. Dengan demikian, sebagai akibat dari skala ekonomi yang demikian sifatnya, perusahaan dapat menurunkan harga barangnya apabila produksi semakin tinggi. Pada tingkat produksi yang sangat tinggi, harga adalah sedemikian rendahnya sehingga perusahaan­-perusahaan baru tidak akan sanggup bersaing dengan perusahaan yang terlebih dahulu berkembang. Keadaan ini mewujudkan pasar monopoli.

Suatu industri yang skala ekonominya mempunyai sifat seperti yang diterangkan di atas adalah perusahaan yang dikatakan merupakan monopoli alamiah atau natural monopoly. Monopoli alamiah pada umumnya dijumpai dalam perusahaan jasa umum (utilities) seperti perusahaan listrik, perusahaan air minum, perusahaan telefon, dan perusahaan angkutan kereta api. Di beberapa jenis industri lain skala ekonomi tidak mewujudkan monopoli, tetapi  satu atau beberapa perusahaan memproduksikan barang yang hampir sama jumlahnya dengan yang ditawarkan di pasar. Perusahaan baja, pertambangan minyak, dan industri pembuat mobil adalah contoh‑contoh dari industri semacam itu.

Kekuasaan Monopoli Yang Diperoleh Melalui Peraturan Pemerintah

Di dalam undang‑undang pemerintah yang mengatur kegiatan perusahaan-perusahaan terdapat beberapa peraturan yang akan mewujudkan kekuasaan monopoli. Peraturan‑peraturan yang seperti itu adalah (1) peraturan paten dan hak cipta (copy rights) dan (2) hak usaha eksklusif (exclusive franchise) yang diberikan kepada perusahaan jasa umum.

1. Peraturan patent dan hak cipta Perkembangan ekonomi yang pesat terutama ditimbulkan oleh perkembangan teknologi. Untuk mengem­bangkan teknologi kadang‑kadang diperlukan waktu bertahun‑tahun dan biaya yang sangat besar. Oleh sebab itu kegiatan dan pengeluaran untuk mengembangkan teknologi tidak akan dilakukan perusahaan apabila hasil jerih payah mereka dengan mudah saja dicontoh atau di jiplak oleh perusahaan lain. Apabila tidak ada peraturan yang melarang penjiplakan, tidak ada untungnya bagi perusahaan untuk menciptakan barang‑barang yang lebih baik mutunya, karena dalam waktu yang singkat perusahaan lain akan menirunya. Sebagai akibat dari keadaan seperti ini kemajuan teknologi akan terhambat, dan ini selanjutnya melambatkan jalannya pertumbuhan ekonomi. Agar usaha mengembangkan teknologi dengan tujuan untuk menciptakan barang baru akan memberi keuntungan kepada perusa­haan, haruslah pemerintah melarang dan menghukum kegiatan menjiplak tersebut. Langkah seperti ini dilakukan dengan memberikan hak paten kepada perusahaan yang mengembangkan barang baru.

Hak Cipta atau copy rights adalah juga hak paten, yaitu ia merupakan suatu jaminan hukum untuk menghindari penjiplakan. Tetapi hak cipta adalah khusus diberikan kepada penulis dan komposer/penggubah lagu. Dengan adanya hak cipta tersebut hanya penulis atau penggubah lagu saja yang mempunyai hak ke atas penerbitan buku yang ditulis dan lagu yang digubah.

2. Hak usaha eksklusif Apabila skala ekonomi hanya diperoleh perusahaan setelah perusahaan itu mencapai tingkat produksi yang sangat tinggi, kepentingan khalayak ramai  akan dimaksimumkan apabila perusahaan diberi kesempatan untuk menikmati skala ekonomi itu, dan pada waktu yang sama diharuskan menjual produksinya dengan harga yang rendah. Untuk menciptakan. keadaan seperti ini secara serentak pemerintah harus menjalankan dua langkah: (i) memberikan hak monopoli kepada suatu perusahaan dalam suatu kegiatan tertentu, dan (ii) menentukan harga/tarif yang rendah ke atas barang/jasa yang diproduksikan. Contoh perusahaan seperti ini adalah perusahaan air minum, penerbangan dah angkutan kereta api.

Tanpa adanya hak eksklusif untuk berusaha sebagai perusahaan monopoli akan timbul halangan untuk menikmati skala ekonomi secara maksimum. Sebagai akibatnya setiap perusahaan akan menetapkan harga/tarif yang tinggi ke atas barang/jasa yang dihasilkannya. Keadaan seperti ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat, karena mereka harus membayar produksi perusahaan itu dengan harga yang tinggi. Hak eksklusif yang menjamin adanya perusahaan tunggal dalam pasar belum menjamin bahwa harga ditetapkan pada tingkat yang rendah. Walaupun perusahaan tersebut dapat mengecap skala ekonomi dengan sepenuhnya, yang menyebabkan biaya produksi berada pada tingkat yang sangat rendah, belum tentu perusahaan akan menjual hasil produksinya pada harga yang rendah. Untuk menghindari agar perusahaan tidak mengambil tindakan yang seperti itu pemerintah, di samping memberikan hak monopoli, akan mene­tapkan harga/tarif penjualan dari barang/jasa yang disediakan perusahaan tersebut. Dengan cara ini dapatlah kepentingan para konsumen dilindungi, yaitu para konsumen dapat membeli barang yang dihasilkan perusahaan monopoli pada tingkat harga yang relatif rendah.


8.2.   PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN DALAM MONOPOLI

Dalam menggambarkan prinsip    penentuan pemaksimuman keuntungan dalam monopoli dua cara akan digunakan, yaitu dengan menggunakan cara ini akan angka-angka dap secara grafik. Untuk masing‑masing ditunjukkan prinsip penentuan pemaksimuman keuntungan berdasarkan pendekatan (i) biaya total dan hasil penjualan total dan (ii) biaya marginal dan hasil penjualan marginal. Sebelum melaksanakan hal‑hal tersebut terlebih  dahulu akan dilihat hubungan di antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan/diproduksikan, dan implikasi dari sifat hubungan tersebut kepada hasil penjualan total.

8.2.1. Produksi, Harga Dan Penjualan

Telah dinyatakan bahwa dalam monopoli hanya ada satu perusahaan dalam pasar. Oleh karenanya permintaan dalam industri adalah juga permintaan ke atas produksi perusahaan monopoli tersebut. Telah diterangkan sifat umum dari permintaan barang‑barang, yaitu: makin tinggi harga sesuatu barang, makin sedikit jumlah yang diminta. Sifat ini menyebabkan kurva permintaan ke atas suatu barang adalah bersifat menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Permintaan ke atas produksi monopoli tidak menyimpang dari sifat umum ini. Berarti suatu monopoli akan dapat memperoleh harga penjualan yang tinggi apabila produksinya sedikit, dan harga penjualan semakin rendah apabila produksi semakin banyak.

Dalam menerangkan mengenai persaingan sempurna telah dijelas­kan bahwa permintaan bersifat elastis sempurna (yaitu kurva permintaan adalah sejajar dengan sumbu datar) dan sebabnya adalah karena berapa pun produksi yang dijual perusahaan, harga tidak berubah. Sebagai akibatnya harga = hasil penjualan marginal – yaitu P = MR. Permintaan yang dihadapi oleh monopoli adalah berbeda dengan yang dihadapi oleh suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Sebagai akibatnya dalam monopoli, seperti akan diterangkan di bawah ini, harga selalu lebih tinggi dan hasil penjualan marginal.

Contoh angka

Untuk lebih memahami sifat hubungan di antara jumlah produksi, harga, hasil penjualan total, dan hasil penjualan marginal, di dalam Tabel 8.1 dikemukakan suatu contoh hipotesis mengenai hal tersebut. Sesuai dengan sifat permintaan ke atas produksi monopoli seperti yang telah diterangkan di atas, dalam Tabel 8.1 ditunjukkan bahwa semakin besar jumlah produksi (perhatikan kolom 1), semakin rendah harga barang (perhatikan kolom 2). Bagaimana implikasi dari keadaan tersebut ke atas hasil penjualan total dan marginal berturut‑turut ditunjukkan dalam kolom (3) dan (4). Hasil penjualan total, seperti telah ketahui, adalah jumlah produksi x harga, maka nilainya diperoleh dari mengahkan angka dalam kolom (1) dengan angka dalam kolom (2). Sesuai dengan definisi hasil penjualan marginal, yaitu tambahan hasil penjualan total apabila penjualan bertambah sebanyak 1 unit, angka dalam kolom (4) diperoleh dari menggunakan persamaan TR0 – TR0-1. Sebagai contoh TR1 (TR pada waktu jumlah produksi adalah 1) adalah Rp 18.000, sedangkan TR2 adalah =                Rp 32.000. Maka MR akibat dari kenaikan produksi dari menjadi 2 unit adalah Rp 32.000 ‑ Rp 18.000 = Rp 14.000. Angka‑angka dalam kolom (4) dihitung dengan cara ini.

TABEL. 8.1

Produksi, Harga dan Hasil Penjualan

(dalam ribu Rupiah)

Produksi

(1)

Harga

(2)

Hasil penjualan

total

(3)

Hasil penjualan

marginal

(4)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

0

0

18

32

42

48

50

48

42

32

18

0

18

14

10

6

2

-2

-6

-10

-14

-18

Perhatikanlah dengan lebih saksama angka‑angka hasil penjualan total yang terdapat dalam kolom (3). Sampai produksi sebanyak 5 unit hasil penjualan total terus menerus bertambah, tetapi pertambahannya adalah pada tingkat (jumlah) yang semakin berkurang. Nilai dari pertambahan hasil penjualan total yang semakin berkurang tersebut ditunjukkan dalam kolom (4). Sesudah unit ke‑5, pertambahan produksi selanjutnya akan mengurangi hasil penjualan total yang berarti hasil penjualan marginal (atau pertambahan hasil penjualan total) nilainya adalah negatif.

Kesimpulan

Berdasarkan kepada gambaran yang ditunjukkan dalam Tabel 8.1 dapat dibuat dua kesimpulan penting seperti yang dinyatakan di bawah ini. Apabila harga barang menjadi semakin menurun pada waktu jumlah produksi semakin meningkat, maka:

· Hasil penjualan total akan mengalami pertambahan, tetapi pertambahan itu semakin berkurang apabila produksi bertambah banyak. Setelah mencapai satu tingkat produksi tertentu pertambahannya akan menjadi negatif.

· Pada umumnya basil penjualan marginal nilainya adalah lebih rendah rendah daripada harga. Hanya pada waktu produksi mencapai satu unit hasil penjualan marginal = harga.

8.2.2. Pemaksimuman Keuntungan Contoh Angka

Sifat‑sifat biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan monopoli di dalam jangka pendek tidak berbeda dengan sifat‑sifat biaya produksi jangka pendek yang telah diterangkan dalam Bab Sepuluh. Di atas baru saja dijelaskan sifat permintaan, harga, hasil penjualan total dan hasil penjualan marginal dari suatu perusahaan monopoli. Dengan demikian sekarang telah dapat dikumpulkan informasi yang cukup untuk menerangkan tentang prinsip penentuan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan dalam perusahaan monopoli. Hal tersebut akan diuraikan melalui dua pendekatan dengan pertolongan contoh dalam angka‑angka. Contoh angka yang dimaksud dikemukakan dalam Tabel 8.2 dan Tabel 8.3.

Pendekatan Hasil Penjualan Total ‑ Biaya Total

Pendekatan ini akan diterangkan dengan menggunakan Tabel 8.2, yang membandingkan data hasil penjualan total dengan biaya total. Melalui perbandingan tersebut dapatlah ditentukan keuntungan yang diperoleh, atau kerugian yang dialami, pada berbagai tingkat produksi.

Data jumlah produksi, harga dan hasil penjualan total pada Tabel 8.2 adalah sama dengan dalam Tabel 8.1. Berturut‑turut data tersebut ditunjukkan dalam kolom (1), (2) dan (3). Dalam kolom (4) ditunjukkan data biaya total. Data yang hipotetis tersebut dibuat dengan menggunakan pemisalan berikut :

· Biaya tetap total adalah Rp 4.000. Berdasarkan pemisalan ini maka apabila perusahaan tidak beroperasi  yang berarti jumlah produksi adalah 0, biaya total adalah Rp 4.000.

· Sehingga produksi 4 unit hukurn hasil lebih yang semakin berkurang belum berlaku. Berarti biaya marginal semakin rendah, apabila produksi ditambah. Keadaan ini digambarkan oleh kenaikan biaya total yang semakin sedikit. Data dalam Tabel 8.2 jelas menunjuk­kan keadaan tersebut apabila produksi dinaikkan dari 0 ke 1, dari 1 ke‑2, dari 2 ke 3 dan dari 3 ke 4.

· Sesudah produksi mencapai 4 unit, hukum hasil lebih yang semakin berkurang berlaku. Sebagai akibatnya biaya marginal meningkat dan ini dapat dilihat dari pertambahan biaya total yang semakin meningkat pada setiap penambahan satu unit produksi.

TABEL. 8.2

Hasil Penjualan Produksi dan Keuntungan

(Dalam ribu Rupiah)

Produksi

(1)

Harga

(2)

Hasil penjualan

total

(3)

Biaya total

(4)

Keuntungan

(5)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

20

18

16

14

12

10

8

6

4

2

0

0

18

32

42

48

50

48

42

32

18

0

4

16

26

34

40

46

54

64

76

90

106

2

8

8

8

4

-6

-22

-44

-72

-106

Dengan adanya data mengenai hasil penjualan total dan biaya total seperti yang diterangkan di atas sekarang dapat ditentukan tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan.

Perhatikan data dalam kolom (5). Data tersebut dihitung dengan formula berikut: Keuntungan = Hasil penjualan total dikurangi biaya total. Data dalam kolom (5) menunjukkan bahwa keuntungan maksimum dicapai pada produksi sebanyak 3 atau 4 unit dan jumlah keuntungan adalah Rp 8.000. Walaupun demikian, dalam analisis yang bersifat umum, akan selalu dikatakan bahwa perusahaan monopoli tersebut akan memproduksikan 4 unit untuk memaksimumkan keuntungan. Sebab dari kesimpulan ini telah diterangkan dalam bab yang lalu dan akan dilihat kembali dalam pendekatan penentuan keuntungan dengan menggunakan pendekatan: MC = MR.

Pendekatan Hasil Penjualan Marginal ‑ Biaya Marginal

Untuk menerangkan pendekatan ini terlebih dahulu perlu dihitung hasil penjualan marginal dan biaya marginal. Data tersebut dikemukakan dalam          Tabel 8.3.

TABEL. 8.3

Menentukan Keuntungan Dengan Pendekatan MC = MR

(Dalam ribu Rupiah)

Jumlah

produksi

(1)

Harga penjualan

marginal

(2)

Tambahan biaya

(MC=TC2 – TC1)

(3)

Tambahan

keuntungan

(4)

Jumlah keuntungan / kerugian

(5)

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

18

14

10

6

2

-2

-6

-10

14

-18

4

16-4=12

26-16=10

34-26=8

40-34=6

46-40=6

54-46=8

64-54=12

76-64=12

90-76=14

106-90=16

6

4

2

0

-4

-10

-16

-22

-28

-34

-4

2

6

8

8

4

-6

-22

-44

-72

-106

Data hasil penjualan marginal yang ditunjukkan dalam kolom (2) diambil dari data yang sama dalam kolom (4) dari Tabel 12.1. Data dalam kolom (3) dihitung dengan formula berikut MC = TC2 – TC1. Data mengenai biaya total (TC) diambil dari Tabel 12.2, kolom (4). Berdasarkan kepada data dalam kolom (2), (3) dan (4) dapat ditunjukkan tambahan keuntungan pada setiap tingkat produksi. Apabila perusahaan tidak memproduksikan barang, biaya yang ditanggung perusahaan adalah Rp 4.000 dan ini meliputi biaya tetap yang mempengaruhi keuntungan. Oleh sebab itu dalam kolom (3) data tersebut dihitung sebagai “biaya marginal”.

Berdasarkan data dalam kolom (4) dalam (5) ditentukan jumlah keuntungan pada berbagai tingkat produksi. Data dalam kolom (3) jelas menunjukkan bahwa keuntungan maksimum tercapai pada tingkat produksi 3 atau 4 unit. Namun demikian dalam analisis dikatakan perusahaan itu akan memproduksi 4 unit untuk memaksimumkan keuntungan karena pada tingkat produksi tersebut MC = MR, yaitu masing‑masing bernilai Rp 6.000.

8.2.3. PEMAKSIMUMAN KEUNTUNGAN SECARA GRAFIK

Dalam bagian ini akan diterangkan pemaksimuman keuntungan dalam perusahaan monopoli dengan menggunakan pendekatan secara grafik. Seperti dalam analisis sebelumnya, penentuan produksi yang akan memaksimumkan untung dapat dilakukan dengan dua cara berikut: (i) pendekatan hasil penjualan total‑biaya total, dan (ii) pendekatan biaya marginal ‑ hasil penjualan marginal. Sebelum cara ini dapat diterangkan terlebih dahulu perlu dilihat ciri perkaitan di antara kurva permintaan (D = AR), kurva hasil penjualan total (TR) dan kurva hasil penjualan marginal (MR). Untuk membuat analisis ini perhatikan              Gambar 8. l.

Kurva Permintaan, Penjualan Total dan Penjualan Marginal

Kurva hasil penjualan total (TR), kurva hasil penjualan rata‑rata (D=AR), dan kurva hasil penjualan marginal (MR) dalam Gambar 8.1 dibuat berdasarkan data dalam Tabel 8.1. Sampai kepada jumlah produksi sebanyak 5 unit hasil penjualan total terus mengalami kenaikan, dan kenaikan tersebut adalah pada tingkat yang semakin menurun. Sesudah jumlah produksi mencapai 6 unit hasil penjualan total semakin berkurang. Pada waktu jumlah produksi adalah 10 unit, hasil penjualan total adalah nol.

Hasil penjualan total yang seperti itu sifatnya, apabila digambarkan, adalah seperti yang ditunjukkan oleh kurva TR dalam Gambar 8.1 (i), yaitu berbentuk huruf U yang terbalik. Kurva TR akan selalu berbentuk seperti itu di dalam keadaan di mana kurva permintaan DD adalah seperti yang terdapat pada Gambar 8.1 (ii), yaitu yang menggambarkan bahwa kalau harga semakin rendah maka jumlah yang diminta semakin banyak. Telah diterangkan bahwa sepanjang kurva permintaan berlaku sifat berikut: (i) apabila elastisitas permintaan < 1 maka penurunan harga akan mengurangi  hasil penjualan (ii) apabila elastisitas permintaan >1 penurunan harga akan menambah hasil penjualan. Berdasarkan kepada sifat ini, kalau diperhatikan sifat perhubungan di antara kurva permintaan DD dan kurva TR pada Gambar 8.1, dapat dibuat kesimpulan yang berikut:

· Karena OA menggambarkan hasil penjualan total yang semakin bertambah pada harga yang semakin menurun, maka bagian kurva permintaan DD yang terletak di bagian atas titik C (lihat grafik ii) mempunyai elastisitas  permintaan > 1.

· Karena AB menggambarkan hasil penjualan total yang semakin berkurang pada harga yang semakin menurun, maka bagian kurva permintaan yang terletak. di bagian yang lebih ke bawah dari titik C mempunyai elastisitas permintaan < 1.

· Pada titik C elastisitas permintaan adalah satu atau uniter.

GAMBAR. 8.1

Kurva Hasil Penjualan Total, Rata-rata dan Marginal

 

Menentukan Keuntungan Maksimum

Di dalam Gambar 8.2 dan Gambar 8.3 ditunjukkan cara menentukan keuntungan maksimum firma monopoli secara grafik. Di dalam Gambar 8.2 keuntungan maksimum firma ditentukan dengan menggunakan bantuan kurva hasil penjualan total dan biaya total. Sedangkan dalam Gambar 8.3 keuntungan maksimum tersebut ditentukan dengan meng­gunakan pertolongan kurva biaya marginal dan hasil penjualan marginal.

Kurva TR dalam Gambar 8.2 menggambarkan hasil penjualan total, dan kurva TC menggambarkan kurva biaya total. Di sebelah kiri dari titik A, dan di sebelah kanan dari titik B, kurva TC berada di atas kurva TR. Keadaan ini berarti biaya total melebihi hasil penjualan total, yaitu kedudukan yang merugikan perusahaan. Keuntungan hanya akan dinikmati apabila TR ‑ TC > 0, dan ini berlaku di antara titik A dan B. Perbedaan di antara TR dan TC adalah paling maksimum apabila garis tegak di antara kurva TR dengan TC adalah yang paling panjang. Oleh karena CD merupakan jarak TR dan TC yang paling panjang, maka tingkat produksi yang akan memaksimumkan keuntungan adalah 4 unit.

GAMBAR. 8.2

Penjualan Total, Biaya Total dan Keuntungan

 

Gambar 8.3 menunjukkan cara untuk menentukan tingkat produksi di mana keuntungan maksimum dicapai dengan menggunakan pendekatan hasil penjualan marginal sama dengan biaya marginal (MR = MC). Kurva AC, MC, D = AR, MR dibuat berdasarkan kepada bentuk kurva ‑ kurva tersebut seperti yang diterangkan dalam bab‑bab yang lalu dan uraian sebelum ini. Seterusnya telah diterangkan bahwa keuntungan maksimum dapat ditentukan dengan melihat pada tingkat produksi yang mana keadaan  MR = MC wujud. Kurva MR dan MC berpotongan pada waktu tingkat produksi sebanyak Q unit. Hasil penjualan total adalah OP x OQ, atau sama dengan OPAQ. Sedangkan biaya total adalah OC x OQ, atau sama dengan OCBQ. Dengan demikian keuntungan maksimum ditunjukkan oleh kotak PABC.

GAMBAR. 8.3

Hasil Penjualan Marginal, Biaya Marginal,

Dan Keuntungan Maksimum

 

>(DD) dan penawaran (SS) di dalam pasar persaingan sempurna. Dengan demikian harga adalah Ps dan jumlah barang yang diperjualbelikan di pasar adalah Qs. Telah diterangkan bahwa (i) kurva penawaran pasar persaingan sempurna adalah gabungan kurva biaya marginal perusahaan­-perusahaan, dengan demikian SS = ΣMC, dan (ii) setiap perusahaan memperoleh keuntungan normal, berarti harga adalah sama dengan biaya produksi per unit yang paling minimum.

GAMBAR. 8.8

Perbandingan Efisiensi Monopoli

Dan Persaingan Sempurna (Biaya Sama)

 

Seterusnya misalkan seluruh perusahaan dalam persaingan sempurna bergabung dan menjadi satu perusahaan monopoli. Dalam gabungan ini dimisalkan juga bahwa biaya produksi tidak mengalami perubahan. Oleh sebab itu kurva SS sama dengan ΣMC dari pasar persaingan sempurna sekarang berubah menjadi kurva biaya marginal perusahaan monopoli (SS = MC.). Perubahan ini ditunjukkan dalam Gambar 8.8 (ii). Gambar tersebut menunjukkan keadaan sebelum dan sesudah perusahaan monopoli diwujudkan. Harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan sebelum perusahaan‑perusahaan bergabung berturut‑turut adalah Ps dan Qs.

Sesudah perusahaan‑perusahaan itu menjadi perusahaan monopoli harga tidak sama dengan hasil penjualan marginal. Dengan permintaan pasar seperti DD, hasil penjualan marginal adalah MR. Maka perusahaan mono­poli akan memaksimumkan keuntungan apabila jumlah produksi adalah Qm. Pada tingkat produksi ini harga akan mencapai Pm.

Berdasarkan perbandingan antara keadaan di pasar persaingan sempurna dan monopoli yang diterangkan dengan menggunakan Gambar 8.8 dapat diambil beberapa kesimpulan seperti yang dinyatakan di bawah

· Persaingan sempurna menggunakan sumber‑sumber daya dengan lebih efisien dari monopoli. Dalam monopoli P lebih besar dari MC sedangkan dalam persaingan sempurna Ps = MC.

· Harga dalam monopoli lebih tinggi dan barga dalam pasar persaingan sempurna.

· Jumlah produksi dalam pasar persaingan sempurna lebih tinggi daripada dalam monopoli.

· Biaya produksi per unit dalam monopoli adalah lebih tinggi daripada dalam persaingan sempurna. Dalam persaingan sempurna perusahaan hanya memperoleh untung normal, berarti biaya produksi per unit sama dengan Ps. Karena dimisalkan kurva biaya untuk pasar persaingan sempurna adalah sama dengan kurva biaya monopoli, maka Ps adalah biaya rata‑rata yang paling rendah dalam perusahaan mono­poli. Biaya per unit sebesar itu akan dibelanjakan monopoli apabila produksi adalah sebesar Qs. Tetapi monopoli memproduksikan Qm maka biaya produksinya per unit harus lebih tinggi        dari Ps.

2. Biaya produksi berbeda Kesimpulan‑kesimpulan dalam analisis sebelum ini hanyalah benar apabila dianggap kurva biaya produksi di pasar persaingan sempurna adalah sama dengan di dalam monopoli. Sekiranya monopoli dapat menikmati skala ekonomi sehingga ke tingkat produksi yang sangat tinggi, kurva biaya rata‑rata akan berbeda dari yang dimisalkan di atas. Besar kemungkinan ia berada di bawah kurva biaya rata‑rata dari pasar persaingan sempurna. Walaupun produksi telah mencapai Qs biaya produksi rata‑rata masih tetap menurun. Apabila kurva biaya produksi rata-rata mempunyai sifat seperti itu, kurva MC‑nya akan terletak di sebelah kanan dari MC dalam pasar persaingan sempurna. Sebagai akibat dari keadaan seperti ini, perusahaan monopoli mungkin akan memproduksi lebih banyak dan harga juga lebih rendah dari dalam pasar persaingan sempurna.

Dalam Gambar 8.9 ditunjukkan efek dari biaya produksi yang berbeda di antara pasar persaingan sempurna dan monopoli terhadap harga dan jumlah produksi dalam monopoli. Kurva DD menggambarkan permintaan di kedua pasar, MC adalah biaya marginal di kedua pasar apabila dimisalkan biaya produksi adalah sama, dan MR adalah hasil penjualan marginal dalam pasar monopoli. Dengan demikian maka (i) produksi dan harga di persaingan sempurna adalah Qs dan Ps, dan (ii) produksi dan harga di monopoli adalah Qm dan Pm.

GAMBAR. 8.9

Perbandingan Efisiensi Monopoli dan Persaingan

Sempurna Apabila Biaya Berbeda

 

Selanjutnya sekarang dimisalkan monopoli dapat menikmati skala ekonomi (misalnya sebagai akibat kemajuan teknologi dan inovasi) sehingga kurva biaya berubah menjadi AC1 dan MC1. Kurva LRAC dan LRMC menggambarkan kurva biaya jangka panjang. (Catatan: skala ekonomi berlaku dalam jangka panjang). Keuntungan yang maksimum akan dicapai monopoli apabila memproduksi sebanyak Qn dan pada tingkat produksi itu harga pasar akan mencapai Pn. Ini menunjukkan bahwa (i) harga dalam pasar monopoli lebih rendah dari dalam pasir persaingan sempurna, dan (ii) jumlah. produksi dalam pasar monopoli adalah lebih besar.

8.7.2. Perkembangan Teknologi Dan Inovasi

Terdapat pertentangan di antara ahli‑ahli ekonomi di dalam menilai apakah monopoli memberi perangsang dalam mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi. Sebagian ahli ekonomi berpendapat perkembangan teknologi dan inovasi akan terhambat apabila terdapat kekuatan monopoli. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa monopoli akan memberi dorongan kepada perkembangan teknologi dan inovasi. Alasan‑alasan dari masing‑masing pendapat ini diterangkan di bawah ini.

Pandangan I: Monopoli Tidak Merangsang Inovasi

Golongan yang berpendapat bahwa monopoli tidak merangsang perkembangan teknologi dan inovasi melandaskan keyakinannya kepada pandangan bahwa ketiadaan persaingan menimbulkan keengganan kepada monopoli untuk melaksanakan perubahan. Tanpa adanya persaingan monopoli tidak perlu gelisah akan kehilangan pasar dan mengalami kerugian karena perusahaan lain tidak akan masuk ke dalam industri tersebut. Maka selama ia tidak diperlukan, perubahan dalam teknologi dan inovasi tidak akan dilakukan oleh monopoli. Keengganan melakukan perubahan disebabkan juga karena perkembangan teknologi dan inovasi mungkin menimbulkan pengorbanan yang besar kepada monopoli, yaitu berupa pengeluaran untuk membeli mesin dan peralatan yang baru, dan harus mempercepat penyusutan mesin clan peralatan yang lama. .

Pandangan II Monopoli Merangsang Inovasi

Golongan yang berpendapat bahwa monopoli akan mendorong perkem­bangan teknologi dan inovasi didasarkan kepada dua alasan berikut:

· Perkembangan teknologi dan inovasi adalah suatu cara untuk mengurangi biaya per unit dan meninggikan keuntungan. Dan seperti telah ditunjukkan dalam Gambar 12.9, bersamaan dengan keuntungan yang bertambah tinggi tersebut juga harga dapat diturunkan dan jumlah produksi diperbanyak. Berarti kemajuan teknologi bukan saja menambah keuntungan perusahaan tetapi juga kesejahteraan masyarakat.

· Memiliki teknologi yang lebih baik dari perusahaan lain adakalanya merupakan sumber dari terwujudnya monopoli Dengan demikian. untuk perusahaan ‑ perusahaan yang memperoleh kekuasaan mono­poli dengan cara itu, mengadakan penyelidikan dan mengembang­kan teknologi secara terus‑menerus merupakan syarat penting untuk mempertahankan kekuasaan monopolinya.

8.7.3. Monopoli Dan Kesejahteraan Masyarakat

Telah diterangkan bahwa dalam monopoli terdapat kemungkinan, berlakunya keadaan berikut: harga akan lebih tinggi, jumlah produksi lebih rendah, dan keuntungan lebih besar daripada dalam pasar persaingan sempurna Berdasarkan kepada kemungkinan ini kebanyakan ahli ekonomi berpendapat bahwa monopoli menimbulkan akibat yang buruk ke atas kesejahteraan masyarakat dan distribusi pendapatan menjadi lebih tidak merata. Monopoli akan memperoleh keuntungan yang lebih dari normal, dan ini akan dinikmati oleh pengusaha monopoli dan pemegang‑pemegang sahamnya. Mereka pada umumnya terdiri dari penduduk yang berpendapatan tinggi atau menengah. Para pekerja, yang merupakan golongan yang relatif miskin, tidak akan memperoleh sesuatu apa pun dari keuntungan monopoli yang lebih tinggi dari keuntungan nominal tersebut.

Tanpa ada hak eksklusif untuk berusaha sebagai perusahaan monopoli, akan wujud kemungkinan berlakunya keadaan di mana beberapa perusahaan baru pada akhirnya beroperasi dalam pasar. Dalam keadaan seperti itu pasaran telah berubah menjadi oligopoli. Ini menyebabkan setiap perusahaan tidak dapat menikmati skala ekonomi secara maksimum. Maka setiap perusahaan akan menetapkan harga/tarif yang tinggi ke atas barang/jasa yang dihasilkannya. Keadaan seperti ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat, karena mereka harus membayar dengan harga yang tinggi tersebut.

Hak eksklusif yang menjamin adanya perusahaan tunggal dalam pasar belum menjamin bahwa harga ditetapkan pada tingkat yang rendah. Walaupun perusahaan tersebut dapat mengecap skala ekonomi dengan sepenuhnya, yang menyebabkan biaya produksi berada pada tingkat yang rendah sekali, belum tentu perusahaan akan menjual hasil produksinya dengan harga yang rendah. Sadar bahwa ia mempunyai kekuasaan monopoli mungkin menyebabkan ia akan menetapkan harga yang tinggi juga. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah, di samping memberikan hak monopoli, akan menetapkan harga/tarif penjualan dari barang/jasa yang disediakan perusahaan tersebut. Dengan cara ini dapatlah kepentingan para konsumen dilindungi, yaitu para konsumen dapat membeli barang yang dihasilkan perusahaan monopoli pada tingkat harga yang relatif rendah.

6 Tanggapan

  1. gue mau bkn makalah

  2. sayang gambar kurva nya kuq gx da???????????
    cape de

  3. mazzzz,,kok gmbar kurva.na gk muncul sii???

  4. mau tanya, kenapa natural monopoly bagus untuk jangka panjang?

  5. bagus, jelas,
    tapi kurang kelebihan ma kelemahannya.
    thanx yya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: